Rindu Alexa

Rindu Alexa
Kedatangan Rania


__ADS_3

Di meja makan Hans masih setia mendengar perdebatan antara putri dan menantunya yang tidak kunjung menemukan titik temu. Meskipun tidak merespon apapun tapi lelaki berumur itu masih berusaha memahami permasalahan mereka.


"Aku tidak akan meninggalkanmu dan anak kita sendirian di sini. Dimana pun kamu tinggal di situ aku akan bersamamu." Terdengar Shakti begitu ngotot tidak ingin meninggalkan istrinya.


"Aku tidak sudi lagi satu atap denganmu." protes Alexa menunjukkan sisi lain dirinya yang juga mewarisi karakter keras papanya. Tidak ada lagi Alexa yang lembut dan penurut.


"Terserah tapi aku tidak akan membiarkanmu sendiri, Ay. " Shakti tak kalah ngotot. Tidak ada kesepakatan yang tercipta dari keduanya. Mereka masih bertahan dengan kebenaran masing masing.


Sedangkan Hans masih mencerna perdebatan mereka dengan mengaduk kopi hitamnya yang baru saja di buatkan oleh Bi Romlah, asisten rumah tangga yang bertugas menjaga kondisi rumah peninggalan Mama Shanti agar tetap terawat selama tidak ada tuannya.


Hans menyesap kopinya tanpa merasakan nikmat. Otaknya masih berfikir apa yang harus dia lakukan untuk putrinya. Sebelum bertindak dan mengambil ketegasan , Hans juga berniat mencari kebenaran atas semuanya.


Seandainya Zoya tahu masalah ini, mungkin dia akan meminta pertimbangan kepada istrinya. Tapi Hans masih merahasiakan masalah Alexa dari Zoya, sebelum dia menyelidiki sendiri kebenarannya.


"Terserah kamu! Tapi jangan coba coba masuk kamarku!" terdengar gertakan Alexa yang sudah putus asa mengusir Shakti. Tapi lelaki itu masih tak bergeming menatap kepergian istrinya.


'Untuk sementara membiarkan Shakti tinggal di sini akan jauh lebih baik. Karena aku yakin lelaki itu tidak akan membiarkan Alexa dan calon cucuku terkena masalah." gumam Hans dengan keputusannya.


Lelaki yang punya tinggi maksimal itu kemudian bangkit dan berjalan keluar untuk membereskan semua urusannya hari ini.


"Pa... " sapa Shakti menghentikan langkah Hans. Bagi Shakti, Hans memang bersikap cuek padanya.


"Pa, aku tidak akan menyetujui jika Alexa mengajukan perceraian. Aku akan tetap tetap mempertahankan keluargaku." ucap Shakti setelah berada di dekat papa mertuanya. Hans sendiri masih terdiam dan melayangkan tatapan tajam ke arah menantunya itu.


"Untuk itu aku akan tetap tinggal bersama Alexa sampai bisa membuktikan aku tidak pernah mengkhianatinya, Pa." lanjut Shakti dengan kalimat mengiba. Iya sebenarnya lelaki itu sedang frustasi selain masalah Alexa yang belum menemukan titik temu. Perusahan juga sedang mendapatkan sedikit masalah.

__ADS_1


" Jangan sampai kamu melukai Alexa lagi! Jika sampai kamu menyakiti lagi putriku aku pastikan aku sendiri yang akan membunuhmu." Hans menekan kalimatnya dengan tajam. Seolah peringatan itu buka hanya sebuah gertakan.


Tanpa menunggu reaksi dari Shakti Hans pun keluar meninggalkan menantunya yang masih mematung menatap kepergiannya. Sumpah Demi apapun rasanya dia sangat lelah, tapi hari ini dia juga harus menemui beberapa investor yang akan bekerja.


###


Pagi yang seharusnya dia gunakan untuk membuat sarapan malah menjadikan Hanum hanya bertopang dagu di atas meja makan. Sedangkan Arkha menghabiskan beberapa menit di ruang gym bersama besi besinya untuk membentuk otot tubuhnya.


"Ya Allah, jadi kangen Mama Zoya." lirih Hanum mengingat setiap pagi biasa dia hanya tinggal menikmati sarapan pagi tanpa bersusah payah mikir masak apa untuk menu pagi ini.


"Pagi-pagi sudah melamun." ucap Arkha kemudian dengan tubuh penuh keringat memeluk kepala Hanum dan membawanya menempel pada perut kerasnya.


"Ih... Kak Arkha, ini lengket bau acem lagi!" Hanum berusaha mendorong tubuh berotot itu sambil merutuki kelakuan jorok lelaki yang hanya mengenakan singlet uang sudah basah dengan keringat.


"Ntar kamu ketagihan menghidu aroma keringatku, lo." Mendengar kalimat Arkha membuat Hanum memonyongkan bibirnya seolah dia tidak percaya dengan bualannya.


"Kak, aku lagi malas ngapa- ngapain? Aku juga kangen Mama Zoya. Biasanya setiap pagi aku tinggal makan, tidak harus dipusingkan mau makan apa." ungkap Hanum membuat Arkha tersenyum. Dia pun tidak mengharuskan Hanum untuk membuat sarapan, dia juga biasanya dia yang menyarankan untuk sarapan di luar. Tapi, karena Hanum terbiasa sarapan masakan rumahan membuat Hanum selalu menolak ajakan Arkha.


"Ya sudah biar aku yang buat sarapan, okey!" Dengan percaya diri Arkha berjalan menuju pantry. Kemudian membuka lemari pendingin dan mengambil satu kaleng sarden.


Hanum pun berjalan mengejar suaminya. Selain penasaran Arkha akan memasak apa? Dia juga merasa tidak enak jika membiarkan Arkha membuat sarapan untuk mereka.


"Aku kira mau memasak apa, ternyata sarden." gumam Hanum mengejek.


"Aku kan bisanya memasak sarden dan spaghetti, Num." sahut Arkha sambil nyengir di depan istrinya. Hanum pun berjalan mendekati Arkha mengambil alih kaleng sarden yang baru saja dibuka Arkha.

__ADS_1


"Biar aku saja yang membuatnya. Aku akan memberikan beberapa tambahan bumbu agar rasanya lebih mantap." tambah Hanum. Sambil tersenyum Arkha melirik gadis yang kini berada di dekatnya. Hanum memang unik, jika seperti ini Hanum terlihat begitu dewasa bisa mengurus semuanya.


"Terima kasih." ujar Arkha dengan mencuri satu ciuman di pipi halus Hanum. Wajah Hanum seketika merona. Arkha memang sering melakukan kejutan hingga membuat dadanya berdebar.


"Ting- tong... " suara bel membuat Arkha berjalan untuk membukakan pintu. Lelaki itu terus saja menggerutu karena pagi sekali sudah ada yang bertamu.


"Eh Rania. Silahkan masuk." Arkha langsung mempersilahkan masuk Rania. Seketika Rania terpesona dengan tubuh Arkha yang masih lembab karena keringat. Selain terlihat ganteng Arkha terlihat seksi dalam keadaan seperti ini.


"Ada apa Ran?" tanya Arkha memulai pembicaraan mereka.


"Saya hanya ingin memberitahu jika pertemuan dengan Pak Aksa di ajukan setengah jam lagi. Baru saja sekretarisnya mengabarkannya, Bang." jelas Rania membuat Arkha mendesah kesal.


"Baiklah aku akan bersiap terlebih dahulu." jawab Arkha kemudian bangkit. Dia sebenarnya ingin menikmati sarapan bersama Hanum, tapi pagi ini dia terpaksa harus menundanya.


"Hanum, sayang... " teriak Arkha membuat wanita yang masih fokus dengan masakannya sedikit terkejut hampir tidak percaya dengan panggilan yang baru saja ditujukan Arkha padanya.


"Sebentar lagi aku akan berangkat. Bisakah mengantar sarapan itu ke kantor?" tanya Arkha membuat Hanum tersenyum.


"Baiklah, kebetulan aku kuliah siang, Kak." sambut Hanum. Dia merasa senang, karena meskipun ada jadwal pagi tapi masakannya tidak akan sia-sia.


"Aku pukul sepuluh baru sampai di kantor. Kamu bisa datang sekitar jam segitu." lanjut Arkha diikuti anggukan Hanum.


Tidak hanya Hanum yang terkejut dengan panggilan Arkha untuk istrinya . Tapi, juga Rania. Ruangan apartemen yang tidak begitu luas membuat gadis itu melihat jelas bagaimana Arkha memperlakukan Hanum.


Rania menatap kecewa lelaki yang kini berjalan memasuki kamar. Ada rasa nyeri di dadanya, sikap Arkha pada Hanum memupuskan harapannya . Jika hanya mendengar kabar pernikahan Arkha dan Hanum yang janggal, Rania masih yakin jika hubungan mereka hanya sebatas status. Tapi, pagi ini dia bisa melihat sendiri keakraban keduanya. Bahkan, Hanum yang terkenal cuek dan ketus di kampus itu terlihat bersikap manis di depan suaminya.

__ADS_1


Tanpa sadar Rania meremas jari jarinya hingga berbuku. Dia sudah terlanjur menyukai bosnya itu. Arkha yang sudah memberinya banyak perhatian, meski tidak pernah menyatakan perasaannya membuat gadis itu menaruh harapan besar untuk hubungan mereka selanjutnya.


__ADS_2