
Sepanjang kegiatan, Arkha dan Rania tidak banyak bicara. Di perjalanan untuk kembali ke kantor juga tidak ada percakapan sama sekali antara keduanya. Gadis itu masih terlihat Shock, karena perasaannya tidak mudah untuk dibalikkan begitu saja.
Sedangkan Arkha, masih melamunkan pertemuannya dengan Pak Zain salah satu kolega perusahaan yang dia jumpai dua hari yang lalu di sebuah restoran bersama istrinya.
Lelaki berumur setengah abad itu ternyata memberi pengaruh banyak pada pemikiran Arkha. Pak Zain memang sudah terlihat berumur, tapi cara beliau memperlakukan istrinya seperti pasangan yang masih baru.
'Lelaki atau sosok suami itu harus bertanggung jawab. Tanggung jawab itu tidak hanya memberi nafkah lahir dan batin. Tanggung jawab dengan keputusannya yang sudah menikahi anak gadis orang. Jadi apapun kondisinya dia akan menjaganya dan memperlakukan gadis itu dengan baik. Tanggung jawab untuk mempertahankan dan menjaga kebahagian keluarganya. Apapun pilihan dan keputusannya seseorang harus bertanggung jawab atas semua itu. Ya, jika bicara tanggung jawab itu akan mempunyai konteks yang begitu luas.'
Kalimat Pak Zain yang terus saja terngiang membuat Arkha ingin sekali menjadi sosok suami yang baik meski belum bisa mencintai Hanum sepenuhnya.
Pak Zain adalah lelaki berumur yang begitu mencintai istri dan menjaga keluarganya meskipun mereka belum dipercaya mempunyai keturunan.
Mobil membelok ke arah parkiran kantor. Arkha dan Rania turun dan berjalan menuju lift.
Diikuti Rania, Arkha terus berjalan menuju ruangannya. Lelaki gagah yang selalu menunjukkan wibawanya di depan setiap bawa hanya itu membuat setiap orang yang di lalui mengangguk hormat.
"Ceklek... " Arkha langsung saja membuka pintu ruangannya. Senyumnya mengembang kala dia mendapati Hanum yang sudah duduk gelisah di sofa dalam ruangannya.
"Sudah lama?" tanya Arkha dengan meletakkan ponselnya di meja kerja kemudian berjalan menghampiri Hanum di sofa tanpa menoleh pada Rania yang sedang meletakkan beberapa map di mejanya.
"Semua berkas tinggal ditanda tangani, Pak." ucap Rania dengan menatap kotak makanan yang sudah siap di meja. Gadis itu merasa tidak senang melihat kedekatan keduanya. Selama ini, dia menyangka jika Arkha hanya terpaksa menikah dengan adik tingkatnya itu.
"Baiklah, setelah jam makan siang kamu bisa mengambilnya lagi." jawab Arkha membuat Rania memundurkan langkah dengan berat saat keluar ruangan. Itu artinya gadis itu tidak ada kesempatan untuk mengajak Arkha makan siang.
"Kamu kuliah jam berapa? " tanya Arkha saat Hanum menyiapkan makanan untuknya.
"Nanti jam setengah satu." jawab Hanum. Arkha melirik sejenak istrinya, wajahnya memang terlihat kalem meski terkadang sikapnya seperti singa betina yang siap menerkam.
"Kenapa melihatku seperti itu?" tanya Hanum, gadis itu begitu salah tingkah saat lirikan tajam itu mengarah kepadanya.
"Kamu cantik." lirih Arkha membuat Hanum tersipu, Hanum merasa akhir- akhir ini Arkha bersikap manis padanya.
"Kamu tahu, jika Kak Ale-mu hamil?" tanya Arkha membuat Hanum melebarkan matanya. Dia belum mengetahui kabar kakaknya atau keluarganya karena terlalu sibuk mengurus kuliah dan toko yang semakin banyak orderan.
"Benarkah? Ayo kita ke rumahnya!" ajak Hanum dengan wajah berbinar. Dia sangat senang mendengar kabar bahagia itu. Selama ini belum ada yang memberitahunya tentang kabar bahagia itu.
"Aaaak... " Arkha mengarahkan sendok nasinya ke arah mulut Hanum. Sementara Hanum menggeleng untuk menolaknya.
__ADS_1
"Aaak... " Dengan masih menyodorkan sendoknya dia menatap tajam ke arah Hanum, membuat gadis itu tidak bisa menolaknya lagi.
"Aku tadi sudah sarapan, Kak. Takut gendut, udah pendek gendut, nggak lucu kan?" Hanum berbicara dengan mulut penuh. Sementara, Arkha tersenyum tipis menanggapinya. Gadis itu kalau nggak uring uringan terlihat lucu.
"Tetap cantik." ucap Arkha, menampilkan wajah manisnya. Wajah Hanum mulai menghangat karena rasa malu.
"Alexa berada di rumah peninggalan Oma. Dia sedang ada masalah serius dengan Shakti." jelas Arkha membuat Hanum melotot.
"Masalah apa?" selidik Hanum. Sudah lama dia memang tidak pulang ke rumah dan saat menelpon rumah pun tidak ada yang cerita tentang masalahnya Kak Alenya itu.
"Besok kita temui Kak Ale. Hari ini kamu kuliah, kan?" tanya Arkha dengan menyuapkan sendok terakhir ke mulut Hanum.
"Iya bahkan, ada kuis juga." jawab Hanum dengan mulut penuh. Berlahan rasa canggung diantara keduanya pun terkikis. Hanum yang biasanya sedikit kaku saat bersama Arkha pun sudah melunak, senyumnya terlihat begitu bersemangat.
####
Alexa menghubungi Nindy. Beberapa hari di kamar dia begitu jenuh, bahkan pikiran buruknya semakin liar menguasai otaknya. Dia memutuskan untuk keluar rumah mengatur janji dengan Nindy di sebuah mall.
Setelah Salat Ashar, Alexa memoles wajahnya dengan make up tipis. Tapi saat akan membalur kulitnya dengan lotion, benda itu pun tidak lagi di temukan di meja riasnya.
"Perasaan aku kemarin masih memakainya. Tapi kok nggak ada?" Alexa sedikit bingung tapi dia pikir karena lupa menaruhnya dan kebetulan dia akan ke mall sekalian untuk membelinya.
Sejenak dia lega, karena Shakti pasti belum pulang. Dia tidak perlu lagi melihat wajahnya yang memuakkan meski ada setitik kecil sebuah kerinduan yang berusaha dia lebur karena rasa kecewa.
"Bi, aku keluar dulu ya! Jika Papa ke sini bilang saja aku sedang membeli buah di mall." ucap Alexa berpamitan. Wanita paruh baya yang mengagumi nona mudanya itu pun terpana melihat kelembutan dan kecantikan wanita yang kini berada di depannya.
"Iya, Non. " jawab Bi Romlah masih menatap penuh kekaguman wanita yang kini melangkah keluar rumah dengan begitu anggun.
"Pantas saja Mas Shakti tergila gila dengan Mbak Lexa. Dia memang cantik luar dan dalam." gumam Bi Romlah yang kemudian tersadar untuk melaporkan kegiatan Alexa pada Shakti. Tentu saja itu karena Shakti meyakinkan wanita itu jika sudah ada kesalahan fahaman dan juga sudah memberikan banyak imbalan pada Bi Romlah untuk segala informasi.
Mobil taxi berhenti di sebuah bangunan yang cukup ramai pengunjung. Dia pun berjalan dengan langkah tergesa untuk mencari resto yang ada di dalam Mall untuk bertemu Nindy.
"Hae, hati hatilah." Alexa pun terkaget dan kemudian mendongak ke wajah lelaki yang hampir saja dia tabrak.
"Maaf... " ucap Alexa memberi jarak pada Daniel dan kembali melangkah.
"Hae, kenapa buru-buru? " sergah Daniel dengan mencekal lengan Alexa.
__ADS_1
"Lepaskan tangan, anda." pinta Alexa lirih dengan meronta berusaha melepaskan tangannya dari genggaman erat Daniel.
"Bagaimana jika kita makan dulu, baru aku akan melepaskannya." Daniel berusaha melakukan jebakan untuk Alexa. Lelaki itu memang selalu berkuasa hingga dia tidak Terima jika Shakti bisa melebihinya.
"Lepas!" geram Alexa dengan terus meronta.
"Atau aku akan berteriak." ancam Alexa membuat Daniel terkekeh.
"Silahkan dan kita akan menjadi tontonan. Tidak sulit permintaanku, hanya untuk bisa saling mengenal." ucap Daniel membuat Alexa semakin emosi.
"Aku sudah menikah. Lepaskan!" tolak Alexa. membuat beberapa orang menatap keduanya.
"Tinggal menemani aku makan sambil berbincang." bujuk Daniel lagi. Dia memang begitu menginginkan Alexa, selain cantik dia juga milik Shakti. Dia memang sangat ingin membuat Shakti merasa terpuruk, sayang sekali saat dia menggoda Clarisa, gadis itu sudah tidak ada arti lagi untuknya setelah putus dengan Shakti.
"Lepaskan, dia! Atau aku yang akan berteriak." Suara tegas seorang wanita membuat keduanya menoleh. Laras dengan perut membuncit itu pun membuka cengkeraman tangan Daniel dan Dewa pun mendorong tubuh jangkung itu sekuat tenaganya.
"Siapa kamu?" tanya Daniel.
"Aku Kakaknya." jawab Laras dengan lantang.
"Kapan kapan kita akan bertemu lagi, cantik." Daniel pun tersenyum sumbang dan melirik Alexa ketika berjalan menjauh dari dua wanita hamil itu.
"Mbak Laras, Dewa... apa kabar." kemarahan Alexa pun sekejap berganti dengan rasa bahagia kala bertemu kembali dengan Laras dan Dewa.
"Tante Salma tidak apa apa? Kenapa Om itu jahat? " tanya Dewa masih terlihat bingung.
"Tante tidak apa apa. Ayo kita ngobrol sambil makan." ajak Alexa dengan menggandeng Dewa menuju restoran.
Mereka pun masuk ke dalam restoran untuk melepas kerinduan dan menunggu Nindy. Suara ponselnya yang terus bergetar membuat Alexa melihatnya. Ternyata banyak pesan dari Shakti.
Ay, kamu di mana?.
Ay, kamu baik baik saja, kan?
Ay, apa perlu aku jemput?
Pesan beruntun dari Shakti membuat Alexa kesal. Tapi, bagaimana jika dia bertemu Daniel lagi? Dia masih gamang untuk memutuskan apa yang harus dilakukannya.
__ADS_1
'Haruskah, aku meng- iyakannya? atau aku meminta Nindy untuk mengantarku? Tapi laki laki itu terlihat mengerikan. Atau aku menghubungi Papa saja ya? Tapi, aku sudah terlalu banyak merepotkan Papa.'
Alexa bermonolog dengan pikirannya. Jujur, setiap bertemu Daniel dia merasa insecure. Lelaki itu terlihat sangat berbahaya.