
Alexa bergidik ngeri, setelah itu dia memutuskan keluar dari kamar itu. Dia juga harus mandi sebelum suasana berganti petang. Alexa memilih mandi di rumah Laras seperti biasanya. Bahkan, bajunya yang cuma beberapa itu pun masih di kamar rumah Laras.
"Tante Salma, Om Shakti di mana?" tanya Dewa saat memergoki Alexa masuk dari pintu samping.
"Masih di rumah Uti, Sayang." ucap Alexa, tapi kemudian dia menghentikan langkahnya saat mendapatkan ide.
"Dewa, ajakin Om Shakti main sampai malam ya!" pinta Alexa, itu artinya Dewa akan membuat Shakti sibuk dan tidak ada kesempatan mengganggunya lagi.
Dari kejauhan Laras menggelengkan kepala melihat Alexa dan Dewa. Dia malah mengingat dirinya saat masih bersama Agam. Iya, dia yang sering malu-malu, tapi hati kecilnya seringkali memaksa ingin bertemu dengan Agam.
Tapi, entah apa yang terjadi pada pasangan suami istri yang terkesan aneh itu, Laras hanya bisa tersenyum dengan melipat cucian hari ini yang sudah mengering.
Sementara itu, Shakti mengedarkan pandangan, mencari sosok yang masih dia rindukan. Lelaki itu rasanya tidak pernah habis untuk merindukan Alexa.
"Kelihatannya kalem, tapi licinnya tidak beda jauh dari Hanum." decih Shakti kemudian bergegas untuk berganti pakaian.
Setelah merapikan tampilannya di cermin, Lelaki yang hatinya sangat bahagia itu keluar dari kamar.
"Dewa... " Shakti sontak kaget, saat menemukan Dewa yang duduk berjongkok di depan kamarnya. Hampir saja bocah itu ketendang, saking buru-burunya dia keluar.
"Om Shakti, kita bermain yuk!" ajak Dewa, kemudian bocah itu langsung berdiri dan menarik tangan Shakti.
"Om cari Tante Salma dulu, ya!" tawar Shakti.
"Tante Salma sedang mandi. Tadi, Tante Salma yang meminta Dewa untuk mengajak Om Shakti bermain." bocah itu dengan polosnya bercerita. Shakti hanya tersenyum licik saat Alexa mulai mencari cara untuk menghindarinya.
Shakti menuruti permintaan Dewa. Dia juga merasa kasihan, bocah itu terlihat sangat kesepian.
Keduanya saat ini sedang berada di depan rumah Tante Gendis. Bermain, bahkan Shakti menaikkan bocah itu motor dan mengitari halaman luas yang berumput di depan rumah Tante Gendis.
Dewa terlihat sangat girang, kedekatan itu membuat Laras yang dari jauh melihatnya merasa terenyuh. Seandainya saja Dewa bisa merasakan kasih sayang bapaknya. Rasa ngilu kini menghantam hati wanita yang selama ini berusaha tegar.
Mungkin, dia bisa menutup semua kenangannya bersama Agam. Tapi, dia merasa jika semua tidak adil untuk Dewa.
"Dewa, kasihan Om Shakti jika diajak main terus." panggil Laras.
"Uti juga kangen sama, Om." lanjut Laras saat melihat Bu Seno berjalan mendekat ke arahnya.
"Dewa sama Uti saja." ucap dewa dengan mengalihkan pandangannya ke arah Laras, bocah itu seolah meminta izin pada ibunya.
__ADS_1
"Oh ya, nanti ikan Nilanya di bakar saja, Ras." titah Bu Seno yang tahu jika Laras akan menyiapkan makan malam untuk mereka.
Bu Seno menghampiri Shakti yang tengah duduk menikmati waktu sorenya ditempat yang tidak biasa. Suasana tenang dan warna Jingga menghampar indah di atas langit kampung pedalaman itu, bahkan angin membelai kulit dengan sangat sejuk.
Terlihat mereka sedang berbincang menceritakan banyak hal termasuk kabar Mama Gayatri. Ada rasa Rindu yang begitu dalam di hati Gendis, tapi keputusannya untuk menghabiskan sisa umurnya di tempat ini, di mana suaminya di makamkan sudah tidak bisa digoyahkan lagi.
Mereka mengakhiri perbincangannya di kalau suara beduk magrib terdengar beberapa kali. Iya, karena tidak ada listrik maka penduduk di sana tidak menggunakan pengeras suara untuk mengumandangkan adzan.
"Ayo kita masuk, Shak. Salma masih di kamar? tumben tidak kelihatan." ucap Tante Gendis saat berjalan masuk yang diiringi Shakti.
"Sepertinya di rumah Laras. Aku akan menyusulnya, Tan." ucap Shakti.
Lelaki yang seperti tidak ingin lepas dari istrinya itu pun menyusul ke rumah Laras. Saat melihat mereka bertiga Salat berjamaah membuat Shakti memutuskan masuk kamar dia pertama bertemu Alexa.
Shakti merebahkan tubuh di sebuah dipan( tempat tidur tanpa kasur) yang ada di kamar kecil itu. Sesekali dia merasakan dengan seksama tempat tidur yang dia rasa cukup keras.
Sayup sayup terdengar bacaan Al-Quran dari luar, dia yakin itu suara istrinya yang begitu merdu. Tiba-tiba ada yang menyapa hatinya yang selama ini kosong. Iya sebuah rasa rindu yang berbeda, apalagi saat melihat Alexa menjadi imam salatnya Laras dan Dewa. Seharusnya, dia bisa menjadi imam salatnya Alexa dan anak anaknya kelak.
"Salma, Mbak sama Dewa ke rumah Bu Seno dulu, ya?" terdengar suara Laras berpamitan.
"Dewa jangan lupa ajak main Om Shakti sampai capek ya!" balas Alexa sambil terkikik. Dia tidak tahu jika Shakti sudah berada di dalam kamarnya.
Alexa berjalan masuk ke dalam kamar saat melihat Dewa dan Laras sudah menghilang dari balik pintu yang terhubung dari rumah Bu Seno.
"Semoga saja Dewa bisa membuat lelah Mas Shakti." gumam Alexa, dia tidak menyadari jika orang yang dia bicarakan sedang berada di balik lemari.
"Tapi, bagaimana jika Mas Shakti yang membuatmu lelah malam ini, Ay." Hampir saja sisir yang dipegang Alexa terjatuh, saking kagetnya gadis itu saat mendengar suara bariton itu di dalam kamarnya.
Jantungnya masih berdebar karena rasa kaget, dia tidak menyangka jika sosok yang dia bicarakan sudah berdiri, diantara cahaya lampu yang remang remang.
"Sejak kapan, Mas Shakti masuk?" ketus Alexa tapi tidak di gubris oleh Shakti, lelaki itu terus berjalan mendekat, ada banyak kekaguman yang terpancar dari tatapan matanya saat melihat detail wajah cantik yang di hiasi rambut lurus yang terlihat sangat indah.
"Berhenti, Mas." Alexa memundurkan langkahnya entah kenapa setiap kali di dekat Shakti yang di rasakan hanya rasa was was. Lelaki itu selalu mencuri start.
"Ya ampun, Ay. Sama suami nggak boleh segalak itu. Dosa lo!" ucap Shakti mencoba mencari titik lemah Alexa. Lelaki itu terus saja berjalan menepis jarak di antara mereka.
"Kamu cantik, Ay." ucap Shakti dengan menyelipkan anak rambut istrinya di balik telinga. Lelaki itu terus menatap istrinya begitu dalam.
Alexa terbungkam, dia tidak tahu lagi harus berbuat apa, ditambah lagi saat tatapan mata Shakti seperti membuatnya membeku di tempat.
__ADS_1
"Tidak!" Alexa menggeleng. Tapi lelaki itu sudah menarik pinggang kecilnya untuk tidak menjauh.
"Kamu istriku. Apa kamu tidak punya perasaan terhadapku." Shakti terus saja memojokkan Alexa, sehingga membuat gadis itu pada titik Dilema. Dia juga tidak bisa mengelak jika dirinya sudah menjadi istri Shakti. Tapi, dia juga belum siap jika mereka akan melewatkan malam pertama seperti yang diteriakkan sakti tadi sore.
"A- aku.... "
Cup...
Shakti kembali mencium Alexa, kali ini dia melakukannya dengan sangat lembut. Hanya sepersekian detik saja, kemudian dia langsung memeluk erat tubuh yang masih mematung.
"Please, Ay. Kali ini jangan menampar atau memukulku." Shakti masih mengunci tubuh kecil itu dalam pelukannya. Alexa pun masih mematung. Alexa hanya mengingat ciuman pertama, dia menghadiahkan Shakti tamparan., ciuman kedua tadi sore dia menghadiahkan Shakti pukulan. Dan ini ketiganya mereka melakukannya saat kadar keraguannya menjadi istri Shakti mulai menipis.
Shakti mengambil kesempatan atas kebingungan Alexa. Dia meregangkan pelukannya kemudian mengelus bibir tipis Alexa, yang berarti dia meminta izin untuk melakukannya kembali.
"Tante Salma...." panggilan Dewa membuat Shakti mengurungkan niatnya sebelum kepergok oleh bocah itu, padahal bibirnya hampir saja menempel pada bibir Alexa. Dan Alexa pun tergagap dengan kehadiran Dewa dari balik tirai.
"Tante Salma, Om Shakti, kata Uti kita sudah waktunya makan malam." Setelah mengatakannya bocah itu kembali berlari pergi meninggalkan mereka.
Alexa seolah tergagap dan bingung saat mencari jilbabnya. Sedangkan Shakti hanya menatapnya sambil tersenyum melihat Alexa yang sudah salah tingkat.
"Ini? " tanya Shakti menunjukkan kerudung istrinya. Tapi, saat akan mengambilnya Shakti mengangkat tangannya ke atas.
"Minimal peluk aku dulu, Ay, tau cium juga bolehlah, atau lebih juga boleh." Alexa meluruhkan bahunya, dia menatap kesal Shakti.
"Semua bajumu sudah dipindahkan ke kamar kita. Jadi, mau peluk atau tidak?" Shakti kembali mendesak.
"Kenapa sih, suka memaksa?" protes Alexa dengan ketus.
"Bukan memaksa, aku cuma memberi pilihan saja." elak Shakti. Alexa terdiam saat lelaki itu menatapnya dengan mengejek.
"Baiklah aku hitung sampai tiga jika tidak aku bawa keluar saja jilbab ini." ancam Shakti sudah merasakan sebuah kemenangan.
"Satu... "
"Dua... "
"Tiga Setengah... "
Alexa langsung memeluk tubuh tinggi tegap itu. Saat lengannya melingkari tubuh Shakti, Alexa tidak lagi bisa mengingkari reaksi tubuhnya. Dia seperti melepaskan kerinduan yang sudah teramat sangat. Bahkan tanpa sadar dia menyadarkan kepalanya pada dada bidang suaminya.
__ADS_1
Shakti membiarkan sejenak situasi seperti ini, debaran jantungnya pun mulai bergejolak. Mungkin saat ini Alexa bisa mendengarkannya, "aku mencintaimu, Ay." Shakti membalas pelukan Alexa dan itu malah membuat Alexa tersadar jika dia sudah terbawa perasannya.
Bersambung