
" Mas, apa benar yang di katakan Hanum tadi?" setelah Hanum dan Arkha pulang. Zoya langsung mengajukan pertanyaan yang sudah sejak tadi dia tahan.
"Iya, Zoy." jawab Hans dengan lemah.
"Kamu anggap aku apa, Mas? Hingga merahasiakan semua itu." Mata Zoya mulai memanas saat ketika menatap kecewa suaminya. Dia tidak menyangka Hans akan merahasiakan hal besar ini darinya.
"Maafkan aku, Zoy. Bukan maksudku tidak menganggapmu. Tapi... "
"Tapi apa, Mas? Bagaimana perasaan putriku saat ini? Kenapa kamu tidak percaya padaku?" Zoya mulai meracau dengan air mata yang terus menetes. Tubuh mungilnya terduduk lemah di pinggiran tempat tidur. Perasaan kecewa, sedih dan mengkhawatirkan putrinya kini menyatu melebur memenuhi hatinya.
"Zoy, maafkan aku! Percayalah, aku bukannya tidak percaya kamu. Aku hanya tidak ingin kamu cemas dan tentu saja agar Ale bisa menyelesaikan masalahnya sendiri." ucap Hans dengan mengusap lembut kepala istrinya. Sejenak kemudian, dia merengkuh tubuh mungil istrinya untuk memberi ketenangan.
"Kak Ale pasti sangat sedih menghadapi ini sendirian." cicit Zoya tidak bisa membayangkan hati putrinya yang sudah terluka. Rasanya dia tidak terima jika putrinya merasakan sakit.
"Besok kita akan mengunjungi Ale." ujar Hans agar Zoya merasa tenang. Dia tahu Zoya begitu sangat menyayangi Alexa, meskipun dia hanya ibu sambung. Naluri keduanya seolah terikat begitu kuat dengan kebersamaan.
"Mas Hans tidak berbohong, kan?" Zoya kembali meyakinkan suaminya.
"Iya, tapi... berjanjilah untuk tidak mencampuri urusan rumah tangga Ale. Biarkan mereka menyelesaikan masalah mereka sendiri." tambah Hans membuat Zoya mengangguk. Dia memeluk tubuh Hans dengan begitu erat, lelaki yang sudah hidup bersamanya untuk melewati susah senang kehidupan yang dilaluinya.
###
"Rasanya aku lelah!" ujar Hanum dengan menjatuhkan tubuhnya di sofa depan setelah masuk ke dalam apartemen.
Arkha hanya melihatnya kemudian tersenyum. Mereka memutuskan untuk pulang meskipun Zoya sudah meminta mereka untuk menginap.
"Hanum, kalau rebahan di dalam kamar saja. Takutnya kamu ketiduran." ujar Arkha kemudian duduk di sofa yang berdekatan dengan tempat rebahan istrinya. Lelaki itu melepaskan flat shoes yang masih terpasang di kaki mungil istrinya.
"Aku sudah tidak bisa bergerak, Kak. Tubuhku rasanya lelah sekali." jawab Hanum dengan manja. Seharian aktifitasnya memang penuh, setelah dari kampus dia langsung ke kedai untuk mengecek semua laporan. Iya, ternyata aplikasi grab food membuat kedainya bertambah laris manis, apalagi untuk pesanan cake dan bread.
"Istirahat yang benar di kamar, Num." lanjut Arkha. Dari wajahnya Hanum memang terlihat sangat lelah, tadi saat pulang dia sempat menyarankan agar besok saja ke tempat Mama Zoya, tapi Hanum tetaplah Hanum, jika sudah punya niat pasti akan sulit untuk dibelokkan.
"Nanti aku malah tidak bangun lagi. Setelah ini aku masih harus mengerjakan tugas kuliah, Kak." lirih Hanum sambil memejamkan mata menikmati empuknya sofa.
__ADS_1
Tanpa bicara lagi, Arkha pun segera mengangkat tubuh mungil itu dan membuat mata Hanum seketika membeliak kaget.
"Kamu istirahat di kamar, nanti aku bangunin." ujar Arkha kemudian meletakkan tubuh Hanum di kasur berukuran king size.
Lelaki itu pun merebahkan diri di dekat istrinya. Bukannya, malah memejamkan mata, Hanum merasa ngantuknya malah menghilang begitu saja.
"Kenapa kamu sesibuk itu mengurusi toko? Apa lima puluh juta untuk satu bulan tidak cukup untukmu?" tanya Arkha yang sebenarnya kasian melihat bocah bar bar di sebelahnya terlihat begitu lelah karena kesibukannya.
"Ya cukup malah belum ke pakai sama sekali. Mama masih menstranfer uang jajanku, Kak."
"Apa...?" Seketika arkha terhenyak kaget dan melirik ke samping hingga akhirnya dia memiringkan tubuhnya menghadap ke arah Hanum.
"Kamu membuatku malu, Num. Kenapa masih menerima uang dari Mama? Aku merasa tidak bisa mencukupi kebutuhanmu." lirih Arkha terlihat kecewa.
"Mama yang maksa, Kak." jawab Hanum karena dia memang pernah menolak uang jajan dari Zoya.
"Besok lagi, jangan mau jika Mama ngasih uang. Ganti rekening saja! Aku seperti laki laki tidak bertanggung jawab jika kamu masih menerima uang jajan dari Mama." jelas Arkha dengan menelisik lebih dalam ke arah mata cantik Hanum.
"Astaga Hanum, aku takut khilaf jika kamu manja seperti ini." batin Arkha, seketika darahnya berdesir panas, pelukan Hanum memantikkan gairah yang sudah selalu dia tahan selama ini. Dia belum berani menyentuh Hanum. Bukan tanpa alasan jika Arkha belum menyentuh Hanum. Dia merasa otak Hanum masih bocah untuk melakukannya, apalagi saat tahu Hanum baru pertama kali melakukan ciuman dia tidak ingin buru buru meski sedikit menyiksanya.
###
Alexa merasakan perutnya terasa lapar. Dia sebenarnya enggan untuk keluar kamar karena tahu Shakti masih bekerja di depan kamarnya. Akhir- akhir ini lelaki itu terlihat sibuk sekali.
Akhirnya Alexa pun keluar karena tidak tahan dengan rasa perut yang sudah sangat melilit.
"Ada apa, Ay?" Dengan sigap Shakti langsung beranjak dari depan laptopnya saat melihat Alexa keluar dari kamar.
"Kamu nggak apa apa, kan?" lanjut Shakti yang takut terjadi sesuatu dengan istrinya.
"Aku hanya lapar!" jawab Alexa dengan singkat. Dia tidak tega membiarkan Shakti yang terlihat memelas itu mengikutinya.
"Kamu ingin makan apa?" tanya Shakti yang berhenti di depan dapur saat Alexa akan membuat susu. Tidak ada jawaban dari wanita itu, Alexa hanya mengeluarkan beberapa lembar roti dan menyiapkan gelas dan susu.
__ADS_1
"Aku juga mau itu. Jika boleh aku juga ingin kopi." celetuk Shakti langsung mendapatkan tatapan tajam Alexa. Sebenarnya Shakti spontan memintanya. Dia sudah kangen dengan kopi buatan istrinya.
"Kalau nggak mau, ya nggak apa apa." lirih Shakti terlihat kecewa, tapi dia bisa melihat pergerakan tangan Alexa yang sedang meletakkan cangkir dan menuangkan kopi di dalamnya.
Bukan tanpa alasan hati Alexa sedikit melunak meski belum memaafkan sepenuhnya. Selain kasihan karena lelaki di sebelahnya itu terlihat lesu sejak pertengkaran mereka tapi kemarin malam dia telah memergoki siapa pencuri lotionnya yang tiba tiba raib.
Flashback
Pukul sebelas malam biasanya Shakti masih berada di ruang keluarga yang ada di depan kamarnya. Dia baru akan masuk kamar sebelah setelah dini hari. Tapi malam itu dia tidak menemukan siapapun saat keluar kamar untuk mencari makanan. Alexa memang sering merasa lapar saat malam.
Laptop menyala, beberapa kertas tercecer di meja sementara kamar yang di tempati Shakti sedikit terbuka, membuat Alexa sedikit penasaran dan memutuskan untuk mengintip.
Alexa semakin dibuat penasaran saat dia mendengar suara nafas yang terengah. Suaranya berasal dari kamar mandi, kebetulan kamar mandi pun sedikit terbuka membuat langkah Alexa berlahan mengendap mendekati pintu yang sedikit memberikan celah.
"Ay- Alexa... " erang Shakti saat dia berada di puncak soloisme dengan mendongak dan memejamkan matanya. Suasana menjadi hening sejenak, kemudian terdengar suara kran air.
Jantung Alexa berdegup, hampir saja dia memekik, untung saja dia langsung membekap mulutnya dan berjalan keluar sebelum kepergok mengintip.
Alexa langsung ke dapur, mencari minum. Dia tidak menyangka jika Shakti melakukannya sendiri. Dia juga sempat melihat lotionnya di toilet sebelum meninggalkan tempat itu. Dia yakin jika Shakti sudah mengambil lotion miliknya.
"Ya Allah, apa benar dia membutuhkanku? Apa dia tidak melakukannya dengan kekasihnya itu?" masih dengan duduk termangu di meja makan, Alexa masih memikirkan kejadian barusan.
Selain dengan kekasihnya, dia juga bisa menyalurkan hasratnya dengan perempuan lain. Dia menyadari, selain ganteng suaminya juga banyak uang yang melimpah untuk membeli kesenangan. Tapi, kenapa dia memilih untuk bersolo ria? .
Hanya memikirkan kemungkinan yang baik, hati Alexa sedikit lega. Meski begitu dia butuh kebenaran atas keadaan Shakti yang dia temukan kacau saat keluar dari apartemen mantan kekasihnya.
Flash On.
Alexa masih kembali merenungkan kejadian kemarin, hingga dia tersadar jika airnya sudah mendidih.
"Ini, kopinya."Alexa menyodorkan secangkir kopi dan selembar roti yang sudah diolesnya dengan sale.
"Terima kasih, Ay! Aku kangen semua buatanmu." ujar Shakti dengan wajah masih memelas, tapi Alexa masih terdiam. Hingga mereka menikmati makanan dan minuman bersama sama di meja makan.
__ADS_1