
Hanum berjalan cepat menuju apartemen Hans. Dia kemudian menjatuhkan tubuhnya di sofa saat sudah berada di dalam apartemen.
"Kapalaku terasa pusing jika harus harus di hadapkan pada kejadian seperti ini." gumam Hanum sambil memasukkan laptop Papa Hans ke dalam tasnya.
Dia sudah berjanji untuk membuang perasaannya yang hanya bertepuk sebelah tangan. Saat melihat kedua orang itu begitu akrab, Hanum yakin mereka sudah berkomitmen untuk hubungan keduanya.
Bergegas gadis itu keluar dari apartemen dengan memesan taxi. Dia sudah berjanji untuk tidak peduli lagi pada lelaki yang sempat membuat hatinya berdebar.
Di sebuah apartemen seorang lelaki menjadi gelisah memikirkan gadis yang dia tinggalkan di lift. Arkha masih terbayang raut wajah cemas Hanum saat itu.
"Kayaknya Bang Arkha lagi ada masalah." tebak Rania yang sejak tadi sudah memperhatikan Arkha. Dia tahu Arkha sedang tidak fokus. Rania memang datang ke tempat Arkha untuk menyerahkan proposal bantuan dana untuk kegiatan bakti sosial yang akan di lakukan oleh kampusnya.
"Nggak juga, Ran." Arkha masih menutupi kecemasannya, meskipun begitu Arkha tidak bisa menutup kegelisahan yang saat ini.
"Bang, mau Rania masakin menu rumahan?" tawar gadis itu, dia tahu Arkha jarang sekali makan masakan rumahan.
"Nggak usah, Ran. Soalnya aku akan bertemu seseorang untuk membahas urusan kerjaan." jawab Arkha. Rania sedikit kecewa dengan penolakan Arkha.
"Bang, Rania pamit dulu ya! Nanti kalau sudah Acc hubungi Rania. Nanti Rania akan datang ke kantor Abang." ujar Rania membuat Arkha merasa tidak enak.
"Abang anterin, Ran." Arkha pun bergegas mengambil kunci mobilnya. Sekalian, dia akan bertemu klien.
Mereka berjalan bersama meninggalkan unit apartemen Arkha menuju basemen. Tapi, saat keluar dari lift lantai dasar, Arkha sempat terkaget saat melihat Hanum berbincang dengan lelaki yang sama yang dia temui di kantin.
"Kak Bara apartemennya di lantai berapa?" tanya Hanum.
"Lantai 30, Num." jawab Bara.
Hanya percakapan itu yang sempat terdengar oleh Arkha, saat dia melewati sepasang muda mudi yang sedang mengobrol.
Hati lelaki itu mencelos kala melihat lelaki itu mampu membuat Hanum tertawa. Dan dia laki laki yang sama yang di tahu sering bertemu Hanum.
Arkha melajukan mobilnya dengan tatapan serius padahal otaknya sedang berputar tentang Hanum dan lelaki itu.
__ADS_1
Sesekali Rania melirik Arkha yang sedari tadi terdiam, lama lama gadis itu semakin curiga jika ada sesuatu antara lelaki di sebelahnya dan adik tingkatnya itu.
"Bang, sudah hampir sampai." kalimat Rani seolah memberi peringatan pada Arkha jika kosnya sudah di depan mata.
"Maaf, Ran." ucap Arkha kemudian menghentikan mobilnya secara mendadak. Dia juga merasa bersalah pada gadis yang kini membuka pintu mobil itu karena mendiamkannya selama perjalanan.
Setelah Rania masuk ke dalam gerbang kosnya Arkha kemudian melakukan kembali mobilnya untuk menemui kliennya di tempat yang sudah mereka sepakati.
###
Merek hanya berkeliling menikmati suasana liburan bersama penjual kaki lima yang mangkal hanya setiap hari minggu saja. Ini semua ide Alexa dan Shakti harus mengiyakan dari pada terjadi percekcokan lagi.
Sudah hampir sampai di ujung para penjual yang berjajar rapi. Seseorang yang sedari tadi mengamatinya terus pun mendekat ke arah Shakti dan Alexa.
" Lexa... " panggil lelaki berkulit putih dengan hidung mancung dan terlihat begitu rapi.
"Dimas... Apa kabar, Dim? " sapa Alexa saat melihat sosok yang pernah menjadi teman semasa duduk di bangku TK itu pun berdiri di depannya.
"Ehem...ehem... " Shakti akhirnya berdehem dengan mengalihkan pandangannya tapi tangannya memeluk bahu kecil istrinya dengan begitu posesif.
"Mas, Ini Dimas teman aku." ucap Alexa agar Shakti mulai memperhatikan.
"Dimas." Dimas pun mengulurkan tangannya.
"Shakti, suami Alexa." Shakti mempertegas statusnya, agar lelaki yang menatap penuh kekaguman pada istrinya tahu jika teman lamanya itu sudah menjadi istrinya.
"Oh ya kapan kapan kita akan mengadakan reoni, semoga nanti kamu bisa hadir, Lexa." ucap dimas membuat Shakti mendengus, membuat Alexa merasa tidak enak dengan Dimas.
"Insyallah, Dim. Kabari saja, ya!" balas Alexa.
"Maaf, kami akan pulang!" pamit Shakti yang sudah merasa jengah, padahal mereka hanya sekedar menyapa.
"Ohhh... silahkan." sahut Dimas, sembari tersenyum.
__ADS_1
Shakti langsung menarik tubuh istrinya untuk menjauh, langkah keduanya kini menuju mobil yang berada di parkiran.
"Mas bukan begitu caranya. Mas Shakti keliatan banget tidak suka sama Dimas." gerutu Alexa, dia merasa kali ini Shakti sungguh keterlaluan. Shakti tidak menjawab Alexa.
Shakti memlih untuk segera masuk ke dalam. mobil, dan melajukan mobilnya menuju ke rumah.
"Jangan - jangan kamu sengaja ingin datang di acara beginian karena ingin bertemu dengan lelaki itu?" sergha Shakti dengan tuduhan yang sangat tidak masuk akal.
"Astagfirullah, Mas. Sumpah aku tidak tahu jika Dimas juga ada di sini." Alexa mencoba meyakinkan Shakti. Dia juga sangat kesal dengan tuduhan yang dilontarkan suaminya pada dirinya.
Shakti hanya terdiam, dia membelokkan mobilnya pada sebuah gedung apartemen. Tapi apapun itu, Alexa sudah tidak ingin lagi bertanya apapun. Dia hanya terdiam, saat mobil metalik itu masuk ke dalam basemen.
Alexa masih terdiam, saat Shakti terus saja menyeret langkahnya hingga saat ini mereka masuk ke dalam Apartemen yang cukup mewah itu.
"Aku tidak suka lelaki yang kasar." lirih Alexa menghentikan langkah Shakti. Lelaki itu mengendurkan genggaman tangannya dan kemudian menoleh ke arah sosok yang berada di belakangnya.
Dia mulai menatap dengan teliti sosok yang wajahnya sudah memerah itu. Alexa menahan tangisnya saat Shakti terus saja menarik lengannya dengan kasar.
"Aku malu diperlakukan seperti tadi." lirihnya lagi seolah bergumam. Tapi, Shakti masih mendengarnya.
Lelaki itu masih saja menetapnya penuh teliti, seolah dia baru tersadar kaan sikapnya yang sudah menyakitkan.
"Aku tidak seburuk itu, mengajak lelaki selain suamiku bertemu di tempat yang cukup ramai." lanjut Alexa membuat Shakti mendekat padanya.
"Maafkan aku, Ay. Aku tidak suka cara dia menatapmu. Cara dia tersenyum padamu. Kamu milikku seharusnya dia menyadari itu. Kamu bukan bocah berumur lima tahun yang pernah dia temui dulu." jelas Shakti mencoba menjelaskan apa yang ada pikirannya.
Dia tak senaif Alexa yang tidak tahu jika seseorang menaruh kekaguman padanya. Shakti mencoba memeluk Alexa yang hanya mematung. Dia baru saja menyadari sikap posesifnya sudah melukai istrinya.
"Aku dan Dimas tidak ada hubungan apapun, Mas. Dia juga bukan mantan yang mana aku dan dia tidak punya perasaan sepesial seperti kamu dan Clarisa." sindir Alexa.
"Kenapa sampai ke Clarisa, Ay?" Shakti seolah tidak terima jika masalah ini menjadi meluas sampai menyangkut pautkan Clarisa.
.
__ADS_1