
Alexa berjalan menggandeng Mama Gayatri menelusuri koridor rumah sakit. Setelah urusan mereka selesai, mereka memutuskan untuk pulang saja.
"Jika masih ingin berbincang dengan teman temanmu di sini, Mama, bisa pulang terlebih dahulu, Sayang." ucap Gayatri yang sempat melihat binar bahagia Alexa saat bertemu dengan beberapa teman lamanya.
Setelah menikah dengan Shakti, dirinya memang selalu menjadi pusat perhatian dan perbincangan di kalangan teman temannya. Mereka tahunya, nasib Alexa yang beruntung dan selalu membuat iri tanpa tahu kesulitan yang sempat dia alami.
"Nggak, Ma. Kita pulang sekarang saja. Insyaallah besok mereka akan berkunjung ke rumah." jawab Alexa yang tidak ingin membiarkan mertuanya pulang sendiri. Dia memilih untuk selalu menemani Mama Gayatri.
"Ya sudah, jika kamu merasa kesepian ajaklah mereka ke rumah!" ucap Gayatri. Beliau hanya ingin menantunya merasa bahagia dan nyaman. Kebahagiaan Alexa dan calon cucunya adalah prioritas wanita paruh baya itu.
Mereka menghabiskan beberapa jam di rumah sakit, tapi belum juga ada kabar dari Shakti. Keduanya memutuskan untuk segera pulang.
Dengan sangat telaten Alexa mendampingi Mama Gayatri hingga masuk ke dalam rumah mewah mereka.
"Lexa, Mama istirahat dulu ya! Badan Mama sudah capek banget." ujar Gayatri saat pintu kamarnya terlihat dari tempat mereka berdiri.
"Mama tidak makan dulu?" tanya Alexa.
"Nanti saja. Shakti sudah memberi kabar?" tolak Gayatri.
"Belum, Ma." jawab Alexa dengan menggeleng lemah. Dia juga sedang mencemaskan Shakti yang tak kunjung bisa dihubungi.
Baru saja menjawab pertanyaan Mama Gayatri. Suara ponsel Alexa terdengar, wanita itu dengan terburu-buru mencari benda pipih itu di dalam tas.
"Mas Shakti, Ma." ucap Alexa sebelum mengangkat teleponnya.
"Assalamu'alaikum, Mas." jawab Alexa saat menampilkan wajah Shakti di layar ponselnya. Gayatri pun tersenyum dan memberikan isyarat jika dirinya akan langsung masuk ke kamar.
"Waalaikum salam."
"Kenapa dari tadi ponselnya tidak bisa dihubungi? Mas sedang apa? Semua mencemaskan, Mas." cecar Alexa yang hanya dijawab Shakti dengan senyuman. Dia begitu senang melihat wajah cantik itu cemberut karena mencemaskannya.
"Semua? Siapa saja yang mencemaskan, Mas?" goda Shakti. Lelaki itu terlihat di dalam ruangan dengan proyektor yang masih menyala.
"Tentu saja Mama Gayatri, Bi Jum, dan pak satpam." jawab Alexa dengan menampilkan raut wajahnya yang sedang malu malu.
"Beneran cuma mereka? Istriku tidak cemas, tidak kangen?" Shakti kembali menggoda Alexa, wanita hamil itu hanya tersenyum dengan wajah yang sudah merona.
"Oh ya, Ay. Mas ada kabar buruk." lanjut Shakti .
"Apa, Mas?" seketika raut wajah Alexa menegang.
"Ibunya Arkha sakit. Katanya sakitnya serius." ucap lanjut Shakti. Dia langsung mendapatkan kabar itu dari Arkha.
"Ya Allah... "
__ADS_1
"Makanya, mungkin beberapa hari nanti Mas akan sibuk, Ay. Ada beberapa Arkha yang harus Mas handle langsung." lanjut Shakti saat melihat wajah cemas istrinya.
"Tapi hari ini Mas Shakti pulang, kan?"
"Iya, Mas, mungkin akan pulang lebih awal. Setelah makan siang, mungkin ponsel akan Mas off- kan lagi agar semua kerjaan bisa cepat selesai. Oh ya, kamu juga jangan lupa makan, kalau butuh sesuatu minta Bi Jum saja." pesan Shakti. Lelaki itu berusaha untuk tetep memperhatikan istrinya meskipun dia tidak bisa menemani sang istri.
"Iya, Mas."
"Kalau begitu Mas tutup dulu. InsyaAllah jam delapan malam nanti, Mas, sudah sampai rumah. Assalamu'alaikum."
"Walaikumsalam." jawaban Alexa mengakhiri panggilan Shakti. Begitulah Shakti saat banyak pekerjaan yang harus dia tangani. Lelaki itu tidak ada lagi basa basinya.
Setelah mendapatkan kabar buruk tentang kesehatan ibunya Arkha. Alexa langsung mengubungi Hanum. Kebetulan adiknya itu sudah berada di rumah Mama Zoya. Hanum menceritakan semua, termasuk rencana Zoya dan Hans untuk ikut bersama mereka.
####
Mobil Range Rover sudah mulai menjauh dari pusat kota. Sesekali, Hanum memperhatikan wajah Arkha yang terlihat menegang. Sebenarnya, Shakti sudah menyarankan Arkha menggunakan sopir kantor untuk mengantar mereka pergi, tapi ditolak oleh Arkha dengan alasan tidak nyaman.
"Kak, Ibu pasti baik- baik saja." ucap Hanum, untuk menenangkan Arkha yang terlihat sangat cemas.
"Aku takut, Sayang. Aku belum bisa membahagiakan Ibu." ucap Arkha dengan mata memerah. Laki- laki bertubuh tegap itu tidak bisa menyembunyikan kecemasannya.
"Insyallah semua akan baik- baik saja. Kita banyak berdoa saja." lirih Hanum yang sebenarnya juga mengkhawatirkan mertuanya.
Flash Back
"Ma... Mama... " panggil Hanum langsung masuk mencari keberadaan mamanya.
Hanum langsung ke rumah Mama Zoya, dia masih begitu kesal saat mengingat semua kalimat yang dilontarkan Ibu Arini ketika Arkha membawanya pulang.
"Sayang, Mama di sini." panggil Zoya dengan menutup ponselnya. Wanita itu baru saja mencari halaman google yang berisi tentang resep masakan.
"Ma, Hanum kesal banget, Ma. Kok, ada ya orang tua yang songong banget. Kalau boleh memilih ogah Hanum punya mertua kayak gitu." cerocos Hanum sambil meletakkan beratnya di sebelah Zoya. Zoya hanya mengernyitkan kedua alisnya, dia merasa heran dengan putrinya yang baru saja tiba dan marah-marah.
"Siapa, Sayang?" tanya Zoya masih mencoba mencerna pembicaraan bersama putrinya.
"Tentu saja Ibu mertuaku, Ma." ketus Hanum masih dengan wajah cemberutnya.
Sejenak, Zoya menghela nafas berat. Wanita itu sedang berfikir dari mana dia akan memberi pengertian pada Hanum. Dia juga tahu, tidak mudah mendamaikan sesuatu yang pada dasarnya sudah berbeda.
"Sayang, tidak ada salahnya mengalah. Lagi pula orang tua suamimu juga orang tuamu juga." jelas Zoya.
"Nggak mudah, Ma. Apalagi jika emosi Hanum selalu dipancing untuk marah." elak Hanum membuat Zoya juga mengerti situasi putrinya. Sejenak mereka terdiam.
"Mama ngerti, Sayang. Saat di posisimu, belum tentu Mama bisa sabar. Tapi, apa daya sebagai seorang anak. Jika kamu menentangnya tentu saja itu akan menyakiti perasaan beliau dan akan membuat Arkha serba salah."
__ADS_1
"Arkha anak laki- laki. Sampai kapanpun dia punya tanggung jawab penuh pada ibunya." lanjut Zoya.
"Lalu Hanum harus bagaimana, Ma. Hanum rasanya malas banget jika bertemu Ibu mertua." lirih Hanum. Gadis itu sudah tidak suka dengan sesuatu dia memang tidak bisa untuk berbasa basi.
"Sayang, tidak usah menyimpan dendam atau permusuhan. Itu hanya menunjukkan keangkuhan dirimu. Seangkuh apapun seseorang kamu tetap manusia, tidak bisa melakukan apapun tanpa kehendak-Nya." Zoya mencoba mengukir senyum berusaha membuat putrinya merasa tidak digurui untuk menjaga perasaan putrinya yang sudah dewasa.
"Apapun yang terjadi beliau ibunya Arkha, itu artinya beliau ibumu juga, entah kamu akui atau tidak. Belajar dewasa, saat inilah kamu bisa memahami dan berbakti kepada orang tua." lanjut Zoya. Dia tidak ingin memaksa Hanum, karena memang semua itu tidaklah mudah.
"Akan Hanum coba mengerti, Ma." jawab Hanum.
"Terima kasih. Mama selalu berdoa kamu akan selalu menjadi anak dan istri yang solehah." Zoya memeluk putrinya. Besar harapannya agar Hanum bisa menyikapi permasalahan ini dengan kearifan. Sama- sama belajar untuk lebih bijaksana menyikapi permasalahan.
Flash On
"Num, kamu lapar?" tanya Arkha saat terdengar suara perut istrinya. Hanum hanya tersenyum dan mengangguk karena tidak berani mengajak Arkha untuk mampir makan.
"Tapi, aku bisa menahannya jika, Kak Arkha, ingin cepat bertemu Ibu." timpal Hanum saat Arkha melirik istrinya bersamaan dengan laju mobilnya yang memelan. Arkha semakin memahami jika istrinya sebenarnya tipe pribadi yang peka.
"Kita akan makan. Aku tidak ingin kamu sakit." ucap Arkha saat menemukan rumah makan yang paling dekat dari posisi mereka.
Sejak tadi gerimis mengiringi sepanjang jalan perjalanan mereka. Musim penghujan membuat cuaca hampir setiap hari diselimuti mendung ataupun hujan. Dengan berlari kecil Arkha membukakan pintu mobil untuk Hanum. Mereka pun berlari menuju rumah makan yang ada di dalam rest area.
Arkha masih menggenggam tangan dingin Hanum, lelaki itu baru menyadari wajah istrinya yang terlihat lebih pucat. Mereka memilih tempat duduk setelah memesan beberapa minuman dan makanan.
"Kamu sakit, Num?" tanya Arkha dengan menatap lekat wajah istrinya.
"Nggak, Kak. Aku hanya belum makan saja, semalam juga kita tidur sebentar, ditambah aku harus menyelesaikan urusan kuliah dan kafe yang kebetulan memang sedang repot." jelas Hanum.
Arkha menelangkupkan kedua tangannya dan mengusap pipi dingin istrinya dengan jari jempolnya. Ada rasa haru dan sayang yang semakin membuncah dengan sikap Hanum yang selalu mendampinginya.
"Maaf, Kak Arkha begitu cemas hingga tidak memperhatikan kondisimu." ucap Arkha.
"Aku baik- baik saja, Kak." jawab Hanum.
Kemudian seorang pelayan membawakan pesanan mereka. Hanum menghentikan perbincangan mereka dan segera menyantap makanan.
Mereka tidak ingin berlama- lama berada di rest area, setelah menghabiskan makan dan minumnya. Arkha kembali merangkul istrinya berjalan masuk ke dalam mobil. Setelah memasangkan seat belt, Arkha kembali masuk dan duduk di belakang kemudi. Lelaki itu meraih jaket yang ada di jok belakang dan memasangkannya di tubuh mungil Hanum.
"Kamu tidur saja. Aku tidak masalah menyetir sendiri." ucap Arkha. Lelaki itu memang selalu memperlakukan Hanum dengan penuh perhatian. Hal itulah yang membuat Hanum jatuh cinta pada lelaki penyayang itu.
"Mobil Papa Sudah mulai mendekati mobil kita." ujar Hanum kemudian menutup ponselnya. Dia baru saja melihat posisi keberadaan mobil papanya.
Hans dan Zoya tidak bisa berangkat bersama dengan mereka karena masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan oleh lelaki paruh baya itu. Hans memutuskan bersama sopir untuk menyusul mereka.
"Sudah kamu tidur. Kita akan melanjutkan perjalanan." ucap Arkha. Setelah mengelus lembut kepala istrinya, lelaki matang itu pun melajukan kembali mobilnya.
__ADS_1