Rindu Alexa

Rindu Alexa
Edisi Pengantin Baru


__ADS_3

Agam, Laras, dan Dewa menoleh ke luar saat terdengar suara cekikian dan omelan. Agam mengernyitkan kedua alisnya saat melihat sosok perempuan cantik yang sempat dia kejar.


"Lexa?" gumam Agam lirih tapi masih terdengar oleh Dewa.


"Tante Salma, Bapak." sahut Dewa dengan merosotkan tubuhnya dari pangkuan Agam dan berlari menghampiri kehebohan dua orang di halaman rumah.


Agam pun langsung berdiri, dia masih dibuat penasaran. Lelaki itu pun berjalan mengikuti putranya untuk meyakinkan penglihatannya. Iya, dia juga melihat sosok lelaki yang selama ini menjadi rivalnya untuk memperebutkan gadis yang sama.


"Lexa?" suara Agam menghentikan gerakan Alexa. Dia melihat Agam kini tengah berdiri menatapnya.


"Dokter Agam." sapa Alexa dengan suara lembut. Senyumnya terlihat begitu canggung menyambut orang yang dulu sering memberi perhatian padanya.


"Kenapa kamu ada disini?" Begitu pun juga Agam, dia tak kalah salah tingkah saat melihat gadis yang sudah dicari banyak orang terdekatnya malah berada di kampung terpencil.


"Om Shakti, Itu bapakku!" tunjuk Dewa sambil berbisik, sedangkan Shakti hanya mengangguk sambil menatap tajam lelaki yang kini menyapa istrinya.


"Panjang ceritanya, Dok." jawab Alexa. Laras yang melihat pertemuan dua orang itu pun kembali masuk. Dia bisa melihat sikap canggung keduanya.


"Ehm... ehm... ayo temani aku istirahat!" Shakti langsung menarik tubuh kecil itu untuk masuk ke dalam. Sedangkan, Agam hanya tersenyum saat Alexa menoleh ke arahnya sebagai permintaan izin.


"Bapak, kenal Tante Salma?" tanya Dewa membuat Agam tersadar kemudian dia kembali menggendong putranya.


"Iya, Tante Salma teman Bapak bekerja." jawab Agam dengan membawa masuk Dewa dan mencari keberadaan Laras.


Agam masih menggendong Dewa, dia berdiri menatap wanita yang terlihat sibuk memainkan alat dapurnya. Dia masih terlihat sama seperti beberapa tahun lalu.


"Ras, masak apa?" pertanyaan yang hanya sebatas basa basi saat melihat wanita itu hanya menunduk saja. Masih dengan menggendong Dewa, Agam mendekati Laras.


"Telur di masak balado. Di sini susah mencari bahan makanan yang variatif." lanjut Laras tanpa menoleh ke arah Agam. Lelaki itu seperti melihat Laras yang sedang berfikir keras.


"Kamu kenapa, Ras?" Laras berjingkat saat Agam mengusap kepalanya. Dadanya kembali berdebar, masih dengan debaran yang sama seperti dulu.


"Bisakah kamu keluar, Gam!" pinta Laras dengan sedikit mendorong tubuh tinggi itu keluar.

__ADS_1


"Tapi aku masih kangen kamu, Rasa." Agam masih berusaha bertahan hingga dia melihat pipih yang bersemu merah di wajah wanita itu. Seperti dulu, jika salah tingkah Laras selalu meminta Agam untuk menjauh.


"Baiklah- baiklah! Tapi, jangan lama memasaknya. Aku sudah sangat lapar." ucap Agam bukan lagi lapar yang dia rasakan tapi, dia masih ingin menatap wajah ayu yang sudah lama menghilang dari pandangannya.


"Iya, tunggu sepuluh menit lagi." balas Laras kemudian kembali masuk.


Kini lelaki yang masih menggendong Dewa itu pun berjalan menuju keluar menghampiri seseorang yang sedang merajut untuk menghabiskan waktu luangnya.


"Uti..." panggil Dewa dengan turun dari gendongan Agam dan berlari mendekati utinya yang di ikuti langkah Agam.


"Uti sudah kenalan dengan Bapak Dewa?" tanya bocah itu langsung memilih memeluk Bu Seno.


"Sudah, sebelum Bapak Dewa ketemu Ibuk dan Dewa." jawab Bu Seno kemudian meletakkan benang rajutnya, beliau kemudian memangku bocah itu. Sebenarnya ada rasa berat saat mengingat cucu kesayangannya dan Laras akan pergi bersama seseorang yang memang sepantasnya.


"Saya ingin menikahi Laras secepatnya, Buk." ucap Agam mengutarakan niatnya. Dia memang tidak ingin menundanya lagi.


"Iya memang seharusnya seperti itu. Jika kalian sudah mendapatkan kesepakatan kita bisa mulai secepatnya atau besok pagi." jawab Bu Seno, beliau tidak ingin menunda lagi nita baik itu. Beliau tahu Laras hanya punya satu cinta yaitu untuk lelaki di depannya.


Malam mulai sepi, Shakti malah ingin keluar untuk menghidupkan udara segar. Lelaki itu meninggalkan Alexa yang berusaha memejamkan matanya. Dia memilih untuk duduk di halaman rumah tantenya dengan menikmati sebatang rokok.


"Belum tidur?" sapa Agam dengan menghampiri lelaki yang saat ini mengepulkan asap rokoknya ke udara.


"Hmmm... " jawaban yang sebatas deheman tidak membuat Agam berhenti. Lelaki yang identik dengan keramahannya pun ikut duduk di sebelah Shakti.


"Rokok!" tawar Shakti.


"Terima kasih, saya tidak merokok." tolak Agam dengan halus.


Sejenak mereka terdiam diantara pekatnya suasana malam. Di kampung memang berbeda, baru saja pukul sembilan, malam sudah sangat sepi dengan suasana gelap jika tidak purnama.


"Kenapa tidak mengatakan jika kamu sudah mengetahui keberadaan Laras?" tanya Agam


"Aku tidak tahu siapa Mbak Laras. Aku ke sini hanya mengunjungi tanteku bahkan aku juga tidak sengaja bertemu dengan Alexa." jelas Shakti dengan masih menikmati rokoknya.

__ADS_1


"Apapun itu aku juga harus berterima kasih padamu. Aku tahu yang kejadian sebenarnya karena dirimu." mendengar ucapan Aga, Shakti hanya terkekeh. Saat itu, Dia hanya terbiasa mengulik semua sisi dari lawannya, lelaki dengan ego dan ambisi yang cukup besar.


"Ayo, kita masuk!" ucap Agam saat melihat Laras datang dengan membawa selimut tebal. Agam pun bangkit menghampiri Laras yang sudah menyiapkan kamar untuk dirinya. Sementara wanita itu dan Dewa diminta Bu Seno untuk tidur bersama. Laras memang tidak ada hubungan darah dengannya tapi saat akan kehilangan kedua orang itu wanita paruh baya itu merasa berat.


Tidak lama kemudian, dia pun bangkit masuk ke dalam kamar. Dengan pelan dia membuka pintu kamarnya, agar tidak terdengar derit yang menganggu istrinya. Tapi, ternyata Alexa belum tidur.


"Kamu kenapa belum tidur, Ay? Besok kita akan melakukan perjalanan jauh." tanya Shakti dengan merangkak ke atas tempat tidur.


"Nggak bisa tidur! " jawab Alexa dengan menatap sosok yang kini terbaring saling berhadapan dengannya.


"Kenapa? Patah hati?" goda Shakti dengan mendapat tatapan tajam dari istrinya. Shakti kembali tergelak puas hingga membuat Alexa sedikit bangkit untuk membekap mulut suaminya dengan telapak tangannya. Rambut panjangnya terurai menyentuh wajah tampan itu membuat Shakti mengendus wanginya.


"Tidak akan ada jatah lagi selama seminggu." ancam Alexa kemudian kembali berbaring. Tapi, kali ini dia memilih membelakangi Shakti.


"Jangan begitulah, Ay!" bujuk Shakti dengan merapatkan tubuhnya. Dia menggesekkan miliknya yang mulai mengeras pada bongkahan istrinya.


"Heh, apaan itu?" Seketika Alexa langsung melotot merasakan keusilan suaminya.


"Kemarin kan sudah, bahkan sampai berkali kali, Mas." Alexa menoleh dengan wajah merona.


"Sudah aku bilang, Ay, M


mencium wangi rambutmu saja sudah bikin aku berdiri!" ucap Shakti, Alexa tidak menyadari jika beberapa kancing piyamanya sudah terlepas.


"Tapi kemarin kita sudah melakukannya." sahut Alexa, dia merasa aneh saja jika setiap hari harus melakukan itu.


"Kan, edisi pengantin baru." bujuk Shakti.


"Seorang istri tidak boleh menolak jika seorang suami menginginkannya, Ay." Shakti terus saja membujuk. Sedangkan Alexa seolah terus berfikir kebenaran ucapan dari suaminya.


Dan sekali lagi, Shakti kembali membuat istrinya yang naif itu terbawa dengan permainannya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2