Rindu Alexa

Rindu Alexa
Berujung Masalah


__ADS_3

Arkha menghentikan mobilnya di depan kampus Rania. Dia pun keluar dari mobilnya dan menelpon Rania. Arkha memberitahu gadis itu, jika dia sudah ada di depan kampus tepatnya di parkiran.


Arkha memang terlihat menarik, hingga banyak mata tertuju padanya. Meskipun berkulit sawo matang, tapi wajah ganteng dan bodinya yang sudah terbentuk dengan latihan gym rutin, membuat Arkha semakin terlihat menarik.


"Maaf menunggu, Bang." ucap Rania saat sudah tiba di depan Arkha. Gadis itu sempat terpesona dengan tampilan Arkha yang keren. Iya, Arkha terlihat sangat gagah.


"Kita makan di mana?" tanya Arkha dengan membuka kaca mata hitamnya.


"Bagaimana jika di dekat kampus saja, Bang? Aku nanti masih ada kelas dan rapat Bem." ujar Rania yang langsung di setujui oleh Arkha.


Mereka berjalan melewati banyak mahasiswa yang kini tengah menatap keduanya penuh dengan tanda tanya. Rania memang tidak punya pacar, tapi kali ini gadis itu berjalan dengan lelaki yang tampan dengan tampilan metropolis.


Di dalam kafe, Dira terus saja mengomel karena sudah tiga hari Hanum menutup kedainya dengan alasan jadwal mereka benturan dan barista kopinya sedang sakit.


"Sayang Num, kedai harus kita tutup. Lo tau karena kita punya kedai sekarang, gua bisa buktikan sama orang tua gua, jika tanpa uang mereka gua bisa hidup sendiri." ucap Dira. Gadis itu merasa kecewa dengan kedua orang tuanya, lantaran alasan mencari uang untuk masa depannya, bokap dan nyokapnya tidak punya waktu untuk pulang ke rumah.


"Hmmm... jika benar itu alasan sebenarnya, seharusnya lo bersyukur nyokab dan bokap lo berarti sangat sayang sama lo." ucap Hanum dengan mengaduk jus alpukatnya.


"Tapi, mungkin cara mereka kurang tepat." lanjut Hanum. Itu yang disukai Dira dari Hanum meskipun jutek, seenaknya sendiri, tapi gadis itu cukup nyaman untuk diajak sharing.


Siang itu mereka makan siang di kafe, keduanya memilih duduk di dekat dinding kaca. Hanum dan Dira memilih kafe yang tidak jauh dari kampus karena sebentar lagi, keduanya masih ada kelas tambahan.


"Bang kita duduk di dekat jendela saja, ya!" Suara gadis yang ada di dekatnya membuat Hanum menoleh.


Deg... Hanum melihat Rania menarik tangan Arkha ke arah meja yang ada di depannya. Rania terlihat bersemangat hingga saat Arkha akan menyapa Hanum pun tidak sempat.


Mata bulat itu seketika tertuju pada Arkha. Lelaki yang sempat membalas tatapan Hanum pun berjalan mengikuti Rania dengan langkah berat.


"Eh, Num... mau kemana?" tanya Dira saat Hanum membereskan barangnya dan memasukkannya ke dalam tas kembali.

__ADS_1


"Kita menunggu di depan kampus saja!" ucap Hanum saat beranjak pergi. Hanum pun pergi menuju kasir dan keluar memilih jalan yang jauh dari meja Arkha dan Rania. Gadis itu memang tidak pintar berbasa basi.


"Bang, pesan apa?" Arkha tergagap saat dia memperhatikan Hanum dan temannya keluar dari kafe. Dia merasa Hanum menghindar darinya. Tapi, kenapa?


"Sama dengan pesananmu saja." jawab Arkha dengan sekenanya. Lelaki itu kemudian berusaha menikmati makan siangnya bersama gadis yang selalu tersenyum adanya. Bagi, Arkha Rania memang selalu terlihat menyenangkan.


###


Alexa masih menikmati sore yang terlihat cerah dengan warna kekuningan di ujung langit sebelah barat. Hembusan angin yang menyapu kulit wajahnya terasa begitu sejuk dan lembut.


Suasana alam yang sebenarnya begitu indah untuk dinikmati. Sore ini, dia menunggu Shakti pulang kerja dari atas balkon. Dia enggan bertemu dengan Dinda. Gadis yang perlu di waspadai keberadaannya.


Dari atas balkon, Alexa melihat Dinda sedang mengobrol dengan seorang lelaki paruh baya. Jika dilihat dari wajahnya, keduanya punya kesamaan. Mungkin itu bapaknya. Pikir Alexa, dan masih menikmati pemandangan itu hingga lelaki itu pergi lagi.


[Mas, kapan pulang]


Wanita berwajah oriental itu tengah tersenyum lebar, dia kemudian berniat menyambut kedatangan suaminya. Dengan berlari kecil, Alexa menuruni anak tangga dan membuka pintu depan.


"Minggir, Ay!" Dengan panik Shakti menggendong Dinda masuk ke dalam kamarnya. Seketika itu, Alexa terhenyak kaget. Tapi, Shakti tidak menyadari itu.


Sejenak dia mematung, dadanya berdenyut ngilu, bahkan dia hampir tidak percaya kala melihat sesuatu yang membuat hatinya meradang.


Alexa segera menyusul keduanya dengan menyimpan rasa marah yang bisa meledak seketika, Alexa melangkah menuju kamar Dinda. Dimana Shakti membawa gadis itu.


"Kalian bukan muhrim! Jangan terlalu lama berduaan di dalam kamar! Dia juga bukan anak kecil lagi." suara Alexa yang terdengar lantang membuat Shakti terkaget saat lelaki itu memeriksa luka memar di kaki Dinda.


"Ay... " panggil Shakti, tapi Alexa langsung pergi meninggalkan keduanya setelah memberi peringatan. Shakti sempat melihat sebuah kemarahan yang tersimpan di wajah istrinya.


"Din, sebaiknya kamu telpon Bapak kamu!" ucap Shakti kemudian berlari meninggalkan Dinda yang mengangguk dan tersenyum samar.

__ADS_1


"Ay, tunggu...!" panggil Shakti, tapi Alexa sama sekali tidak menghiraukannya. Dia terus saja berjalan menaikki tangga dengan perasaan marah dan kecewa. Lelaki itu kemudian berlari mengejar Alexa.


"Alexa!" bentak Shakti dengan menarik lengan Alexa, memaksa istrinya untuk berhenti.


"Ay, dengarkan aku!" lanjut Shakti saat Alexa berhenti setelah menyelesaikan anak tangga yang terakhir.


"Apa lagi? Teruskan saja, Mas!" lirih Alexa penuh dengan penekanan, tatapannya begitu tajam seoalah menusuk hati lelaki di depannya.


"Dengarkan aku dulu! Dinda terjatuh, kakinya keseleo dan kamu bisa lihat sendiri, pergelangan kakinya memar." jelas Shakti.


"Iya aku tahu, lanjutkan saja, kalau perlu peluk saja dia...."


"Pyaaaaaar.... Jangan egois, Ay." Seketika Alexa terjingkat kaget kalau Shakti menendang sebuah Vas bunga di dekatnya hingga pecah.


"Aku egois?" tanya Alexa membuat Shakti terbungkam karena lelaki itu melihat air matanya istrinya sudah lolos dari mata yang sudah mengembun sejak tadi.


Wajahnya yang sudah memerah sejak tadi pun terasa memanas, bahkan bibirnya bergetar, menahan ledakan tangis yang memang dia tahan. Sikap Shakti sungguh membuatnya terluka.


Sejenak, dia menatap Shakti dengan tatapan kecewa. Iya, sorot mata yang penuh dengan kemarahan kini membuat lelaki itu merasakan sebuah nyeri di ulu hatinya, bukan maksudnya dia memarahi istrinya. Dia merasa Alexa terlalu berlebihan pada situasi yang tidak tepat. Di depannya Dinda terkilir hingga terjatuh.


"Ay.... " lirih Shakti merasa bersalah, kala melihat air mata Alexa yang terus mengalir dari kedua matanya.


Alexa menepis tangan yang hampir menyentuhnya, dia seolah tidak sudi tangan itu mengenai dirinya. Wanita yang hatinya sudah terluka itu berlari masuk ke dalam kamar.


"Astaga... " lirih Shakti dengan meraup wajahnya secara kasar. Dia tidak tahu jika akan berbuntut seperti ini.


Shakti kembali berjalan menuju ke kamar, mencari istrinya yang sudah menangis. Dirinya memang terbawa emosi hingga membentak istrinya dan menendang vas bunga.


Saat membuka kamar, Shakti melihat Alexa sudah meringkuk di tepi tempat tidur dengan kaki menggantung. Punggungnya membelakangi pintu, hingga Shakti hanya bisa melihat punggung kecil itu bergetar seiring dengan isakan tangis yang terdengar jelas.

__ADS_1


__ADS_2