Rindu Alexa

Rindu Alexa
Villa


__ADS_3

Saat masuk ke dalam kamar, Mas Hans mendapati istrinya berdiri dan menatap keluar jendela. Tidak biasanya setelah dia keluar dari rumah kerja Zoya masih terjaga.


"Mungkin kejadian Ale adalah karma bagiku, Zoy! Aku yang pernah memaksamu saat pertama kali." ucap Hans dengan memeluk istrinya dari belakang. Tangan besar itu melingkar di bahu kecil Zoya, hingga membuat Wanita mungil itu mendongak ke atas. Hans yakin Zoya merindukan Ale.


Saat menemukan penyesalan pada sorot mata tajam itu, Zoya pun membalikkan tubuh menghadap suaminya.


"Mungkin, ini jalan putri kita untuk menemukan jodohnya, Mas." jawab Zoya berusaha menghapus rasa bersalah suaminya.


"Karma memang ada, tapi semoga Shakti yang terbaik buat Kak Ale." Zoya tersenyum ke arah suaminya. Kedua tangannya juga melingkar di pinggang lelaki yang menunduk menatapnya.


"Begitupun Mas Hans, yang ternyata memang jodoh terbaik yang diberikan Allah padaku." ucap Zoya dengan mengusap rahang tegas suaminya.


"Ayo kita tutup saja cerita masa lalu yang kurang enak di dengar." lanjut Zoya membuat Hans melabuhkan kecupan lembut di kening istrinya. Zoya. Dialah wanita yang selalu menenangkan perasaannya.


"Teruntuk istri tercintaku. Terima kasih selalu memberi maaf di setiap salah dan khilafku." gumam Hans dalam hati. Lelaki itu mendongakkan wajah istrinya dengan satu jari telunjuknya dengan sedikit menundukkan tubuhnya di bibir mungil yang selalu dia rasakan lembut dan manis.


"Biarpun waktu mengurangi kesempurnaan fisik kita. Tapi, waktu pula yang memberi ruang untuk membesarkan perasaan cinta kita, Zoy." Zoya mempererat pelukannya terdengar degup jantung lelaki yang sudah menjadi bagian dari kehidupannya. Bukan hal yang biasa didengar Zoya saat suaminya bicara semanis itu.


###


Seperti yang sudah dia rencanakan, Shakti dan Arka memulai perjalanan menuju Villa milik Shakti yang ada di luar kota.


"Kenapa harus ke Villa. Kita bisa menginap di hotel, kan?" tanya Arka saat mendengar perintah Shakti untuk langsung ke Villa. Bagi Arka jarak Villa dan pabrik baru lumayan cukup jauh.


"Kenapa? Toh kita yang ditunggu mereka, kan? Paling cuma empat puluh lima menit jarak tempuhnya." Arka langsung terbungkam, jika Shakti sudah terlihat ngotot dan itu bukan suatu masalah baginya mata terjadilah.


"Kalau kamu capek nyetir, kamu bisa pakai sopir kantor atau tukang kebun villa. Pak Agus bisa nyetir juga." lanjut Shakti dengan tersenyum. Dari dengusan nafas berat Arka, Shakti tahu jika Arka tidak terlalu menyetujuinya.


"Anggap saja untuk mengenal daerah sini." Shakti menepuk bahu lelaki yang saat ini malajukan mobil range rover milik.

__ADS_1


"Iya-ya. Bos selalu benar." sambut Arka membuat Shakti terkekeh geli. Shakti memang selalu ngotot untuk apa yang dianggap benar.


Mobil mulai menanjak dan melewati jalan yang menukik, Atmosfir pun terasa lebih segar, banyak pepohonan yang tumbuh dengan begitu rapat memberi jarak pada bangunan yang masih terlihat jarang.


Arka terlihat begitu serius melajukan mobilnya, sedangkan Shakti masih menikmati indahnya suasana yang sangat jarang dia temui. Tak terasa mobil itu berhenti di sebuah tanah lapang di dekat sebuah Villa megah.


"Biar Pak Agus yang memasukkan barang barangnya ke dalam." ucap Shakti sebelum turun dari mobil.


Lelaki itu berjalan terlebih dahulu menuju ke villa untuk mencari Pak Agus. Iya, Arka pun segera menyusul Shakti dengan membawa satu ransel yang dirasa memang perlu dibawa sekarang.


Langkahnya memelan saat melihat seorang gadis berdiri menatap setiap gerik sahabatnya. Gadis dengan tampilan sederhana dan berwajah polos itu terus melihat Shakti yang melangkah ke bangunan kecil yang ada di samping Villa.


"Kenapa melihatnya seperti itu?" suara Arka mengagetkan Dinda. Gadis itu langsung terlihat salah tingkah saat tertangkap basah memperhatikan Shakti.


"Oh.. itu, bapak sedang keluar!" ucap Dinda dengan tergagap. Arka merasa heran, sejak tadi Arka memperhatikan tatapan gadis yang terbilang cantik dan polos itu tidak lepas dari sosok yang sudah masuk villa lebih dulu.


Ini memang bukan pertama Arka datang ke sini bersama Shakti. Dia tidak lagi asing dengan bangunan Classic berlantai dua itu.


"Pak Agus sedang pergi. Kata pitrinya yang tadi sedang merapikan taman." ucap Arka saat akan menaiki tangga.


"Ohh... " Shakti pun langsung berbalik bermaksud mencari udara segar di luar, " Ini teh hangatnya, Mas." Dinda menghentikan langkah Shakti dengan membawa nampan yang terdapat dua cangkir kopi, lengkap dengan kue yang sudah dia buat sebelum tamunya datang. Pak Agus memang sudah memberikan pesan pada putrinya agar bersiap menyambut kedatangan pemilik Villa.


"Ark... teh hangat." panggil Shakti saat melihat Arka sudah sampai di atas.


"Aku mau mandi, dulu!" jawab Arka. Lelaki itu bukannya melihat sahabatnya tapi malah memperhatika Dinda yang menatap kagum Shakti.


"Nama kamu siapa?" tanya Shakti pada Dinda. Shakti mulai duduk dan menyesap teh hangat nya.


"Dinda." jawab gadis yang masih berdiri tidak jauh dari Shakti.

__ADS_1


"Ya sudah, kamu bisa pergi. Nanti kalau Pak Agus datang, minta beliau untuk menurunkan barang barang yang ada di mobil." ucap Shakti sambil menatap layar ponselnya.


"Baik, Mas. Saya permisi." jawab Dinda. Gadis itu melangkah menuju ke pintu samping penghubung antara bangunan mewah itu rumah kecil yang ada di samping. Tapi sebelum menghilang dari balik pintu, Dinda sempat menoleh ke belakang melihat lelaki yang terlihat fokus dengan layar ponselnya itu.


Gadis itu benar benar mengagumi ke wajah ganteng Shakti. Hidung mancung, kulit putih, matanya tajamnya dan rahang tegas yang menyiratkan karakternya yang cukup kuat dan menarik bagi yang melihatnya. Dinda tersenyum, gadis yang sudah menghilang dari balik pintu itu mencemooh kekagumannya pada tuannya.


###


"Kamu kenapa duduk termenung?" tanya Laras saat meletakkan bokongnya di dekat Alexa.


Sore yang melukiskan warna jingga yang begitu menawan di ufuk barat membuat Alexa mengingat seseorang yang sudah ingin dia lupakan tak selalu gagal.


"Kenapa dua hari ini dadaku rasanya berdesir aneh ya mbak? Padahal aku cukup istirahat dan di sini makanan yang aku makan justru lebih sehat." keluh Alexa, desiran dadanya yang begitu kuat membuatnya mengkhawatirkan kesehatan jantungnya.


"Apa kamu memikirkan seseorang?" tebak laras. Dia merasa Alexa masih menyimpan rasa pada lelaki yang sudah membohonginya dan membuatnya tersisihkan seperti sekarang.


"Nggak, Mbak. Aku hanya memikirkan keluargaku." Jawab Alexa dia selalu mengelak jika dia masih menyimpan perasaan terhadap Shakti. Alexa hanya menyimpulkan, jika terkadang dia memikirkan lelaki itu, dia hanya butuh waktu untuk melupakan semuanya.


Begitulah Alexa gadis lembut dengan kemauannya yang kuat. Apapun yang sudah menjadi keputusannya, maka tidak mudah untuk menggoyahkannya.


"Mbak juga pernah merasakan jatuh cinta dan rasa rindu." ucap Laras dengan menyenggol lengan gadis yang sudah dianggap adiknya itu. Diam- diam laras juga sudah menabung jika gadis yang dipanggilnya salma ingin pulang ke pada keluarganya. Dia merasa tempat terbaik bagi Alexa memang keluarga.


"Ibu..." Terlihat dewa keluar rumah dengan berlari. Wajah ganteng bocah itu seperti mengingatkannya pada seseorang tapi sampai saat ini Alexa belum bisa menjawab terkaan dari pikirannya.


"Ibu, Dewa lapar. Sama Uti (Bu Seno) dikasih ayam bakar. Uti sendiri yang masak, katanya." ucap Dewa dengan menarik tangan laras agar mengikutinya ke dalam. Dewa memang memanggil Bu Seno dengan sebutan Uti alias Eyang Putri.


"Mau makan sekalian?" tanya Laras pada Alexa.


"Boleh." Alexa pun beranjak dari duduknya mengikuti Dewa dan Laras. Sejak tinggal di kampung, Alexa tidak pernah makan malam. Penerangan yang terbatas membuat makan ke tiga mereka terjadwal sore menjelang petang.

__ADS_1


__ADS_2