
"Ayo kita beli kerak telur saja." ujar Alexa dengan menarik tautan jari-jari mereka menuju penjual kerak telur yang sedang mangkal dengan sepeda ontelnya. Alexa begitu bersemangat. Terakhir kali makan kerak telur bersama Helen saat mereka masih duduk di bangku kelas dua SDIT.
Shakti hanya mengikuti kemana Alexa menariknya. Kerak telur memang apaan itu? Pernah mendengar nama itu tapi tidak pernah melihatnya secara langsung.
Dengan bersemangat Alexa terus saja menarik lelaki yang memelankan langkahnya karena masih memikirkan istilah nama kerak telur.
"Dua porsi, Pak!" ujar Alexa saat tiba di depan bapak penjual kerak telur.
"Ay...." Shakti menarik ke belakang gadisnya.
"Makanan apa itu! Lihatlah, tidak hiegenis sama sekali." ucap Shakti yang meragukan makanan pedagang keliling.
"Husshhhh... " Alexa mengatupkan kedua bibirnya dengan jari telunjuk berharap kekasihnya tidak bicara lagi. Melihat Alexa yang menginginkannya, Shakti pun terdiam.
"Masnya ganteng dan mbaknya cantik. Sepertinya bukan orang sekitar sini." ucap penjual kerak telur dengan tersenyum melihat sepasang sejoli yang terlihat sangat serasi.
"Emang di sini tidak ada orang ganteng dan cantik, Pak?" tanya Shakti yang merasa aneh saja dengan pujian bapak tersebut.
"Mas ini!" Alexa mencubit kecil pinggang Shakti agar berhenti berbicar. Alexa tahu jika keluar songongnya, lelaki itu akan bicara semaunya sendiri.
"Apaan si, Ay! Wajar, kan jika aku bertanya." sambung Shakti membuat lelaki tua itu tersenyum menggelengkan kepala. Beliau tahu, dari cara keduanya saling melempar senyum dan tatapan keduanya jika mereka sedang dilanda asmara.
"Berapa, Pak?" tanya Alexa saat melihat penjual kerak telur mulai membungkus pesanannya.
"Dua puluh ribu, Neng." jawab penjual kerak telur.
"Yang bener?" tanya Shakti membuat si penjual itu terkaget.
"Iya, Mas. Kemahalan ya?" tanya penjual itu dengan salah tingkah saat melihat ekspresi Shakti yang membelalak ke arahnya.
"Sudah ambil saja kembaliannya." Hanya itu yang diucapkan Shakti saat menyerahkan selembar seratus ribuan.
"Beneran, Mas? Masih delapan puluh ribu lo!" teriak bapak itu saat melihat Shakti menarik Alexa pergi.
"Iya, Pak. Ambil saja." Suara lembut itu terdengar mengalun bersamaan dengan wajah cantik yang menoleh penuh dengan keramahannya.
"Ayo, Ay!" tanpa menoleh lagi lelaki itu terus merangkul bahu Alexa dan kembali berjalan.
"Terima kasih, Neng. Semoga selalu bahagia dan selamanya berjodoh." Suara bapak itu terdengar sangat girang. Alexa tersenyum, dia berharap doa tulus itu dikabulkan Sang Maha Pemberi.
__ADS_1
"Melakukan sesuatu yang benar, harus dilakukan dengan cara yang tepat, Mas." Ujar Alexa saat mereka masih berjalan tak tentu tujuan.
"Kamu mau jadi kritikus atau Bu Ustazah?" sambung Shakti dengan masa bodoh. Sementara itu, Alexa hanya berdecih menjawab pertanyaan lelaki yang terus saja merangkul bahu kecilnya.
"Mas kita berhenti di sini ya? Kita makan kerak telurnya." pinta Alexa saat berada di bawah salah satu pohon Mahoni yang berjajar rapi sepanjang jalan. Di kanan kiri jalan terdapat tanah lapang dengan rerumputan.
"Ini buat Mas Shakti." Alexa menyerahkan satu bungkus yang langsung di tolak oleh Shakti.
"Aku meragukannnya. Kamu calon dokter, tapi nggak hiegenis banget." lanjut Shakti yang hanya di sambut dengan senyum Alexa.
Alexa tidak memaksa lagi, dia menikmati sendiri jajanan masa kecilnya yang rasanya masih terasa nikmati. Shakti yang melihat gadisnya menikmati makanan itu dengan sangat lahap, membuatnya menelan saliva.
"Mana coba!" Shakti langsung manarik suapan yang hampir masuk ke mulut Alexa dengan berganti haluan menuju mulutnya.
Alexa hanya tersenyum melihatnya. Bahkan, Shakti menuntun tangan Alexa menusuk satu butir lagi untuk disuapkan ke mulutnya.
"Enak, kan? Ketagihan kan, Mas?" ledek Alexa dengan menahan senyum. Tanpa sebuah jawaban dari Shakti, Alexa bisa tahu jika lelaki gagah di depannya itu sangat menikmati jajan yang baru saja mereka beli.
"Nggak begitu enak, cuma aku lagi lapar saja." elaknya sambil clingak-clinguk mencari penjual kerak telur yang sudah menghilang dari tempat semula.
Mereka menikmati jajanan itu berdua dengan duduk di bawah pohon yang beralaskan rumput dan Ilalang.
"Tapi aku masih kangen, Ay." ujar Shakti sambil mengusap sisa saos di sudut bibir Alexa.
"Kamu itu sedikit sedikit malu! Ntar kalau ciuman pertama bisa saja kamu tidak bisa tidur selama seminggu." ledek Shakti saat melihat rona merah di wajah gadis yang kini menunduk malu.
Di antara senja yang yang terlewati dengan indah. Di dalam sebuah mobil taxi online yang di pesan Shakti, Alexa menyandarkan kepalanya pada lengan bergelombang lelaki yang mampu menguasai perasaannya saat ini.
"Nggak usah ngintip- Ngintip. Kayak nggak pernah muda saja!" celetuk Shakti dengan sewot saat sopir taxi mengintipnya dari spion mobil.
"Maaf Mas. Seandainya saja, semua yang kencan memilih naik taxi pasti saya senang." ujar Sopir itu dengan terkekeh. Dia tahu dua orang di bangku belakang sedang merasa kasmaran.
"Jangan suka marah-marah." bisik Alexa dengan menengadahkan wajahnya mendekat ke wajah Shakti.
Shakti hanya terdiam, Padahal dia melirik wajah cantik yang tepat berada di bawah rahangnya. Alexa memang selalu menghipnotis Shakti untuk meng-iyakan apa yang diinginkan gadisnya. Taxi itu meluncur begitu lancar dan cukup hening mengantarkan Alexa untuk pulang terlebih dahulu.
###
"Assalamulaikum... " ucap Alexa saat membuka pintu utama rumahnya. Dia memang melarang Shakti untuk mengantarnya masuk karena takut dengan reaksi papanya.
__ADS_1
"Waalaikum salam." ucap Zoya dan Hans secara bersamaan. Mereka sedang duduk bersama di sofa setelah Salat Magrib.
"Dari Mana, Al?" tanya Hans saat Alexa berjalan masuk.
"Dari kampus terus jalan sama teman, Pa." jawab Alexa dengan suara bergetar. Hans bisa melihat putrinya sedang gugup menjawab pertanyaannya. Apalagi cara Alexa memegang tali tasnya, Hans semakin yakin ada yang disembunyikan oleh putrinya.
"Kak Ale, sudah Salat Magrib?" tanya Zoya menengahi keduanya. Dia tahu jika suaminya akan mengajukan banyak pertanyaan pada Alexa.
"Belum, Ma." jawab Alexa dengan lirih. Bahkan pandangannya menunduk tentu karena rasa bersalah pada papanya.
"Kalau begitu, Kak Ale Salat Magrib dulu. Takut Waktunya keburu habis."
"Baik, Ma." Alexa langsung naik ke atas menuju kamarnya. Dia tahu mamanya sedang menyelamatkan dirinya dari beberapa pertanyaan yang akan diajukan oleh papanya dan mungkin saja dia tidak bisa menjawabnya.
"Mas, jangan sekeras itu. Aku tahu Mas Hans khawatir, tapi Kak Ale sudah dewasa Mas. Biarkan dia memiliki dunia yang semestinya dia lewatkan." ucap Zoya dengan menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya. Bisa terdengar degupan jantung lelaki yang sudah menjadi bagian dari hidupnya itu.
"Tapi aku takut, Zoy. Bukankah, anak gadis yang belum menikah adalah tanggung jawab papanya?" Hans mengusap lengan istrinya, perempuan yang selalu menjadi penawar segala emosinya.
"Iya Mas, aku tahu. Tapi, Mas Hans juga bukan Tuhan atau malaikat yang akan menjaganya dua puluh empat jam. Di situlah, pentingnya kita sebagai orang tua selalu mendoakan putra putri kita dan menitipkannya pada Sang pemilik sejatinya agar tetep dalam keadaan terjaga." jelas Zoya mencoba memberi pengertian Hans Jika doa adalah perisai terkuat untuk menjaga seseorang dan memberi sebuah ketenangan karena kita sudah menyerahkan segala takdir pada Allah.
"Aku besok akan menemui Rey. Mungkin dia tahu tentang pemuda itu. Mereka satu dunia."
"Iya, Mas. Aku hanya mengharapkan yang terbaik dan kebahagiaan untuk putriku saja." lirih Zoya masih menikmati waktu berdua mereka.
"Aku semakin mencintaimu, Zoy." Hans melabuhkan kecupan di puncak kepala istrinya. Istri kecilnya yang selalu menjadi rumah dan tempatnya meletakkan isi hatinya.
"Papa, Ayo antarin Hanum beli bakso. Dari sore tadi nungguin Aleks tidak pulang pulang." Hanum menjatuhkan diri di sebelah papanya.
"Aleks menyebalkan." gerutu Hanum dengan bibir mengerucut, membuat Hans terkekeh geli dengan gadis manjanya itu.
"Kak Aleks, Hanum." timpal Zoya dengan kembali menegakkan badan.
"Kan bisa delivery?" jawab Hans yang sebenarnya masih ingin bersama Zoya.
"Yang jualan Mbah tuek, Papa. Dan nggak bisa delivery." jelas Hanum dengan menarik lengan papanya.
"Aleks kemana, Zoy?" tanya Hans saat sudah berdiri.
"Katanya dia di bengkel sama Dito dan akan pulang jam delapan nanti, Mas." jelas Zoya yang sudah menghubungi putranya itu.
__ADS_1
Setelah mendengarkan penjelasan istrinya, Hans pun mulai menuruti keinginan putri kesayangannya itu mencari bakso Mbah Tuek.