Rindu Alexa

Rindu Alexa
Tidak Sepolos Itu


__ADS_3

"Aku mau pulang. Jangan pegang-pegang! Bukan muhrim." bentak Hanum yang hanya dibalas senyuman oleh Arkha. Lelaki itu memang hanya menganggap Hanum seperti adiknya.


Arkha memang terbiasa dengan suara Hanum yang bernada tinggi, tidak ada masalah bagi Arkha. Lelaki itu tetap saja menggenggam lengan kecil gadis berpenampilan modis itu.


"Biasanya kalau, galak kayak gini lagi lapar." goda Arkha yang ingin mengajak Hanum makan.


"Sudahlah, Kak. Jangan ganggu aku!" Kali ini Hanum terlihat serius. Sorot mata memohon terlihat begitu jelas di antar ceruk mata indahnya.


"Kamu kenapa, Num? Kak Arkha salah apa? Dihubungi pun kamu susah." tanya Arkha yang tak kalah serius, lelaki itu menatap lekat mata bulat yang di hiasi bulu lentik milik Hanum. Dia hanya merasa heran, kenapa Hanum seolah menghindarinya.


"Aku mau serius belajar. Sebentar lagi ujian, lagian aku juga sibuk mengurus kedai." jelas Hanum, berlahan dia mengurai genggaman Arkha yang melemah. Arkha seolah tidak percaya dengan alsan gadis itu.


Iya, langkah gadis itu mengayun indah meninggalkan lelaki yang masih menatapnya dengan perasaan tidak percaya.


Ada yang yang hilang saat gadis jutek itu tidak ada diantar hidupnya. Ketusnya, moodnya yang naik turun, mulutnya yang pedas dan geraknya yang licin. Iya, sisi yang tidak menyenangkan dari gadis itu yang justru membuat Arkha merasakan ada yang berbeda saat tidak menemukannya dalam siklus hidupnya.


Arkha menghela nafas, dia kembali tersadar dengan pemikiran pemikirannya yang dia rasa cukup ngawur.


"Hanum..." Seorang pemuda menghadang langkah Hanum saat akan keluar dari fakultas.


Dia adalah Adrian, lelaki yang sudah lama ingin mendekati Hanum, tapi tidak di gubris oleh gadis itu, bahkan lontaran kalimat pedas Hanum membuatnya semakin penasaran.


"Minggir!" Hanum meminta Adrian untuk menyingkirkan, tapi pemuda itu malah menyeringai dengan penuh kelicikan. Dia merasa perlu untuk memaksa gadis yang jadi idola di fakultasnya.


"Hari ini, aku ingin kamu menemaniku makan siang." titah Adrian. Lelaki itu merasa menjadi idala kampus hingga dia seolah bisa memaksa gadis manapun yang dia inginkan untuk bersamanya.


"Siapa, Lo!" ujar Hanum tak kalah sinis. Hanum memang tidak suka dipaksa, dia juga tidak senang mendapatkan perintah.


"Aku akan memaksamu!" Adrian menarik lengan Hanum. Dia mulai berani mengancam Hanum karena dia memiliki foto gadis itu saat tidak berjilbab dan berada di club malam.


"Aku akan menyebarkan ini!" ancam Adrian dengan menunjukkan fotonya yang sedang berjalan di bawah temperamnya lampu disko. Seketika, Hanum terkaget. Foto itu sudah lama terjadi, dan kenapa juga dia sampai tahu?

__ADS_1


"Bugh... " sebuah pukulan menghantam wajah Adrian hingga limbung, ponselnya pun terjadi dilantai. Tidak lama kemudian, Arkha menghancurkan sekalian ponsel pemuda yang sudah dia perhatikan sejak tadi. Dia melihat pemuda itu mengganggu Hanum


"Kamu bisa aku tuntut!" ancam Adrian dia memang salah satu anak dari orang berpengaruh di kota itu.


"Tuntutan saja! Aku juga bisa membuatmu mendekam dipenjara karena sudah mengancam seseorang." ucap Arkha tak kalah lantang. Pemuda itu terdiam dengan mengusap darah di sudut bibirnya, padahal batinnya merutuki keberadaan lelaki yang terlihat dewasa.


"Kamu tidak apa kan, Num?" tanya Arkha untuk memastikan keadaan Hanum.


"Tidak, Kak. Terima kasih, Aku harus pergi dulu!" Hanum langsung berlari kecil meninggalkan keduanya lelaki itu. Gadis itu terkesan kabur di mata Arkha.


###


"Mas, kerja lagi?" tanya Alexa saat melihat Shakti yang kini berada di ruang keluarga dengan menghadap laptop. Seharian ini, Alexa ditinggal sendiri di villa karena Shakti melihat proyek baru untuk cabang pabrik.


"Masih ada laporan yang harus diteliti." jawab Shakti dengan mimik wajah yang serius. Alexa pikir kemungkinan suaminya mempunyai kendala dalam pekerjaannya.


"Kalau kamu lelah sebaiknya kamu istirahat di kamar." ucap Shakti tanpa menoleh ke arah istrinya. Lelah. Memang ngapain saja sampai lelah? pikir Alexa yang seharian ini lebih banyak bersantai di kamar.


Alexa masih mengaduk kopi panas milik yang akan dia bawa untuk Shakti.


"Auhhhggggg... " pakik Alexa saat Dinda menyenggol tubuhnya.


Alexa segera mengibaskan bajunya yang terkena tumpahan kopi. Tidak hanya baju, tapi dia yakin kulitnya pun perutnya pun sudah memerah.


"Din hati- hati dong!" protes Alexa dia juga merasa kesal dengan Dinda karena tidak hati hati saat berjalan.


"Maaf- maaf tapi saya tidak sengaja." Dengan terbata-bata Dinda meminta maaf.


Tanpa menjawab lagi, Alexa kembali ke kamar untuk mengganti bajunya.


" Ay, mau bobo?" tanya Shakti saat melihat sekelebat bayangan istrinya berjalan melewatinya.

__ADS_1


"Aku mau ganti baju, Mas." jawab Alexa dengan bergegas masuk ke dalam kamar.


Sebelum berganti baju, Alexa melihat kulit perutnya yang terkena tumpahan kopi pun terlihat memerah. Wanita yang masih merasakan sedikit perih di bagian itu pun langsung mengganti bajunya dan akan membuatkan kembali kopi untuk suaminya.


Deg...


Ketika keluar kamar Alexa mendapati Dinda memberikan kopi dan se-toples camilan pada Shakti. Alexa, kembali dibuat heran.


"Terima kasih, Din. Kamu memang pengertian." ucap Shakti dengan menyambut secangkir kopi dan menyesapnya sekali.


Alexa hanya berdecih, hatinya mencelos marah kala mendengar suaminya memuji gadis itu. Gadis yang dianggap polos suaminya tidaklah sepolos itu. Alexa semakin yakin, Dinda sangat menginginkan suaminya.


"Sama sama, Mas Shakti." jawab Dinda kemudian berbalik meninggalkan Shakti. Shakti tidak menyadari jika Alexa sudah memperhatikannya sejak tadi.


Sejenak Alexa terdiam, dia kemudian masuk ke dalam kamar untuk mencari sebuah camilan. Dengan langkah halus dan ide gilanya, Alexa menghampiri Shakti dengan membawa sebuah camilan.


"Boleh aku temani, Mas?" tanya Alexa dengan duduk di dekat Shakti. Dia juga menyandarkan kepalanya pada lengan kekar suaminya, hingga membuat Shakti tidak bisa menggerakkan tangannya.


"Sayang... " panggilan sayang pertama yang dilontarkan suaminya membuat Alexa merasa berbunga bunga. Dia pun menyuapkan camilan, yang di sambut oleh Shakti.


"Kamu sengaja ya, Ay." ucap Shakti dengan mengangkat tubuh kecil Alexa di atas pangkuannya.


"Sakit, Mas." keluh Alexa saat tangan Shakti menyentuh kulit perut Alexa yang memerah.


"Kenapa, Ay?" tanya Shakti penuh selidik. Dengan rasa penasaran dia mengangkat kaos Alexa hingga terlihat warna merah di perut putih istrinya.


"Kena tumpahan kopi, Mas. Tadi aku mau membuatkan Mas Shakti kopi, tapi Dinda malah menyenggol lenganku hingga kopiku tertumpah." jelas Alexa, membuat lelaki itu menunduk dan mencium lembut kulit istrinya yang sudah memerah.


"Mas, geli." protes Alexa dengan mendorong tubuh suaminya yang masih menunduk di perutnya.


Kehebohan keduanya membuat mereka lupa jika masih ada yang memperhatikan pengantin baru itu dengan rasa kesal.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2