
Dari jauh, Alexa melihat Shakti mendesah lelah. Setelah Salat Subuh lelaki itu kembali berkutat dengan pekerjaannya. Alexa terlihat bolak balik meliriknya dari dapur.
"Mbak Lexa beruntung ya, Mas Shakti sangat mencintai Mbak Lexa." ucap Bi Romlah berusaha mengumpan saat Alexa membantunya di dapur.
"Kenapa Bi Romlah bicara seperti itu?" tanya Alexa.
"Ya keliatan saja bagaimana cara Mas Shakti memperhatikan Mbak Lexa. Mas Shakti juga sering bertanya, bagaimana keadaan Mbak Lexa saat masih di kantor. Apa sudah makan apa belum." Bi Romlah memang bicara apa adanya, karena setiap hari Shakti selalu menanyakan keadaan Alexa dan segala keluhannya.
Alexa terdiam, terkadang mendiamkan lelaki itu hingga beberapa minggu membuatnya sedikit mengiba saat melihatnya. Tapi, kala ingat kebohongan dan kejadian di apartemen mantan kekasihnya, hatinya masih belum bisa menerimanya begitu saja.
"Mbak Lexa minum kopi?" tanya Bi Romlah lagi, ketika melihat Alexa membuat secangkir kopi.
"Nggak Bi, ini buat Mas Shakti." jelas Alexa membuat wanita separoh baya itu terbungkam dan kemudian tersenyum tipis. Dia berharap kedua majikannya itu bisa kembali akur.
Secangkir kopi telah mengepulkan asap. Alexa pun segera membawakannya untuk Shakti. Sebenarnya, dia ragu melangkahkan kaki ke arah Shakti. Tapi, hati kecilnya pun terus mendorong membawakan secangkir kopi untuk lelaki yang akhir akhir ini sangat sibuk dan lesu.
"Ay, ini untukku?" ujar Shakti dengan menatap heran wanita cantik yang sedang meletakkan kopi di depannya.
" Hmmm, tapi aku belum bisa memaafkanmu, Mas." ucap Alexa sedikit bergumam. Wajahnya pun tidak menunjukkan senyum sama sekali.
"Aku akan membuktikan padamu, Ay. Jika aku tidak seperti yang kamu pikirkan." ujar Shakti dengan menatap penuh cinta pada wanita yang terus berusaha mengalihkan pandangan dari dirinya.
Alexa pun tidak menjawab, meskipun begitu Shakti sudah sedikit bersyukur, karena Alexa sudah menunjukkan sedikit perhatian padanya.
"Ting tong... ting tong... " suara bel berbunyi dan itu membuat Alexa yang baru saja berjalan ke dapur pun balik ke arah pintu utama.
"Mama... " Alexa merasa heran saat melihat sosok mungil yang masih terlihat cantik itu sudah berdiri di depan pintu. Pandangannya pun kemudian tertuju pada papanya yang malah mengedikkan kedua bahunya. Alexa memang meminta merahasiakan apapun tentangnya pada Mama Zoya, takut Zoya akan merasa cemas.
"Assalamu'alaikum, sayang." ujar Zoya kemudian memeluk putrinya.
"Waalaikum salam, Ma. Mari masuk, Ma!" ajak Alexa membawa wanita yang begitu dia sayangi itu langsung masuk ke dalam.
__ADS_1
Melihat ada beberapa orang yang masuk kini mengalihkan pandang Shakti.
"Papa, Mama... " Shakti langsung beranjak dari duduknya menyambut kedatangan mertuanya.
"Kamu kelihatan sibuk sekali?" ujar Hans saat mendapati menantunya berada di depannya.
"Iya, Pa. Akhir- akhir ini perusahaan sedikit bermasalah." jawab Shakti, Hans hanya menepuk punggung menantunya sedangkan Zoya melayangkan lirikan tajam ke arah Shakti.
"Sayang, Mama bawakan buah buahan dan soto betawi. Kata Papa kamu lagi suka soto betawi, ya?" Zoya meletakkan oleh olehnya ke dapur, tanpa harus di minta Bi Romlah pun siap untuk membantu menghidangkan.
"Bagaimana keadaanmu? Kenapa tidak di rumah Papa saja? Apapun yang terjadi, kamu tetap putri Mama." Alexa benar benar tidak berkutik dengan cecaran pertanyaan dari Zoya. Dia hanya bisa memeluk mamanya untuk menceritakan jika ada beban berat yang sedang melanda hidupnya.
"Mas, aku akan di sini hari ini. Nggak apa- apa kan, Mas?" tanya Zoya dengan menatap suaminya. Zoya memang ingin Alexa bercerita tentang semua yang sudah terjadi.
"Nggak apa, Zoy. Nanti pulang kerja, aku mampir untuk menjemputmu." jawab Hans.
Mendengar Zoya akan menemani Alexa, Shakti pun merasa sangat lega. Mereka mulai menikmati sarapan yang sudah tersaji di meja dengan tenang. Hans terlihat tenang, karena selama ini meminta seseorang mengawasi Shakti dan kenyataannya menantunya itu masih sibuk dengan urusan kantor dan tidak pernah bertemu dengan mantannya lagi. Sementara, Zoya memang butuh waktu agar membuat Alexa bercerita dengan apa yang sedang dia rasakan.
###
"Tidak tahu sopan, dia seperti bos yang bebas menemui anak buahnya tanpa merasa sungkan sama sekali." gumamnya begitu kesal saat menyiapkan sarapan pagi.
Wajahnya terlihat cemberut, dengan bibir mengerucut dan tangan masih bergerak bebas menghantamkan spatula di wajan.
"Num, kamu seperti latihan nge- band." goda Arkha. Sepulangnya Rania dari apartemen, dia langsung menemui Hanum saat mendengar suara, srang- sreng, tang-teng, brak di dapur.
Hanum masih terdiam, dia enggan menatap lelaki bertubuh tinggi besar yang sudah berdiri melingkarkan lengan di perutnya.
"Aku bau bawang, Kak." protes Hanum agar Arkha menjauh. Dia juga menggeliat kan tubuhnya.
"Kamu marah karena Rania datang? Dia hanya memberikan jadwalku hari ini, karena pagi ini dia izin ada seminar proposal." jelas Arkha jika kedatangan Rania menemuinya ke apartemen ada hal penting tidak semata mengada- ada.
__ADS_1
"Ngapain marah? Kalian memang punya hubungan kerja, tapi tidak semudah itu juga bolak balik ke apartemen bosnya kayak mau menemui kekasihnya." gerutu Hanum kemudian mematikan kompor. Tawa Arkha meledak mendengar istrinya berbicara.
"Kamu cemburu?" goda Arkha langsung menghentikan gerakan Hanum, dia menatap mata cantik dengan bulu lentik menghias.
"Aku dan dia hanya membahas kerjaan, sayang." Arkha kembali meyakinkan, kedua tangannya menelangkup wajah cantik Hanum dan berlahan mendaratkan kecupan di bibir ranum istrinya.
"Kak Arkha ayo sarapan, nanti kita terlambat." Hanum pun langsung salah tingkah, wajahnya terlihat merona membuat Arkha hanya tersenyum menatap istrinya yang terlihat malu malu.
###
Hanum berjalan sendirian, saat keluar kelas. Hari ini Dira yang biasa bersamanya pun absen karena sakit. Rencanya, gadis itu pun bergegas untuk pergi ke kedai, karena hari ini cuma ada satu jam mata kuliah. Dia juga sudah minta izin Arkha untuk menjemputnya di rumah Oma, karena rencananya dia akan mengunjungi Kak Alenya.
"Bisakah kita bicara sebentar?" Rani menghadang langkah Hanum saat akan menuruni tangga.
"Ada apa?" tanya Hanum singkat, gadis itu memang tidak bisa basa basi lagi.
"Sampai kapan kamu mengikat Bang Arkha dalam pernikahan bohonganmu itu?" Rania langsung to the poin, dia juga merasa tidak ada lagi yang perlu ditutupi.
"Maksud kamu?" tanya Hanum dengan mengernyitkan kedua alisnya.
"Kamu tidak kasihan dengan Bang Arkha jika harus mengikuti permainanmu. Dia tidak pernah mencintaimu." lanjut Rania, seketika wajah Hanum memanas, gadis berambut panjang itu membuat hati Hanum qbegitu gusar.
"Terserah Kak Arkha mau bertahan sampai kapan? Terus urusannya sama kamu apa? Kamu cuma asistennya saja." ujar Hanum membalas Rania tak kalah sengit. Hanum memang bukan tipe orang yang mau ditindas.
"Kak Arkha sudah lama menyukaiku, aku kira kamu tahu itu. Kamu dan keluargamu yang membuatnya tidak punya pilihan. Ya, nasib baik berpihak padamu karena dia kamu anak orang terpandang. Tapi sayang, jika harus mengemis cinta." kalimat tajam Rania membuat Hati Hanum memanas.
"Aku dan Kak Arkha, bukan urusanmu!" ucap Hanum dengan menunjuk dada Rania sebelum Hanum meninggalkan gadis yang masih dilanda cemburu.
"Arghhh.... " Pekik Rania saat tubuhnya menggelinding ke bawah sebelum Hanum menarik jarinya dari dada Rania. Gadis itu kehilangan keseimbangan kakinya.
" Kak Rania... " Hanum terhenyak kaget, seketika dia berlari mengikuti tubuh Rania yang menggelinding hingga ke lantai bawah.
__ADS_1
"Tolong... tolong bantu kami!" teriak Hanum membuat sebagian mahasiswa yang ada di lantai tersebut pun datang menghampiri dengan wajah cemas. Sementara Rania meringis kesakitan memegangi kakinya yang terlihat memerah.