Rindu Alexa

Rindu Alexa
Perdebatan


__ADS_3

Zoya berjalan tergesa diiringi Alexa dan Aleks menuju ruangan Hanum. Wanita itu begitu mencemaskan putrinya.


"Assalamu'alaikum... " ucap Zoya saat masuk ke dalam ruangan Hanum. Ternyata putrinya sedang tertidur pulas. Wajahnya terlihat tidak sepucat tadi pagi.


"Dia baru saja minum obat, Zoy. Makanya dia tertidur." ucap Hans mendekati Zoya yang berdiri di dekat putrinya yang kini berbaring tenang.


"Sebenarnya ada apa, Pa? Hanum akhir akhir ini sepertinya sering bermasalah." tanya Alexa begitu penasaran. Hans pun mengajak anak dan istrinya untuk duduk bersama.


"Setelah keluar dari rumah sakit Hanum akan menikah." ucap Hans membuat semuanya membelalak kaget.


"Mas, kenapa harus menikah? Kasihan Hanum." sela Zoya tidak setuju dengan apa yang dilakukan Hans.


"Sebenarnya ada apa sih, Pa?" tanya Alexa masih dengan rasa penasaran.


"Semalam Hanum berada di kamar hotel dengan pria. Arkha, temannya Shakti." jelas Hans. Alexa hanya ternganga dan menggeleng mendengar ucapan yangpapanya.


"Tapi Papa harus bertanya dulu dengan Hanum dan Arkha. Pa, Hanum masih muda, dia masih semangat untuk belajar." ucap Zoya merasa sedih mendengar Hans akan menikahkan Hanum.


"Apa kamu mau bertanggung jawab jika itu akan terjadi lagi, Zoy? Arkha sudah menyetujuinya." kalimat Hans membuat Zoya terbungkam.


"Tapi, bukan harus menikah, Pa. Lagian belum tentu mereka melakukan hal buruk, Pa." sergah Aleks dia tidak bisa membayangkan masa depan Hanum jika harus menikah muda dengan orang baru dia kenal.


"Aku menemukan Hanum tidak mengenakan jilbab, bahkan dia mengenakan kemeja Arkha. Terus apa yang kalian pikirkan jika melihat hal semacam itu? Apa kalian mau bertanggung jawab jika hal itu terulang? Dan bagaimana jika berita itu sampai di telinga beberapa orang yang mengenal keluarga kita?" Kalimat Hans membuat semuanya terdiam, meski tidak ada yang setuju jika Hanum harus menikah.


"Setidaknya Papa mendengarkan keinginan Hanum. Jangan terbiasa memutuskan sesuatu dengan pikiran Papa sendiri!" Aleks melontarkan kalimat itu sebelum dia keluar ruangan. Dia tidak tahu apa yang terjadi dengan Hanum tapi rasanya tidak adil jika Hanum harus menghabiskan masa mudanya dalam sebuah pernikahan dadakan.


###


Arkha meletakkan map yang dibawanya dari pertemuan dengan koleganya barusan. Lelaki itu membuka dasi dan jasnya. Dia memang mengenakan pakaian formal untuk waktu waktu tertentu.


"Ya ampun, pusing sekali kepalaku!" gumam Arkha dengan memijit keningnya pelan. Dari semalam dia belum tidur, belum lagi urusannya dengan keluarga pengacara itu belum selesai.


"Astaga... " dia kembali mengeluh, saat mengingat akan melakukan pernikahan dengan Hanum. Menikah. Tidak ada masalah apapun yang dia pusingkan untuk semuanya kecuali kehidupan setelahnya. Itu menyangkut masa depannya dan masa depan Hanum, gadis itu masih terlalu bocah untuk menikah.


"Selamat siang, Pak? Apa Bapak membutuhkan sesuatu?" Delia berinisiatif mendekat untuk menghibur Arkha. Gadis itu sudah memperhatikan Arkha yang terlihat suntuk dari pertama kali datang ke kantor hingga tamunya pergi.

__ADS_1


"Tidak - tidak... " saat melihat gadis itu mendekat Arkha langsung mengibaskan tangannya berharap sekretarisnya itu meninggalkannya sendiri.


Arkha benar benar pusing kali ini, dia harus menatap perasaannya saat harus melewati hati hari bersama Hanum. Berapa lama? Jika mengingatnya waktu dia rasanya ingin menyerah, tapi dia juga tidak tega jika harus membiarkan Hanum menghadapi ini sendiri. Dia tahu gadis itu tidak bersalah.


"Akh... jalani dululah, pusing aku!" gerutunya kemudian mengambil kunci mobil untuk menjenguk Hanum sesuai janjinya pada calon papa mertuanya.


"Auhh.... " Delia menabrak tubuh Arkha saat membawakan akan membawakan secangkir kopi untuk atasannya itu.


"Kamu baik baik saja?" tanya Arkha dengan memberikan tissu pada Delia untuk mengusap tangannya yang terkena tumpahan kopi.


"Saya pikir Bapak butuh secangkir kopi." sambut Delia.


"Aku akan keluar sebentar!" Arkha langsung meninggalkan sekretarisnya yang menatap penuh kecewa. Dia sudah bersusah payah membuat kopi tapi atasannya malah keluar dengan terbaru-buru.


Arkha memutuskan menjenguk Hanum. Dia memarkir mobilnya dan keluar dengan langkah panjang. Lelaki berperawakan tegap itu pun berjalan menyusuri koridor rumah sakit dengan dihinggapi banyak pikiran.


"Selamat siang." sapa Arkha saat akan memasuki ruangan Hanum. Zoya dan Hans pun menoleh ke arahnya. Kemudian Zoya tersenyum dan mempersilahkannya masuk.


Melihat kehadiran Arkha, Hanum menatap tajam lelaki yang kini menghampirinya.


"Hanum... besok bisa pulang. Lusa, kalian menikah!" ucap Hans membuat Hanum terkaget.


"Papa, tidak bisa seperti itu. Kita tidak melakukan apapun. Kak Arkha yang menolong Hanum." jelas Hanum dengan suara lemah.


"Mungkin jika tidak ada Kak Arkha Hanum sudah diperkosa Adrian, teman Hanum. Hanum tidak ingin menikah muda." Hanum langsung menunduk, matanya sudah memanas dan berair.


"Apa?" Hans terhenyak kaget. Dia kemudian menatap Arkha yang kemudian mengangguk. Hans tidak tau lagi harus berkata apa. Tidak hanya Hans, Zoya pun terkaget mendengarnya.


"Terus apa yang kalian lakukan di hotel, dalam kondisi yang seperti itu? Berikan Papa alasan yang lebih masuk akal!" kalimat Hans membuat semuanya terbungkam. Iya, keputusan membawa Hanum ke hotel adalah pilihan yang salah yang dia ambil diantara rasa bingungnya Arkha, yang ingin menutupi kejadian sebenarnya.


"Papa sudah memasukkan data kalian di KUA. Namamu juga buruk. Om Aryo, teman Papa yang datang ke hotel sebenarnya yang akan menjodohkan putranya denganmu. Tapi, beliau malah melihat kamu seperti itu. Keluarga baik baik mana yang akan menerima seorang gadis yang pernah masuk hotel dengan lelaki lain." jelas Hans membuat Hanum menangis pelana. Air matanya terus saja meluncur deras tanpa suara.


"Aku tidak akan menikah seumur hidupku! Aku tidak akan membiarkan orang lain menanggung akibat dari masalahku!" Mendengar kalimat putrinya Zoya pun terduduk lemas. Dia memegang kepalanya yang terasa berputar. Dia sangat mengenal Hanum, meskipun wataknya keras tapi Hanum tetap memikirkan orang lain, dia tidak akan membiarkan orang lain terhukum karena kesalahannya, dia akan tetap mengatakan sebuah kebenaran. Tapi, bagaimana jika putrinya benar benar tidak akan menikah, hal itu yang sangat ditakutkan oleh seorang ibu pada anaknya.


"Zoy..." Hans mendekati Zoya. Dia tahu keadaan istrinya yang buruk ini karena perdebatan yang dengan putrinya. Sedangkan, Hanum hanya bisa menatap mamanya dari atas bed. Dia sangat merasa bersalah dengan keluarganya.

__ADS_1


###


Di balkan yang terhubung dengan kamar Alexa berdiri dengan tatapan gelisah. Iya, Shakti yang tidak memberi kabar sama sekali sejak kemarin dan masalah Hanum. Dia sangat kasihan dengan adiknya, jika harus menikah di usianya yang muda. Tapi, dia tidak lagi bisa membujuk papanya yang sudah mengambil keputusan.


"Ya Allah, Hanum... " Alexa benar benar merasa menyesal karena tidak bisa membantu Hanum.


"Sayang... " suara itu dan uluran tangan yang melingkar di perutnya membuat Alexa terhenyak kaget.


"Mas Shakti... " ucap Alexa hampir tidak percaya jika suaminya saat ini sedang memeluknya.


"Kapan balik, Mas. Kenapa tidak memberi tahuku?" Alexa mencecar Shakti dengan beberapa pertanyaan. Tapi lelaki itu malah sibuk mencintai ceruk leher istrinya. Shakti memang sudah sangat merindukan aroma tubuh istrinya.


"Mas... " ucap Alexa dengan menjauhkan tubuhnya yang masih dalam pelukan Shakti.


"Aku merindukanmu, Ay." Shakti pun menggendong Alexa dan membawanya ke atas tempat tidur.


Dia memiringkan tubuhnya dan memeluk tubuh Alexa dan menatap wajah cantik istrinya dengan tersenyum tipis. Dia benar benar menikmati keindahan wajah itu dengan tangan merayap kemana- mas.


"Ay, sepertinya tambah besar." ucap Shakti sambil meremas dada istrinya.


"Aku bertambah gendut sepertinya, Mas." Alexa mulai terbiasa dengan tangan suaminya yang tidak mau diam setiap kali mereka berduaan. Tapi dia juga ingin menceritakan masalah Hanum.


"Hanum akan menikah dengan Arkha, Mas!" ucap Alexa membuat Shakti menghentikan gerakannya. Kabar yang di ceritakan istrinya membuat Shakti terkaget, yang dia tahu sahabatnya itu sedang dekat dengan Rania.


"Kok bisa?" tanya Shakti.


"Mereka kepergok Papa di dalam kamar hotel dalam keadaan Hanum mengenakan baju Arkha." ucap Alexa membuat Shakti terdiam.


"Arkha laki-laki normal mungkin lagi tidak tahan." jawab Shakti seenaknya tapi dia juga hampir tidak percaya jika Arkha Melakukannya. Dia sangat mengenal Arkha seperti apa terhadap perempuan.


"Mas Shakti aku serius!" desis Alexa sedikit kesal.


"Iya sayang, aku juga jawabnya masuk akal, kan?"


"Please besok saja kita bahas Arkha nya. Aku sangat merindukanmu." Shakti terus saja mengujami Alexa ciuman membuat wanita itu hanya bisa mendesis, " egois." tapi Shakti tidak peduli karena dia sudah merindukan istrinya.

__ADS_1


__ADS_2