
Shakti masuk ke dalam kamar Arka, membuat lelaki yang saat ini sibuk dengan laptopnya itu pun menoleh. Tapi, Arka membiarkan Shakti membanting tubuhnya di kasur empuk berukuran king size itu.
Seharian mereka memantau semua kegiatan di pabrik baru, termasuk meeting singkat bersama team devisi, membuat mereka merasa sangat lelah.
"Kalau sudah capek mending istirahat dulu, Ark!" ucap Shakti dengan mencari ponselnya. Setiap hari dia tidak pernah absen untuk melihat foto Alexa yang dijadikan wallpaper di ponsel dan laptopnya. Rasa ingin bertemu istrinya sudah sangat membuncah dalam hati. Iya seperti desakan yang terus menekan untuk bisa memeluknya secara nyata.
"Ay, miss you." lirih Shakti sambil menciumi foto Alexa di layar ponselnya.
Arka menatap Shakti dengan dua alis yang saling tertaut. Heran. Arka merasa heran dengan tingkah gila Shakti yang tidak pernah terlintas dalam benaknya sama sekali.
"Masih waras kan, Shak?" tanya Arka setelah mengesave semua laporan yang sudah dia teliti. Lelaki itu menutup dan meletakkan laptopnya di meja.
"Lo, nggak berniat tidur di kamar ini, kan?" lanjut Arka yang sudah merasa insecure dengan kelakuan Shakti. Lelaki itu terus saja berjalan mendekat ke arah Shakti yang kini masih berbaring di atas bednya.
"Emang kenapa?" tanya Shakti dengan menolehkan wajah menatap Arka yang sudah berdiri di dekat kakinya.
"Aku hanya merasa insecure saja sama pengantin baru tanpa malam pertama." jawab Arka berlagak serius. Kedua bahunya bergidik.
"Sialan, lo! Kayaknya donat lebih nikmat dari pada pisang." jawab Shakti dengan melempar bantal yang langsung ditangkap Arka.
Seketika mereka terdiam kala panggilan Papa Hans tertera di layar ponselnya. Lelaki itu cukup kaget, hingga dia cepat cepat untuk mengangkatnya.
"Assalamu'alaikum, Pa." ucap Shakti saat membuka panggilan. Dengan tergesa-gesa lelaki itu keluar dari kamar Arka.
"Waalaikum Salam, Mama Zoya ingin bicara." ucap Hans dengan dingin.
"Mas Shakti, tadi Mama dan Papa sempet menjenguk Clarisa di tahanan." ucap Zoya membuat Shakti mempercepat langkahnya menuju kamar dengan mendengarkan apa yang dikatakan Zoya.
"Auuukk...." pekik Dinda saat tubuh tinggi besar Shakti tidak sengaja menabrak Dinda di saat berbelok ke kamarnya yang berada di tikungan, hingga tangan Shakti menahan lengan Dinda agar tidak terjatuh.
"Maaf... " ucap Shakti dengan isyarat mulut tanpa suara. Lelaki itu kemudian langsung menutup pintu kamarnya agar lebih fokus mendengarkan mertuanya bicara.
__ADS_1
"Bisa bicara dengan Papa, Ma?" Shakti belum bisa memutuskan permintaan mamanya yang berharap dia mencabut tuntutannya pada Clarisa dengan alasan kasian. Mama Zoya tidak tega melihat Clarisa mendekam di penjara lantaran dengan alasan nama baik Alexa yang sudah pulih dan dipenjara pun tidak tidak akan mengembalikan Alexa.
"Pa, Shakti tidak bisa memutuskan apa yang menjadi permintaan Mama Zoya. Semua aku serahkan sama Papa Hans dan kuasa hukum Shakti. Saat ini Shakti memang hanya ingin menemukan Alexa." ucap Shakti saat mendengar ponsel itu sudah pindah di tangan Hans.
"Baiklah nanti aku akan bicarakan lagi sama Mama dan kuasa hukummu."
"Assalamu'alaikum." ucap Hans dengan dingin sebelum menutup teleponnya.
Shakti terdiam sejenak, sekilas dia mengingat bagaimanapun Clarisa pernah ada dalam kehidupannya. Dan saat terakhir bertemu di lapas, dia terlihat begitu frustasi. Sangat berbeda dengan Clarisa yang arogan dan penuh percaya diri.
Shakti tertegun menatap langit-langit kamarnya. Terkadang ada rasa khawatir di hati mengingat istrinya selama ini hanyalah gadis pingit yang tidak pernah mengetahui betapa kerasnya kehidupan di luaran sana. Tapi, hati kecilnya mengatakan jika Alexa akan baik baik saja. Orang baik akan bertemu dengan orang baik.
"Semoga kamu bertemu dengan orang baik, Ay." ucap Shakti, entah kenapa debaran jantungnya begitu kuat saat terlintas bayangan gadis yang saat ini sudah menjadi istrinya.
Irish mata coklat itu bergerak, melirik jam yang menggantung di dinding kamar. Sudah pukul delapan malam, dia akan keluar kamar karena tidur jam segini bagi Shakti masih terlalu sore.
Lelaki yang mengenakan celana pendek dengan kaos oblong itu pun melangkah menuju ruang santai yang terletak antara kamarnya dan kamar Arka.
Shakti masih terlihat santai di balik meja makan. Lelaki yang sudah rapi setelah menghabiskan paginya dengan berlari menikmati suasana pagi di sekitar villa.
Setelah membersihkan diri dan kini dia siap untuk sarapan setelah beberapa jam Arka meninggalkannya terlebih dahulu untuk ke pabrik.
Semalam, mereka memang sudah sepakat jika Arka akan mengurus segalanya sedangkan Shakti akan datang sedikit terlambat hanya untuk memantau saja.
"Pak Agus, motornya sudah siap?" tanya Shakti saat melihat bayangan Pak Agus yang akan membersihkan lantai dua.
"Sudah Mas Shakti. Semalam Dinda sudah mengatakan pesan Mas Shakti." jawab Pak Agus.
"Akhir akhir ini saya lihat Dinda yang sering datang ke villa? Dia tidak sekolah?" lanjut Shakti dengan menyesap kopi hangatnya.
"Sejak Dinda lulus sekolah, saya memintanya untuk membantu mengurus villa. Biar dia ada kerjaan, Mas." ucap Pak Agus membuat Shakti mengangguk, baginya tidak masalah yang penting villa terurus dengan baik.
__ADS_1
"Baiklah, saya permisi dulu, Mas." pamit Pak Agus.
Shakti pun melanjutkan sarapannya sebelum dia berangkat menyusul Arka ke pabrik. Arka cukup diandalkan untuk mengurusi semuanya.
Hal yang paling dibutuhkan untuk seorang pemimpin adalah seorang kaki tangan yang cukup bisa diandalkan untuk merealisasikan rancangan pemikiran untuk sebuah tujuan.
Setelah sarapan, lelaki yang berpenampilan lebih kasual menstater motor trilnya. Shakti memang hanya mengenakan kemeja biasa yang dipadukan dengan jeans belel.
Tidak lama kemudian Shakti melajukan motornya ke luar halaman villa. Dia sengaja memilih menggunakan motor untuk menikmati suasana daerah pegunungan yang sejuk.
Dari jauh dia melihat gadis berambut panjang yang biasa datang ke villa. Dinda. Gadis itu sedang berdiri di pinggir jalan dengan membawa tas anyaman.
"Sedang apa, Din?" tanya Shakti saat menghentikan motornya.
"Nunggu angkot, Mas. Ini mau ke pasar. Diminta Bapak belanja untuk persediaan dapur." ucap Dinda sambil menyelipkan anak rambutnya ke belakang.
"Ya sudah, bareng aku saja. Toh, aku juga akan lewat pasar." tawar Shakti. Dia merasa tak ada salahnya memberi tumpangan pada penjaga villanya.
"Nggak apa, Mas?" tanya Dinda sedikit ragu dengan tawaran Shakti, secara lelaki di depannya itu begitu ganteng dan sangat menarik kekaguman siapapun kaum hawa yang melihatnya.
"Nggak apa- apa, sekalian aja." ucap Shakti meyakinkan gadis yang jauh lebih muda darinya.
Dinda pun langsung naik ke jok belakang. Shakti pun mulai melajukan motornya kembali. Berbeda dengan Shakti yang merasa biasa saja, Dinda merasa ini adalah sebuah keberuntungan yang luar biasa baginya.
Jalan mulai menukik dan menurun, hingga Dinda mengalihkan lengannya di perut Shakti. Sontak saja Shakti terkaget hingga membuat lelaki itu menoleh lengan kecil yang melingkar di perutnya. Hal yang cukup mencengangkan untuk Shakti karena sikap Dinda, tapi dia berfikir mungkin karena kondisi jalan yang berkelok membuat Dinda melakukannya.
Mereka hanya membisu saat melewati perjalanan itu. Hingga, beberapa jam kemudian Shakti menghentikan motornya di dekat kerumanan orang orang yang sedang melakukan jual beli.
"Terima kasih, Mas." ucap Dinda yang dijawab anggukan oleh Shakti. Lelaki itu langsung melesak dengan motor trillnya menuju pabrik.
Bersambung...
__ADS_1
Sabar ya gaes diam diam aku kasih bocoran tinggal dua berikutnya suami istri bertemu Xixixixix.... kira kira pertemuan yang manis atau pahit ya? hahahaha 😂😂😂😂 hadiah yang banyak ya gaes biar bisa manis kayak mood author hari ini... insyallah nanti malam up satu part lagi ya.....