Rindu Alexa

Rindu Alexa
Cerita Yang Sebenarnya


__ADS_3

Seusai Salat Subuh, seperti biasa Laras langsung memulai aktifitasnya di dapur, kali ini Dewa masih tidur. Dia harus membuat sarapan pagi untuk pekerja yang akan memanen padi milik Bu Seno.


"Laras, siapa yang datang semalam?" tanya Bu Seno yang datang untuk membantu Laras di dapur. Wanita paruh baya itu sudah menganggap Laras seperi putrinya. Bahkan, beliau juga sudah memikirkan dan menyiapkan masa depan untuk Dewa.


"Pak Tono, Bu. Beliau hanya mengabari jika besok ada posyandu di balai RW." jawab Laras masih dengan memotong sayuran.


"Semalam Kang Asep teriak teriak memanggilmu katanya ada yang nyari. Langsung saja aku cari kamu ke kamar Salma." cerita Bu Seno sebelum dia mencari Laras ke kamar Alexa.


"Nanti sehabis ngantar makanan ke sawah, Laras langsung ke balai RW." Kalimat laras membuat Bu Seno mengangguk untuk mengiyakan.


"Kayaknya Pak Tono perhatian sama kamu, Ras." Kali ini Bu Seno ingin tahu perasaan Laras pada lelaki berstatus duda beranak tiga itu.


"Biasa saja, Bu. Bagi Laras Dewa adalah prioritas Laras. Semua bantuan Bu Seno sudah lebih dari cukup untuk membantu saya membesarkan Dewa." ucap Laras yang memang tidak punya rencana apapun untuk hidupnya kecuali Dewa.


"Kamu masih muda, kamu juga cantik, Ras. Kamu berhak membangun masa depan dan kebahagiaanmu sendiri." Kalimat Bu Seno menghentikan gerakan Laras. Tiba-tiba dia kembali teringat pada Agam.


Apa kabarmu, Gam?


Hanya pertanyaan itu yang kini hanya bisa digumamkan dalam hatinya. Di dalam sana masih ada lelaki yang mengisi cinta pertamanya. Meskipun, dia sadar jika kemungkinan besar Agam sudah menemukan seseorang yang bisa memberinya kebahagiaan.


"Maafkan aku, Ras. Aku hanya ingin kamu bahagia melanjutkan hidupmu, dan menemukan seseorang yang tepat." lanjut Bu Seno kala melihat Laras mengusap setetes air yang keluar dari sudut matanya. Laras memang tidak pernah menangis, tapi wanita ada di sampingnya itu tahu, jika ada luka di sudut hatinya yang mungkin tidak bisa dia ceritakan.


Laras memang sedikit tertutup untuk urusan Pribadinya. Dia tidak ingin membahas apapun. Padahal dalam hati Gendis, wanita itu tidak rela jika Laras menyambut perhatian Pak Tono. Laras berhak mendapatkan yang lebih baik, sebagai mana orang tua yang mengharapkan kebaikan untuk putrinya.


"Aku sudah tidak apa apa, Mas." Tiba-tiba, suara Alexa terdengar hingga di dapur.


"Kamu masih sakit, Ay. Jangan terlalu memaksa." sahut Shakti. Pertengkaran itu, terdengar di ruang makan.

__ADS_1


"Kamu itu kalau dibilangin membantah terus. Kamu beda dengan yang dulu, Ay. Sekarang kamu susah dibilangin!" Shakti telanjur emosi dengan sikap Alexa yang tak mengindahkan permintaannya. Lelaki itu berharap Alexa istirahat saja agar bisa cepat sembuh dan dia bisa segera membawa Alexa dalam perjalan ke Vila.


Alexa terdiam, tenggorokannya terasa penuh hingga dia harus menelan salivanya dengan susah payah.


"Kamu menyesal, Mas? Aku memang seperti ini. Aku juga tidak memaksamu menikah denganku." Kalimat Alexa terdengar lirih penuh dengan penekan. Rasanya hatinya disinyalir ingin menangis. Iya, dia merasa Shakti tidak bisa menerima satu sisi buruk sifatnya yang terkadang memang alot.


Melihat wajah Alexa memerah dengan mata berkaca kaca, Shakti yakin Alexa ingin menangis. Mungkin, saja kalimatnya barusan menyinggung perasaan istrinya.


"Sepertinya Salma menangis, Bu." bisik Laras dengan menajamkan pendengarannya. Laras bisa mengerti karena sejak mengenal Alexa, dia tahu, jika gadis dengan perangai lembut itu terkadang manja.


"Biarkan saja. Pasangan baru memang selalu ribut untuk memenangkan ego masing-masing. Habis itu juga nanti peluk-pelukan lagi." lanjut Bu Seno dengan membungkus makanan yang akan di bawa ke sawah. Laras pun tersenyum. Mungkin akan seperti itu jika punya pasangan.


Laras sudah membawa tas besar berisi makanan dan minuman ke sawah. Dari dalam rumah terlihat nampak Shakti sedang berusaha membujuk Alexa yang terlihat cemberut. Mereka kini duduk di halaman depan.


"Kalian mending sarapan dulu. Nanti keburu dingin, gih." ucap Laras saat melewati pasangan yang masih belum juga berdamai. Wanita itu kemudian berjalan menuju sawah saat mentari masih terlalu malu malu menampakkan diri.


"Apa aku bilang, setidaknya aku membantu Mbak Laras membuat sarapan. Bukan malah tinggal makan saja. Enggak enak,Kan?" gerutu Alexa tanpa melihat Shakti yang hanya menatapnya saja tanpa menjawabnya.


"Ay... " bujuk Shakti. Tapi masih saja tidak membuat Alexa bergeming. Saat tangan kecilnya akan diambil oleh Shakti membuat Alexa langsung menarik tangannya degan gesit.


###


Di kota yang cukup Asing, Agam mencari Laras sesusai sesuai dengan Alamat yang sudah dia minta dari mamanya.


Kota yang sedikit lebih sepi. Lelaki yang sudah tidak merasa lelah itu turun dari mobil bertanya dimana tepatnya alamat ada di kertas yang dia bawa.


Dia kembali melajukan mobilnya, setelah mendapatkan sedikit petunjuk jika alamat yang dia tuju ada di sekitar pasar yang ada di pinggir kota tersebut.

__ADS_1


Entah karena lelah atau ada hal lain, jantungnya berdetak begitu kencang, menggebu di dalam dada. Tengah malam dia sampai di sebuah pasar yang cukup ramai. Dia menghentikan mobilnya di depan sebuah warung makan sederhana yang ramai pengunjung.


Lelaki yang saat ini terlihat begitu lelah itu akhirnya masuk ke dalamnya. Selain untuk mengisi perutnya yang sudah sejak tadi berbunyi dia juga bisa istirahat dengan bertanya alamat yang dicari.


Agam memesan nasi pecel dan teh hangat. Di warung itu cuma ada menu sederhana, karena mayoritas yang datang untuk makan para pedagang dan pekerja pasar.


"Pak, tahu alamat ini?" Agam mencari kesempatan untuk bertanya saat seolah pelayan datang membawakan pesanannya.


Bapak itu terdiam sejenak dengan mengamati Agam. Agam memang ganteng, perawakan tinggi, kulit putih, hidung mancung dan tampilannya yang terlihat berbeda dari orang orang yang biasa mampir.


"Pak. " sapaan Agam membuyarkan lamunan lelaki berumur itu.


"Mas-nya belum tahu ya? Jika rumah itu kosong sudah lama." jelas bapak itu.


"Maksud bapak?" Seketika Agam langsung lemas. Satu satunya harapannya adalah orang tua Laras yang kabarnya pulang ke asalnya.


"Pemiliknya sudah meninggal. Dan anaknya yang hamil itu pergi dan menghilang, sampai sekarang dia tidak pernah kembali dan tidak ada kabarnya." Rasanya Agam kehilangan seluruh tenaganya. Dadanya terasa sesak. Laras hamil?


"Apa anak gadis itu ikut suaminya?" selidik Agam dengan rasa yang berdesir kuat dalam aliran darahnya. Iya, dia sedikit kecewa. Tapi, jika Laras menikah mungkin dia sudah bahagia.


"Dia hamil tapi tidak punya suami. Mungkin malu, Mas. Makanya dia pergi."


"Jika masnya ingin cari tahu kebenarannya, tanya saja pada rumah dekat masjid bercat hijau dibelakang warung ini. Masnya, lewat gang sebelah, masuk kira kira tujuh meter." Melihat Agam tanpa reaksi bapak itu pun meninggalkan lelaki yang hanya bisa duduk mematung.


Laras hamil? Dan belum menikah? Itu artinya anak dalam kandungannya anakku.


Tidak ada kabar yang lebih menyakitkan bagi Agam kecuali berita ini. Tubuhnya seperti terlempar jauh hingga sulit untuk digerakkan tapi hatinya berdesir hebat menahan rasa pedih yang sulit untuk di ungkapkan. Lelaki itu pun tak kuasa menahan setetes air yang memaksa keluar dari sudut matanya.

__ADS_1


Laras. Rasa bersalah pada gadis itu kini membuncah dalam hatinya.


Bersambung....


__ADS_2