Rindu Alexa

Rindu Alexa
Lift


__ADS_3

"Num... " panggil Hans saat melihat Hanum masih sibuk membaca sebuah buku. Hans memang sudah merasakan gelagat aneh dari putri kesayangannya itu.


"Iya, Pa." Hanum pun menoleh ke arah papanya yang sudah berdiri di sampingnya.


"Tolong ambilkan laptop milik Papa di apartemen." ucap Hans membuat Hanum berdecih.


"Papa, kenapa tidak Kak Aleks? Kak Aleks kan, bisa naik motor atau naik mobil." elak Hanum. Hari ini gadis itu masih malas mandi dan enggan pergi kemana - mana.


"Ayolah, Num. Papa, minta tolong!" bujuk Hans. Dia memang melihat putrinya lebih sering belajar, beda dengan Hanum yang dulu, yang lebih senang kegiatan di luar ruangan.


"Baiklah, Papa. Tapi, tolong pesankan taxi, Pa. Hanum akan mandi." teriak Hanum saat akan masuk ke dalam kamar untuk mandi.


"Ada apa, Pa?" tanya Alexa yang sempat mendengarkan teriakan Hanum. Alexa dan Shakti kini berdiri di dekat Hans yang masih duduk di sofa ruang keluarga yang ada di lantai dua.


"Itu, Papa minta sama Hanum untuk mengambil laptop Papa yang tertinggal di apartemen."


"Kalian mau ke mana?" tanya Hans saat melihat Alexa dan Shakti sudah bersiap pergi.


"Kita mau balik, Pa. Tapi, kita akan melihat acara sunmor dulu!" jelas Alexa.


"Oh ya, biar Hanum sekalian ikut kita." sela Shakti agar Papa Hans tidak usah memesan taxi untuk Hanum.


"Baiklah kalau begitu. Sepertinya, Mama sudah membuatkan sesuatu untuk kamu bawa pulang." ucap Hans yang tadi sempat melihat Zoya sudah disibukkan dengan alat masak di dapur setelah Salat Subuh.


Mereka bertiga pun menuruni tangga mencari keberadaan Zoya sambil menunggu Hanum selesai bersiap pergi.


"Mama, kenapa harus repot repot, Ma. Alexa saja ke sini tidak membawa apa apa." ucap Alexa dengan mendekati mamanya yang sedang memasukkan daging empal dan acar kuning ke dalam rantang.


"Nggak apa apa, Kak. Mama senang kalian berkunjung ke sini. Lagian, Kak Ale pasti kangen masakan Mama, kan?" jawab Zoya dengan menyerahkan rantang yang sudah berisi makanan itu pada Alexa.


"Terima kasih, Ma. Mama selalu is the best dan paling perhatian." Alexa memeluk mamanya. Dari dulu sampai sekarang di mata Alexa, Zoya tidak pernah berubah. Dia selalu perhatian dengan semua orang yang dekat dengannya.

__ADS_1


Di ruang tengah terlihat dua lelaki yang masih saling berdiam. Shakti dan Hans memang seperti kutub magnet yang sejenis tapi saling bertolak.


"Papa, taxinya sudah datang?" tanya Hanum setelah terlihat rapi.


"Nanti bareng Mas Shakti saja, ya." sela Shakti yang hanya di jawab Hanum dengan mengangkat kedua alisnya.


Terlihat Alexa dan Zoya berjalan dari dapur dan menghampiri mereka. Kemudian, putri dan menantunya berpamitan untuk pulang.


"Mama dan Papa jaga kesehatan! " ucap Alexa saat dia sudah membuka pintu mobilnya. Hanum dan Shakti sudah masuk di dalam mobil dan menunggu wanita berlesung pipit itu untuk masuk.


Hans dan Zoya melambaikan tangannya mengiringi mobil berwarna metalik itu keluar dari gerbang.


"Semoga mereka selalu bahagia ya, Mas." ucap Zoya seperti berat melepas kepergian putrinya.


"Aku malah khawatir saat Hanum ingin melanjutkan kuliah ke luar negeri." sahut Hans. Mereka berjalan masuk dengan mengungkapkan isi hatinya.


"Tapi kita tidak bisa memaksakan kehendak kita pada putri kita, kita hanya bisa mendoakan semoga mereka selalu di beri keselamatan dan kebahagiaan."


"Num, kamu kenapa lebih banyak diam?" tanya Alexa membuat Hanum menoleh ke arah kakaknya yang duduk di bangku depan.


"Lagi males ngomong saja." jawabnya singkat. Kemudian kembali menatap jalan yang mereka lalu hingga sampai di depan gedung yang menjulang tinggi itu.


"Terima kasih, Kak." ucap Hanum saat keluar dari mobil.


Gadis itu langsung berjalan masuk menuju pintu utama. Sambil terus menatap ponselnya yg sejak tadi terus berbunyi Hanum terus berjalan menuju lift dengan membalas pesan dari teman temannya.


Gadis itu tidak memperhatikan sekitar, hingga dia menabrak tubuh tinggi besar yang juga akan masuk ke dalam lift.


"Astaghfirullah... " Hampir saja ponselnya terjatuh, untung saja dengan sigap Hanum menyelamatkannya.


"Makanya kalau jalan jangan lihat ponsel terus." ucap Arkha kemudian masuk ke dalam lift yang disusul Hanum.

__ADS_1


Keduanya memilih posisi yang berjauhan di dalam lift seolah olah mereka tidak saling mengenal. Tapi, saat lift akan terbuka ada dua orang pemuda masuk ke dalam.


Keduanya menatap Hanum dengan tatapan bengis membuat Hanum menjadi cemas. Hanum menggeser tubuhnya ke belakang, tapi salah satu pemuda berambut pirang itu semakin mendesaknya.


"Jangan kurang ajar, ya!" pekik Hanum dengan mendorong tubuh pemuda itu ke belakang. Meskipun di sana ada Arkha tapi dua pemuda berbau alkohol itu tidak menganggap keberadaan lelaki yang sedari tadi hanya mengamati mereka dengan mengepalkan tangan.


Meskipun, dia melihat Hanum semakin panik, Arkha masih menunggu gadis itu meminta tolong padanya. Tapi, bukan Hanum jika mudah menyerah dan merengek pada seseorang.


"Jangan berani mendekat, brengsek!" teriak Hanum dengan menyiapkan tasnya untuk memukul salah satu pemuda itu dan pemuda satunya masih memainkan tombol lift agar mereka bisa mengerjai gadis berhidung mancung yang terlihat begitu jelita.


"Bajingan kalian ini!" Akhirnya Arkha tidak tahan melihat sikap keterlaluan kedua pemuda itu. Lelaki gagah dan berotot itu memukul dan menendang dua pemuda itu dengan membabi buta hingga membuat keduanya tidak lagi bisa berkutik.


Saat melihat pemuda itu terkapar tidak berdaya, membuat Arkha melemparnya keluar lift dan mengembalikan tombol sesuai tujuan semua.


"Terima kasih, Kak." ucap Hanum dengan suara bergetar.


"Kamu tidak apa- apa?" tanya Arkha, dia tahu Hanum masih ketakutan. Tapi, lift pun terbuka di lantai apartemen Arkha.


"Bang, aku mencari Abang untung saja kita ketemu di sini." ucap Rania saat berada di depan lift yang terbuka. Arkha keluar tapi lelaki itu masih sempat menoleh untuk meyakinkan keadaan Hanum.


Lift kembali tertutup, gadis itu kemudian membiarkan air matanya menetes. Hatinya terasa nyeri, dia yakin Arkha dan Rania sudah jadian jika dia melihat kedekatan mereka.


"Santai, Num. Nanti saat kamu tidak di luar negeri dan tidak melihat mereka kamu pasti tidak akan merasakan ini." gumam Hanum dalam hati.


Gadis itu pun keluar dari lift yang sudah terbuka. Saat ini dia hanya ingin cepat menyelesaikan sarjana dan melanjutkan pendidikannya keluar negeri.


"Harus semangat Hanum. Hanya lelaki yang hebat yang berani menatap perempuan berkualitas." Gadis itu terus saja melontarkan gumaman positif yang akan memberikan energi positif untuk hidupnya.


Bersambung...


Thanks ya yang selalu mengingatkan typo dan kalimat kalimat rancu. Hehehe author emang kurang teliti hehehee

__ADS_1


__ADS_2