Rindu Alexa

Rindu Alexa
Terluka


__ADS_3

Alexa membantu Zoya mengemas kue pesanan yang akan diantar logistik. Hari ini, dia membantu mamanya yang kebanjiran pesanan. Sejak kedai ice cream Hanum dibuka. Toko kue Zoya ikut ramai juga oleh pembeli.


"Mah, sepertinya kita perlu menambah lahan." ujar Alexa sedari tadi memperhatikan bertambahnya karyawan dan ruang parkir kendaraan yang yang tidak teratur.


"Iya, kemarin Papa juga sudah menyarankan tanah di belakang dibangun lagi sebagai tempat produksi. Dan sebelah yang semula tempat produksi untuk perluasan area toko atau buat kedainya Hanum." jawab Zoya, sebelum melihat Hans sudah sampai di ruang belakang. Tapi, saat melihat lelaki yang menjadi kadang pahalanya itu , Zoya pun berjalan menghampiri suaminya yang sudah duduk dan nampak lelah.


"Mas Hans mau makan siang?" tanya Zoya dengan mencium punggung tangan suaminya.


"Aku mau Salat Dhuhur, dulu!" jawab Hans dengan membuka lengan kancingnya dan melipat lengan kemejanya.


"Mas, apa kata Bang Rey jika Kak Ale dekat dengan cowok itu?" tanya Zoya dengan serius.


"Rey tidak begitu faham soal kehidupan pribadi pemuda itu, Zoy. Dulu, memang saat peresmian salah satu cabang hotelnya, Shakti pernah membawa kekasihnya. Tapi, saat ini Rey akan mastikan sendiri, apa hubungan mereka masih atau tidak." ucap Hans kemudian beranjak berdiri. Dia menatap Istrinya yang terlihat cemas.


"Semoga tidak ada yang niat buruk pada putri kita, Mas." suara Zoya terdengar lirih tapi hatinya begitu kuat memohon kepada Allah.


"Jangan terlalu khawatir! Rey, pasti akan tahu secepatnya." ucap Hans kemudian mencium puncak kepala Zoya sebelum pergi mengambil air wudhu.


Zoya menatap Alexa yang kini tengah duduk, dengan menatap ponselnya. Terlihat senyum manis Alexa membuat Zoya berharap senyum itu tidak akan pernah luntur dari bibir mungil putrinya.


Suara gaduh membuat Zoya menoleh ke arah kedai Hanum. Kedai memang nampak sudah ramai, terlihat Dira membawa banyak teman untuk mampir. Gadis itu sebenarnya cukup penurut tapi dia seperti tidak punya tujuan untuk hidupnya.


Zoya berjalan menghampiri Dira dan Hanum yang berada di meja kasir. Kali ini, Dira persiapan menggantikan Kirey yang sedang duduk di meja kasir. Gadis itu akan pergi ke kampus siang ini.


"Kalian sudah makan?" tanya Zoya saat berada di dekat mereka.


"Sudah Tante." jawab Kirey sama Dira hampir bersamaan. Hanum masih terlihat fokus dengan tugasnya kuliahnya.


"Sudah Salat Duhur? " lanjut Zoya.


"Sudah." jawab Kirey dengan cepat. Sedangkan Dira hanya menggeleng. Kirey pun mulai membereskan buku kuliahnya ke dalam tas dan memoleskan make tipis tipis di wajah imutnya.


"Loh kenapa Sayang?" tanya Zoya dengan mendekati Dira.

__ADS_1


"Lupa caranya Salat, Tan." ujar Dira dengan biasa saja. Gadis itu memang tidak pernah salat selama ini.


"Kita bisa belajar lagi kalau lupa." ucap Zoya dengan menggenggam tangan gadis yang mengenakan dress pendek itu dengan lembut.


Dira melirik tangannya yang digenggam Zoya. Ada kehangatan di setiap sentuhan wanita yang tidak pernah meninggalkan senyumnya itu.


"Tante kenapa peduli?" Zoya yang akan melepaskan genggamannya itu pun terhenti.


Dira sebenarnya sedang merindukan mamanya, keluarganya. Tapi mereka terlalu sibuk dengan urusan mereka masing masing.


"Ehem, Dir, kirey, besok kita ngumpul untuk menambahkan menu kopi di kedai kita. Aku sudah ada barista." suara Hanum membuat Kirey dan Dira pun menoleh. Kedua rekannya itu pun mengacungkan jempol mereka pada ide Hanum. Iya, Hanum memang cerdas tapi juga yang paling frontal dan keras seperti Hans.


"Ya sudah, Tante akan menyiapkan makan Om Hans dulu ya!" pamit Zoya saat melihat suaminya selesai Salat Zuhur dan berjalan menuju sofa santai.


Hans memang selalu Salat Dhuhur dan makan siang di toko kue. Dengan alasan, dia bisa berhemat dan melihat anak istrinya di sela waktu luangnya. Terdengar begitu mengenaskan untuk lawyer sekelas Hans jika harus berhemat untuk makan siang. Tapi, sebenarnya dia hanya ingin selalu berada diantara keluarganya. Memperhatikan anak anak mereka yang sedang mencari jati dirinya.


"Itu si Kirey kenapa tidak berjilbab, kapan hari dia berjilbab kelihatan lebih cantik." ucap Hans dengan menyuapkan makanannya ke dalam mulut.


Hans melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. Sudah pukul dua, lelaki yang masih terlihat gagah dan segar itu pun memutuskan untuk kembali ke kantor.


"Aku akan balik ke kantor. Oh ya, nanti aku pulang agak malam ya!" Hans memberi tahu Zoya agar tidak menunggunya.


Lelaki bertubuh tinggi itu pun beranjak dari duduknya. Dia juga sedari tadi melirik putri sulungnya yang terlihat asyik di dalam toko bersama Mbak Lita.


"Al, kamu ada acara?" tanya Hans saat melewati Alexa dan Lita.


"Kenapa, Pa?" Alexa balik bertanya karena rencananya dia akan bertemu dengan Shakti sore Nanti.


"Papa minta tolong ambilkan Map warna biru di meja kerja Papa yang ada di apartemen." ujar Hans.


"Oh iya, Pa. Nanti, Alexa ambilkan." jawab Alexa.


Hans pun kembali berjalan ke arah mobilnya yang di parkir. Dia melihat kedai ice cream terlihat ramai sekali, putri kesayangannya memang berbakat sebagai bisnis women. Tentu saja Hans cukup bangga pada bungsunya itu.

__ADS_1


"Aku balik dulu!" pamit Hans diiringi Zoya yang langsung bersalaman.


"Mas Hans hati hati ya!" Zoya melambaikan tangan ke arah mobil yang mulai mundur untuk keluar dari halaman toko.


###


Di dalam mobil, Alexa melihat kembali ponselnya, tapi belum juga ada balasan dari Shakti. Bahkan, pesannya tidak dibaca oleh sang kekasih.


Alexa menyimpan kembali ponselnya ke dalam. tas, dia berharap Shakti segera membacanya karena dia memundurkan jam untuk bertemu.


Alexa segera melajukan mobilnya menuju apartemen papanya. Sudah lama dia tidak pergi ke sana.


Dia kembali melihat ponselnya tapi belum juga di baca oleh Shakti.


"Kamu lagi ngapain sih, Mas." gumam Alexa. dia takut akan telat dan membuat Shakti menunggunya. Tapi, dia berfikir jika lelaki itu sedang ada rapat penting.


Gadis cantik dengan kulit putih itu melangkah dengan riangnya. Bisa terlihat dari bibir mungilnya yang mengulum senyum tipis dan mata yang berbinar indah. Dia memang sangat bahagia sebentar lagi dia akan bertemu lelaki yang sudah menambatkan rasa rindu yang begitu lekat di hatinya.


Kini gadis yang melirik jama tangannya itu menunggu lift terbuka untuk membawanya ke lantai empat belas.


"Ayolah...!" lirihnya dengan rasa tidak sabar.


Tapi, saat lift terbuka senyumnya menghilang seketika. Dia hampir tak percaya dengan apa yang sedang dilihatnya. Seorang gadis bergelayut manja di lengan kekasihnya.


"Ay... " Alexa benar benar tak mendengar suara bariton itu karena jantungnya berdenyut begitu nyeri. Sekejap kesadarannya seolah terambil dengan tubuh yang terasa melayang. Iya, dia merasa ada benda besar yang kini menghantamnya begitu kuat.


"Ay, dengerin aku!" Kalimat itu membuat Alexa mengusap matanya yang sudah berair. Alexa mulai menguasai diri. Berlahan, dengan tubuh yang lemas dia memundurkan langkahnya. Lidahnya masih terasa kelu, dengan mata berair dia menatap Shakti penuh dengan rasa kecewa.


"Ay, aku bisa jelasin!" kalimat Shakti membuat Alexa berbalik, dengan langkah gontai dia berlari meninggalkan lobi apartemen.


"Alexa!" Alexa sudah tidak peduli lagi dengan panggilan lelaki itu. Hatinya begitu hancur. Gadis itu hanya bisa terisak dan menyeka air matanya saat dia menyeret langkahnya untuk menjauh dari gedung bertingkat itu.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2