Rindu Alexa

Rindu Alexa
Perjalanan


__ADS_3

"Kenapa kamu tidak bisa tidur? Apa yang sedang kamu pikirkan, Ay?" tanya Shakti setelah mereka baru saja bertukar keringat. Lelaki itu masih memeluk tubuh kecil itu di dalam selimut.


"Bagaimana nanti? Saat aku kembali di kota, lingkunganku yang sebenarnya, teman temanku dan orang orang yang mengenalku? Bagaimana aku harus menjelaskannya?" ucap Alexa dengan penuh rasa khawatir.


Shakti hanya tersenyum, dia tahu istrinya bukan tipe orang yang terbiasa menghadapi permasalahan-permasalahan yang rumit.


"Bilang saja kita bulan madu." jawab Shakti dengan entengnya. Jari jari besarnya menyingkirkan anak rambut istrinya yang menutupi wajah cantik itu.


"Iya tapi, jika mereka pasti bertanya bagaimana aku bisa menikah? Kenapa harus di sembunyikan? Padahal semua orang tahu Mas Shakti pacarnya Mbak Clarisa?" Alexa tidak bisa membayangkan jika orang orang terdekatnya bertanya sedetail itu tentang hubungannya yang cukup rumit ini.


"Ya Allah, Ay... kayak gitu jangan dibayangkan. Dijalani, setelah semua berita ciuman kita yang super hot itu beredar." Alexa langsung mencubit lengan suaminya, saat kalimat itu meluncur dengan entengnya.


"Cubitanmu itu sakit, Ay." protes Shakti.


"Kamu keterlaluan, Mas. Dosa saja bangga!" Alexa menatap tajam suaminya, tapi bagi Shakti istrinya semakin terlihat menggemaskan hingga dia mencubit pucuk hidung mungil istrinya.


"Karena Dosa itu aku bisa menikahimu, Ay. Coba nggak telanjur, mana setuju Papa Hans menikahkanmu padaku." jelas Shakti. Iya terkadang musibah bisa menjadi kemujuran jika kita bisa mengendalikannya.


"Aku juga nggak mau jika tidak sudah telanjur."


"Benarkah? Nggak mau jauh jauh, mungkin!" Shakti langsung menarik tubuh Alexa hingga wanita itu memekik dan berusaha memberontak.


"Jangan bergerak jika tidak mau terjadi ronde kesekian." Seketika Alexa langsung terdiam. Yang baru saja terjadi sudah membuatnya kelelahan.


Shakti memang pandai memaksa. Kisah bersama Alexa memang sangat berbeda dari sebelumnya. Bersama Alexa dia memang lebih dominan, dia begitu nyaman menjalani hubungan dengan wanita senaif Alexa.


###


"Saksi, sah?"


"Sah."


"Sah."

__ADS_1


Terlihat Agam mencium kening Laras setelah saksi mengucapkan kata 'Sah'. Wanita dengan kebaya putih yang simple itu terlihat cantik dan anggun. Aura bahagia dan sapuan make up flowless membuat wanita itu bagaikan Cinderella, kecantikan yang terlihat tiba tiba.


Akad pernikahan secara agama yang dilakukan Agam dan Laras pun berjalan dengan lancar. Semua penduduk kampung yang tidak seberapapun datang untuk menyaksikannya dan memberi selamat kepada keduanya. Yang tidak tampak memang Pak Tono, lelaki itu memilih tidak hadir karena kecewa gagal mempersunting Laras yang sudah dia idam idamkan sejak lama.


"Selamat, Bro! Tapi sayang, kamu sudah mencicil malam pertamanya! Jadi sudah tidak ada yang ditunggu- tunggu." bisik Shakti membuat Agam hanya tersenyum. Lelaki yang sudah menggoda mempelai pria tidak menyadari jika istrinya sudah memperhatikannya sejak tadi.


"Terima kasih. Tapi, aku masih menunggunya." balas Agam. Biar bagaimanapun lelaki yang mulutnya nyinyir itu sudah membuatnya tersadar akan hubungannya dengan Laras.


Setelah mengantar Laras berganti, Alexa pun keluar kamar menghampiri suaminya. Hari ini mereka memang harus berangkat ke kota, jadi Alexa mengajak Shakti untuk berkemas.


"Kalau nggak bisa bicara baik lebih baik diam, Mas!" ujar Alexa sambil bersiap untuk pergi. Kali ini dia mengenakan celana kain, satu satunya celana yang dia bawa dari kota.


"Mungkin aku masih bebas. Jika sudah di kota peranku sudah beda, Ay. Jadi jika suatu saat aku terlalu cuek, aku harap kamu bisa mengerti." jelas Shakti dengan menggendong Ranselnya di depan dada.


"Tapi, mungkin aku tidak bisa nyuekin istri secantik kamu, Ay." bisik Shakti dengan menundukkan tubuhnya untuk mencuri cium pipi cabi Alexa.Wanita yang sedang membenarkan tampilannya itu hanya berdecih, dia harus terbiasa hidup dengan seseorang yang bersikap semaunya sendiri.


Shakti melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya, sudah pukul sepuluh pagi dan itu membuatnya bergegas membawa istrinya untuk secepatnya keluar kamar. Mereka berdua sudah bersiap untuk melakukan perjalanan.


"Kalian berangkat sekarang?" tanya Tante Gendis saat melihat keduanya sudah bersiap pergi.


"Tante Salma, Om Shakti kita tidak bisa main ke gunung lagi." ucap Dewa kemudian memeluk kaki panjang Shakti.


"Kan, Dewa sudah ada Bapak." ucap Shakti dengan mengangkat tubuh Dewa dan mencium sayang bocah itu.


"Dewa bisa mengajak Papa Agam untuk main ke tempat kita biasa main." timpal Alexa sambil tersenyum ke arah bocah yang selalu menemaninya saat pertama kali dia datang di tempat ini.


"Nanti kalau kita sampai di Kota, kita main ke tempat Tante Salma dan Om Shakti ya." ucap Agam dengan mengambil putranya dari gendongan Shakti.


Setelah saling memberikan pelukan perpisahan. Mereka pun keluar hingga sampai halaman untuk mengantar kepergian Shakti dan Alexa.


"Pegangan yang erat, Ay!" ucap Shakti saat menghidupkan mesin motornya.


Sambil melambaikan tangannya alexa memeluk perut keras Shakti. Lelaki itu mulai melakukan motornya meninggalkan halaman rumah Tante Gendis. Perjalanan kali ini berbeda dari biasanya, mereka harus melewati perjalanan jauh dengan sepeda motor.

__ADS_1


"Ay, jika kamu capek bilang!" teriak Shakti dengan membuka kaca helmnya. Lelaki itu hanya menghawatirkan kondisi istrinya.


"Iya, Mas." jawab Alexa tak kalah berteriak. Dia kemudian memilih menyandarkan kepala dan memeluk punggung suaminya.


###


Hanum berjalan dengan tergesa-gesa ke arah unit apartemen Arka. Dia barus saja menerima kabar jika Arka saat ini berada di apartemennya. Gadis itu meminta izin pada Aleks yang sedang menjaga Mama Zoya yang sedang tidak enak badan untuk keluar sebentar.


Hanum memang ingin bertanya bagaimana kabar pencarian Kak Ale yang dilakukan oleh Shakti. Kenapa sampai sekarang tidak ada kabar dari keduanya.


Dengan tidak sabar dia terus memencet bel apartemen Arka.


"Eh Hanum. Ada apa?" tanya Arkha saat mendapati gadis yang membuatnya harus menyiapkan kesabaran ekstra. Dia sangat menyesal karena telah mengatakan jika dirinya balik ke kota kala gadis itu bertanya tentang keberadaannya dan Shakti.


"Nggak boleh masuk?" ketus Hanum dengan berkacak pinggang. Sungguh, Arka sangat malas menatap gadis yang tingkahnya begitu arogan, tapi dari pada ribut lelaki yang sedang tidak enak badan itu memilih untuk mempersilahkan masuk.


"Kamu ingin minum apa?" tanya Arka langsung mengajak Hanum untuk duduk di meja makan.


"Nggak usah. Aku hanya ingin bertanya bagaimana, kabarnya Mas Shakti."


"Kak Arka, biasa minum wedang jahe?" Hanum langsung mengalihkan pertanyaannya saat melihat segelas wedang jahe di meja.


"Sedikit nggak enak badan aku. Mungkin karena harus wira wiri luar kota." jawab Arka, kesibukan membuatnya akhir akhir ini juga menggunakan jasa sopir kantor.


"Sudah sarapan?" pertanyaan Hanum membuat Arka sedikit heran.


"Belum, aku lagi malas makan." Mendengar jawaban Arka Hanum langsung berjalan ke arah kulkas untuk melihat bahan yang ada di dalamnya.


"Mau aku buatkan sup? Biasanya Mama suka membuat sup jika kami tidak enak badan." jawab Hanum.


"Kamu bisa masak?" tanya Arka sedikit ragu. Dia tidak yakin gadis galak, ketus, arogan itu bisa memasak.


"Biarkan aku mencoba." Hanum langsung mengeluarkan sayur dan daging untuk membuat sup.

__ADS_1


Arka masih merasa heran, meskipun kali ini dia melihat Hanum bergerak dengan luwes di dapur.


__ADS_2