
Kali ini Shakti meminta sopir perusahaan untuk mengantarkannya menjemput Alexa di rumah sakit. Setelahnya, dia akan meminta Alexa untuk mengantarnya ke bandara.
Dengan kemeja yang masih rapi, Shakti keluar dari mobilnya dan berjalan masuk menelusuri koridor rumah sakit.
"Ay, aku tunggu di ruang resepsionis." Shakti sengaja menelpon Alexa dia tidak tahu di mana ruang kerja istrinya.
"Iya, sebentar. Aku lagi jalan ke sana, Mas." ujar Alexa kemudian menutup panggilan Shakti. Wanita berjas putih itu berjalan tergopoh gopoh menuju ruang terdepan dari rumah sakit.
Terlihat Shakti masih duduk dengan memainkan ponselnya. Alexa terus berjalan dengan melepas jas putihnya dan menggantungkan di sebelah lengannya.
"Mas..." panggil Alexa membuat Shakti langsung beringsut dan berdiri.
"Ayo, kita berangkat." ucap Shakti dengan merangkul istrinya untuk keluar menuju parkiran.
Lelaki dengan tinggi maksimal itu terus saja mengapit tubuh mungil istrinya hingga masuk ke dalam mobil. Mobil Mercy hitam itu kemudian melaju meninggalkan halaman rumah sakit.
"Kamu sudah makan, Ay?" tanya Shakti masih dengan merangkul istrinya yang bersandar di dadanya.
"Sudah, tadi bareng Nindy, Mas."
"Mas cepat pulang, ya! Jangan lama-lama di Bali, di sana banyak cewek telanjang takut kilaf." seloroh Alexa yang tiba tiba membuat Shakti seketika tergelak. Baru pertama kali ini dia mendengar kalimat candaan dari Alexa, seolah- olah wanita itu tidak sadar jika di depan ada sopir yang kini mengantarkan mereka ke bandara.
"Aku hanya nafsu padamu, Ay." Shakti tetap menjawab pertanyaan Alexa dengan berbisik. Dia akan tetap meyakinkan istrinya, jika hanya dirinya yang dia damba.
Mereka sampai di bandara, Shakti meminta Alexa pulang terlebih dahulu sebelum pesawatnya lepas landas.
"Aku pasti akan merindukanmu." pelukan terkahir Shakti diiringi dengan kecupan lembut di kening istrinya membuat mata Alexa berkaca kaca.
"Hati- hati, Mas. Cepat pulang!" ucap Alexa kemudian melepaskan Shakti pergi.
Saat ini dia merasa sangat cengeng. Dia sangat berat melepas kepergian suaminya. Setelah menikah, lelaki itu memang sudah punya tempat yang spesial. Shakti sudah menjadi bagian dari dirinya. Dimana ketika salah satu pergi, dia merasa ada sesuatu yang hilang.
###
Setelah mampir di kedai, Hanum langsung pergi ke kampus dengan taxi online yang baru saja dia pesan.
Di bangku belakang gadis itu sedang berfikir keras bagaimana caranya mengumpulkan uang. Kali ini, dia tidak menginginkan mobil. Tapi, untuk biaya kuliah ke luar negeri jika seandainya Papa Hans tidak mau membiayainya.
__ADS_1
Bukan Hanum jika harus menyerah dengan keadaan. Gadis itu akan terus berusaha sampai waktu tidak lagi memberinya kesempatan.
Dia juga berfikir selain biaya sendiri, dia juga bisa mencari beasiswa, tapi untuk itu dia harus rajin belajar.
"Mbak kampus ini, kan?" tanya sopir taxi saat melihat gadis di belakangnya terus saja melamun.
"Iya, Pak. Terima kasih." ucap Hanum seraya menyerahkan uang pada sopir taxi.
Gadis itu berjalan memasuki halaman kampus menuju perpus. Masih setengah jam lagi untuk kelas mata kuliah statistik. Dia memutuskan untuk membaca buku saja.
"Hanum... " panggil Adrian dengan menghampiri Hanum yang tengah menoleh ke arahnya. Gadis itu masih menunggu Adrian yang berjalan ke arahnya.
"Besok datang ke acara ultahku, ya!" pinta Adrian dengan menyerahkan sebuah undangan ke arah Hanum.
"Insyallah, tapi aku tidak janji." ujar Hanum. Dia harus meminta izin pada Mama Zoya terlebih dahulu.
"Tapi usahakan datang, ya!" ucap cowok itu penuh permohonan. Tapi, Hanum masih saja tidak bisa memberi kepastian.
"Ting... " sebuah notifikasi terdengar dari ponselnya, ternyata pesan dari Dira jika dia sudah menunggunya di kantin.
Hanum memang dikenal sangat cantik, tapi gadis itu sangat sulit untuk di dekati cowok. Sikapnya yang judes dan ketus, membuat cowok takut mendapatkan penolakan.
Dengan langkah, tergesa Hanum berjalan menuju kantin. Dia tahu bertemu Dira membutuhkan waktu yang cukup lama untuk sekedar mengobrol.
"Hanum...!" teriakan gadis itu membuat hampir membuat seisi kantin menoleh ke arah gadis yang kini mengenakan tunik dan celana jeans. Termasuk Arkha dan Rania yang tengah menikmati makan siang mereka.
Arkha baru saja mengantarkan Rania, setelah gadis itu datang ke kantor Arkha untuk mengurus proposal yang sempat dia hujannya itu telah di Acc.
Dira memang berada di kantin bagian luar. Tapi, tidak sengaja dia melihat Arkha dan Rania sedang makan bersama. Dengan susah payah gadis yang menghampiri sahabatnya itu menetralkan rasa gugupnya.
"Ada apa sih? Perasaan lo makan terus." keluh Hanum saat berada di depan Dira.
"Cuma minum doang. Nggak pesan makan, aku diet Hanum." elak Dira. Gadis itu memang suka nongkrong di kantin untuk menunggu jam kuliah selanjutnya.
Hanum, memang tidak ingin melihat atau pun sekedar melirik sosok yang sedari tadi menatapnya. Dia masih dengan prinsipnya, tidak ada urusan dengan lelaki yang jika jujur masih membuat hatinya berdebar.
"Aku pesankan minum, ya!" tawar Dira.
__ADS_1
"Boleh, tapi lo yang bayar. Aku lagi sedang program berhemat." ucap Hanum membuat Dira tergelak. Gadis itu seolah tidak percaya, sejak kapan Hanum berhemat. Selain bisa mencari uang sendiri, dia juga masih mendapatkan uang jajan dari mamanya.
"Okelah, demi apa? Demi kamu Hanum sahabat tercantiku." ledek Dira hanya membuat Hanum berdecih.
Di sudut kantin Arkha terus saja melirik gadis yang terlihat acuh padanya. Tatapan tajamnya tidak bisa beralih dari Hanum hingga Rania mengekori tatapan lelaki di depannya.
"Kapan Abang rencana menikah?" pertanyaan gadis itu membuat Arkha tergagap. Tidak biasanya gadis itu menanyakan hal yang mengarah ke sana.
"Abang?" ulang Arkha yang masih bingung menjawab pertanyaan Rania.
"Iya, Abang." jelas Rania masih dengan tersenyum ke arah Arkha.
"Kamu sendiri? Apa kamu sudah punya cowok?" tanya Arkha dengan antusias tapi malah di sambut dengan senyum gadis itu.
"Masih dalam masa pendekatan, Bang." sambil tersipu Rania kemudian menyesap jus jeruk nya. Arkha pun terdiam, tapi dia malah menjadi penasaran siapa cowok yang gadis itu maksud.
"Dir, ayo kita ke kelas saja!" ajak Hanum. Dia tidak tahan melihat dua sejoli yang terlihat sedang asyik dengan dunianya. Bahkan, sesekali dia memergoki Rania tersenyum dengan wajah tersipu.
"Ya ampun, Num." keluh Dira.
Tapi saat dia akan beranjak seseorang sudah menghadang langkahnya, " Bunga yang cantik untuk seseorang yang cantik." Bara memberikan sekuntum mawar merah yang baru saja dia petik.
"Kak Bara, nggak modal banget!" celetuk Hanum karena dia tahu Bara memetik bunga yang diberikan Bara sama persis dengan bunga yang barusan dia lihat di pot depan kantin.
Senyum Hanum, tawa Dira dan gelak tawa Bara membuat lelaki yang sedari tadi mencuri pandang ke arah Hanum pun wajahnya memerah.
"Menyingkir lah, Kak. Aku akan masuk kelas." Kalimat Hanum membuat Bara tersenyum dan memberikan jalan untuk gadis itu.
"Kuliah yang rajin, biar cepet lulus dan aku akan segera melamarmu!" teriak Bara membuat Hanum hanya menoleh dan tersenyum.
Arkha menggeratakkan rahangnya. Senyum Hanum pada Bara membuatnya merasa tidak adil. Iya, Dengan lelaki yang sok play boy itu Hanum bisa tersenyum tapi dengannya gadis itu benar benar menutup akses berkomunikasi.
"Ran, Abang akan balik ke kantor. Kamu masih di kampus apa Abang antar pulang?" Rania yang masih ingin menghabiskan waktu bersama Arkha pun sedikit kecewa.
"Aku masih ada rapat, Bang." jawab Rania.
"Baiklah, Abang balik dulu!" ujar Arkha. Lelaki itu kemudian membayar tagihan di kantin dan pergi dengan perasaan kesal.
__ADS_1