Rindu Alexa

Rindu Alexa
Pulang Sendiri.


__ADS_3

Shakti langsung memeriksa monitor CCTV. Sedangkan, Alexa sudah tidak peduli. Dia masih memeluk Zoya, sesekali wanita bermata sipit itu menyeka air matanya.


"Astaga... " Lelaki itu meraup wajahnya dengan kasar, kemudian menatap iba istrinya setelah mengetahui semua rekaman CCTV.


Entah apa yang akan dia katakan pada Alexa, Shakti sendiri merasa bingung dengan keadaan ini.


"Jika sudah begini kata maaf yang akan kamu andalkan?" kalimat Hans membuat Shakti merasa terpojok, kali ini dia tidak mampu lagi menjawab mertuanya.


Lelaki itu hanya menatap Alexa dengan penuh permohonan. Berharap, Alexa bisa memaafkannya.


"Biarkan Ale pulang bersamaku." ucap Hans lirih, tapi penuh penekanan. Kali ini, Shakti tidak lagi bisa menjawab karena merasa bersalah, dua kali dia melakukan kesalahan yang sama.


"Cepat Al, kemasi barang barangmu!" titah Hans. Kali ini, Alexa benar benar bingung. Dia memang marah dengan Shakti, tapi bagaimanapun dia merasa masih menjadi seorang istri dari lelaki yang membuatnya kecewa.


"Kamu ikut Papa atau masih ingin bersamanya?" Suara Hans terdengar menggema di seluruh ruangan. Dia merasa gemas dengan putrinya yang masih saja bingung untuk memilih.


"Begini saja... " Sekali lagi Zoya mencoba menengahi.


"Biarkan, Kak Ale pulang bersama kami, Mas Shakti. Biar bagaimana pun, kami masih kangen dengan Kak Ale, Hanum dan Aleks juga sudah merindukan Kak Ale. Nanti jika urusanmu di sini sudah selesai, kamu bisa menjemput Kak Ale di rumah kami." Zoya memang sudah faham seperti apa suaminya jika sudah seperti ini.


Tapi Zoya juga sangat mengerti apa yang di rasakan Alexa. Berada pada titik dimana dia harus meminta izin pada suaminya.


"Permisi..." ucap Pak Agus yang kini tiba di ruang keluarga. Hans hanya menoleh ke arah lelaki itu.


"Maafkan putri saya! Saya tidak tahu jika tindakannya melebihi batas. Saat ini Dokter meminta Dinda untuk istirahat." ucap Pak Agus dengan menunduk. Lelaki itu selain merasa bersalah dia juga takut Dinda mereka akan mempermasalahkan lebih jauh tentang apa yang akan dilakukan Dinda.


"Tolong katakan pada Putri Bapak. Berhati hatilah jika akan melakukan segala sesuatu. Jika tidak, saya tidak akan segan-segan memasukkannya dalam penjara." ucap Hans dengan tegas.


"Baik, Pak. Sekali lagi saya minta maaf."


"Pergilah!" titah Hans membuat Pak Agus langsung berpamitan pulang.


Sungguh, Pak Agus merasa bersalah dengan Shakti. Selama ini, Shakti sudah sangat baik padanya. Tapi, yang dilakukan Dinda membuat lelaki paruh baya itu merasa sangat malu.


Setelah Kepergian Pak Agus dari ruangan Hans meminta Pak Andy untuk istirahat sejenak. Hans juga memberi tahu jika malam ini juga mereka akan kembali ke kota mereka.

__ADS_1


"Pa, saya ingin bicara dengan Alexa dulu!" ucap Shakti yang hanya di diamkan Hans. Lelaki itu langsung beranjak dan mengejar Alexa yang kini sudah masuk kamar.


"Ay, maafkan aku. Aku tidak pernah menyangka jika Dinda seperti itu!" ucap Shakti dengan mendekati Alexa yang tengah duduk di tepi ranjang.


"Bolehkah aku pulang bersama, Papa?" Bukannya menjawab pertanyaan Shakti Alexa malah balik bertanya.


"Besok kita sudah balik, Ay!" ucap Shakti dia juga berat melepas istrinya meski hanya berbeda berbeda beberapa jam saja.


"Aku juga butuh ruang untuk menyembuhkan perasaanku. Mas tahu, bagaimana rasanya jika pasangan kita lebih percaya orang lain?" Mata Alexa kembali berkaca kaca.


"Bahkan aku berani bersumpah tapi kamu masih saja tidak percaya, Mas." lirih Alexa, hatinya mecokol menahan rasa kecewa.


"Tapi percayalah, Ay. Aku hanya menganggap Dinda seperti adik perempuanku. Tidak lebih."


"Mas, bagaimana pun kalian tidak bisa menjalin hubungan itu. Kalian tidak punya hubungan darah, kalian bukan muhrim. Dan kalian tetap dua orang yang berbeda gender yang mana memang harus ada batasannya." Kali ini Shakti hanya terbungkam.


"Bolehkah aku pulang dengan Papa? " Alexa kembali bertanya pada suaminya.


"Tapi aku akan menjemputmu jika aku sudah sampai di kota kita." ucap Shakti yang hanya di jawab Alexa dengan anggukan kepala.


"Aku pasti akan merindukanmu, Ay." Lelaki itu memeluk tubuh mungil istrinya dari belakang membuat Alexa menghentikan gerakannya.


"Aku tidak akan membiarkanmu jauh dariku dalam waktu yang lama." suara lirih Shakti membuat Alexa terasa berat. Dia memang marah dengan suaminya, tapi dia juga masih mencintai lelaki yang saat ini memeluknya begitu erat.


###


Gerimis seolah memaksa Hanum untuk berlari mencari tempat berteduh. Gara- gara, bakso bakar favorit gadis itu terjebak dalam situasi buruk.


Gadis itu baru saja selesai mengerjakan tugas kelompok di kos temannya. Saat perutnya lapar, dia teringat ada warung bakso bakar favoritnya. Lumayan jauh jika harus berjalan, tapi nanggung jika harus memesan dan menunggu taxi.


Gadis mungil berhidung mancung itu akhirnya memutuskan untuk berjalan kaki saja. Toh, dia tidak terlalu diburu waktu, karena tidak ada lagi jam kuliah sore ini.


Dengan peluh yang sudah mengucur deras, Akhirnya Hanum sampai di sebuah warung bakso yang nyempil di ujung jalan tapi cukup ramai pembeli. Cuaca memang terasa gerah, mungkin sebentar lagi hujan turun.


"Bungkus lima tusuk, jangan pake lama!" ucap Hanum.

__ADS_1


Gadis itu menunggu pesanannya dengan perasaan cemas, mendung begitu gelap menggantung di langit.


"Lima puluh ribu, Mbak." ucap pelayan warung dengan menyerahkan pesanan Hanum. Hanum kemudian memberikan uang satu lembar lima puluhan dan keluar dari warung.


Hanum memasukkan pesanannya ke dalam tas nya dan kemudian mengambil ponsel untuk memesan taksi online.


Belum sempat membuka layar ponselnya gerimis pun mulai berjatuhan di bumi. Dengan gesit dia memasukkan ponselnya dan berlari mencari tempat berteduh.


"Ya Allah, gerimisnya semakin deras." gumam Hanum, kemudian berbelok pada sebuah bangunan yang sudah usang yang ada ditepi jalan.


Gadis itu mencoba berlindung di dekat bangunan usang yang menyisakan sedikit atas. Tapi lumayan, dari pada basah kuyup. Sambil bermain air, Hanum menatap rintik hujan yang berjatuhan dari genting.


"Aaaarrggghhh..... " Spontan saja dia berlari jingkrak jingkrak menembus hujan sembarang ketika menyadari jika di bawah kakinya ada seekor ular


"Brrruuughh... aduh!" peliknya saat dia harus terjatuh karena tersandung balok kayu.


"Ya Allah, dosa apa aku hari ini!" keluhnya, saat dia mulai kesulitan berdiri.


"Hanum, kamu kenapa?" Arka membantu Hanum untuk bangun. Lelaki itu tidak sengaja lewat daerah situ dan terpaksa turun dari mobil saat melihat gadis bar- bar itu terjatuh.


"Lututku sakit!" keluh Hanum sambil meringis menahan rasa nyeri dan perih di lututnya.


Tanpa bicara lagi, Arkah langsung menggendong gadis mungil itu masih dalam mobil.


"Turunin, jangan nyari kesempatan ya!" Hujan dan tubuh yang sudah basah kuyup membuat Arha membiarkan bocah itu mengoceh.


Setelah memasukkan Hanum dalam mobilnya, Arkha langsung berlari memutar menuju belakang kemudi. Selain tubuhnya sudah basah kuyup dia juga sudah ada janji dengan salah satu stafnya di apartemennya.


"Kita bukan muhrim ya, main gendong saja!"


"Jangan suka nyari kesempatan, ya!" lanjut Hanum saat Arkha tidak menanggapi, lelaki itu hanya melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Aduhh... sakit! " rengek Hanum sambil memeriksa celananya yang ternyata sudah bolong karena tergesek aspal.


"Nanti diobati!" hanya itu yang keluar dari mulut Arkha, lelaki itu malah menambah laju kecepatan mobilnya.

__ADS_1


__ADS_2