Rindu Alexa

Rindu Alexa
Jumpa Pers


__ADS_3

Kepergian Alexa menyisakan rasa sedih bagi perempuan mungil yang sekarang lebih sering termenung sendiri. Semua keluarga Hans juga merasa sedih atas kepergiaan Alexa, tapi tidak ada yang tahu jika yang paling terpukul adalah Hans. Dia merasa Kepergiaan putrinya itu karena dirinya.


Setelah menatap istrinya yang duduk di atas balkon sendirian, Hans memilih pergi meninggalkan Zoya menuju ruang kerja. Hubungan mereka pun menjadi dingin karena masalah ini.


Lelaki yang saat ini duduk tertegun di balik meja kerja, menyimpan rasa bersalah dan rindunya sendiri. Jika tidak ada satu orang yang melihat air matanya, ruang kerjanya menjadi saksi bisu kesedihan dan rasa bersalah Hans sebagai seorang Papa.


Seharusnya apapun kondisi seorang putri, sosok Papa akan selalu ada untuk putrinya, akan selalu melindungi putrinya dan selalu memberi cinta.


Hans mengeluarkan kembali foto Alexa saat dia masih kecil. Dia tersenyum semu. Waktu cukup cepat bergulir, bocah gembul itu sudah menjelma menjadi gadis cantik. Panggilan 'Si Gembul' yang dia berikan pada Alexa saat bocah masih bertubuh tambun membuat semua orang mengikutinya.


"Maafkan Papa, Mbul!" gumam Hans dengan bibir tersenyum, tapi sudut matanya sudah mengembun karena penyesalan yang begitu dalam. Sekarang yang ada hanya sebuah rasa rindu untuk gadis yang sudah beberapa hari meninggalkan rumah.


"Pa... "


"Tok... tok... tok... " saat pintu diketuk Hans mengusap matanya yang sudah basah. Terlihat Hanum membuka pintu ruangannya.


"Pa, ada Om Ryan." ucap Hanum memberi tahu kedatangan Ryan.


Hans langsung beranjak dari kursinya. Dia memang meminta Ryan membantunya mencari Ale dan membantu pekerjaan di kantor yang sedikit kacau karena masalah ini.


"Hanum, tolong temani Mama. Jika mau, ajak istirahat di kamar!" titah Hans saat akan menuruni anak tangga. Tidak hanya merasa bersalah dengan putrinya, tapi dia juga merasa bersalah dengan Zoya. Kepergian Ale membuat Zoya menjadi murung.


"Gimana, ada kabar tentang Ale?" tanya Hans saat berada di depan tamunya.


"Orangku hanya bisa melacak Ale saat berada di terminal." Mendengar apa yang diucapkan Ryan membuat Hans semakin putus asa. Ale tidak pernah naik angkutan umum. Jika bandara adalah hal yang biasa putrinya singgahi, tapi berbeda dengan terminal. Ale tidak pernah sekali pun datang ke terminal.


"Dan, aku hanya mengingatkan jika lusa ada jadwal sidang untukmu." lanjut Ryan.


Banyak hal yang di sampaikan Ryan karena Hans cenderung masif untuk saat ini. Kecemasan akan keselamatan putrinya tidak bisa lagi membuatnya fokus.


###


Malam di kampung terpencil itu terlihat lebih terang karena bulan purnama. Tidak ada listrik, rumah penduduk yang berjarak jauh satu sama lainnya membuat suasana malam di kampung itu terasa sunyi. Hanya suara jangkrik yang memberikan irama khas di kampung itu.


"Kamu nggak betah ya?" suara Laras membuat Alexa menoleh ke arah bayangan wanita itu yang ditimbulkan dari sinar lampu petromak dari dalam rumah.


"Dewa sudah tidur, Mbak?" tanya Alexa mengalihkan pertanyaan Laras.

__ADS_1


"Sudah, Setelah Isya Dewa pasti sudah mengeluh mengantuk." jawab Laras kemudian mengambil duduk di samping Alexa. Mereka menikmati suasana malam, halaman rumah kecil yang berdinding anyaman bambu.


"Mbak Laras tidak takut tinggal sendiri di sini?" tanya Alexa begitu penasaran dengan kehidupan wanita beranak satu itu.


"Orang di sini baik baik. Lebih- lebih, Bu Seno. Dia selalu melindungi kami. Kamu sendiri?" tanya Laras pada Alexa, pertama tinggal di rumahnya Alexa terlihat ketakutan saat malam tiba.


"Di sini aku belajar banyak hal, Mbak. Belajar hidup sendiri, belajar bersyukur jika selama ini Allah memberiku banyak nikmat. Aku juga belajar hidup dalam suasana gelap. Dulu aku takut gelap." ucap Alexa dengan getir. Dia masih ingat saat lampu padam dia langsung berteriak memanggil Papa Hans dan memeluknya begitu erat. Papa, Alexa sangat merindukan sosok itu.


"Bagaimana kamu bisa sampai di sini?" tanya Laras yang sudah menyimpan rasa penasarannya sejak kemarin.


"Ceritanya panjang, Mbak. Intinya aku seorang pengecut, aku tidak berani menghadapi dunia ini." Ada sedikit penyesalan dalam hatinya, saat keberanian itu sama sekali tidak dia miliki.


"Tidak seharusnya aku lari dari masalah. Seharusnya aku lebih bisa belajar menghadapi semuanya." lanjut Alexa.


"Terkadang kita tidak punya pilihan lain. Terkadang kita juga tidak bisa berfikir jernih saat berada pada titik puncak masalah. Dan itu sangat manusiawi." Laras menggenggam tangan lembut gadis di sebelahnya. Dia bisa mengira jika Salma yang dia kenal berasal dari kerluarga priyayi dan cukup berada.


Flashback


Malam itu Alexa bermaksud pergi ke tempat Tante Zahra. Di kampung Zoya berasal sangat di kenal kampung yang cukup religius. Dia bermaksud untuk menenangkan hati di sana.


"Mbaknya seharusnya nggak naik bus ini. Seharusnya mbaknya naik bus Merdeka Raya." ucap kondektur saat menagih uang karcis. Alexa sedikit cemas, tapi dia juga tidak tahu harus bagaimana lagi.


Alexa menatap keluar jendela. Tatapannya kosong, tapi hatinya masih terasa gelisah. Saat semua terlelap tidur, Alexa masih terjaga.


"Arrrghh... " pekik Alexa terkaget saat bus sedikit oleng bersamaan dengan teriakan orang orang yang duduk di bangku depan.


Alexa masih terlihat bingung, saat semua penumpang berusaha menghambur keluar. Keramaian pun terjadi, jalan mulai macet. Dan ternyata Bus yang ditumpanginya bertabrakan dengan truk yang melaju dengan arah berlawanan.


Alexa yang semakin bertambah bingung pun menjadi gugup seketika. Dia tidak tahu harus kemana lagi saat orang orang mencari kehidupannya masing masing.


"Ayo, naik-naik! Cepat naik ini Bus terakhir!" mendengar teriakan kondektur jika itu Bus terakhir membuat Alexa langsung saja menaikinya tanpa tahu kemana bus akan membawanya.


Bus melaju dengan kencang. Bus memang terlihat sesak, mungkin benar jika itu Bus terakhir menuju kota T padahal Alexa akan pergi ke kota K.


"Karcis, Mbak!" ucap kondektur menagih uang karcis. Alexa pun mengolak-alik isi tasnya,tapi tidak ditemukan ponsel dan dompetnya. Wajah bingungnya menarik perhatian wanita di sebelahnya.


"Mbaknya turun mana?" tanya Laras tapi Alexa terdiam.

__ADS_1


"Pasar sayur, dua, Bang!" Laras membayarkan karcis dua orang. Pasar sayur yang dimaksud Laras tidak asing lagi bagi kondektur bus. Pasar sayur dan terminal terakhir hanya berjarak lima belas meteran. Laras pikir, jika gadis, di sebelahnya bertujuan di terminal tidak akan ada jauh untuk berjalan.


"Terima kasih, Mbak." ucap Alexa dengan wajah bingung. Mungkin dia kan menjadi gelandangan di kota yang asing baginya. Itu yang terlintas dalam pikiran Alexa. Laras hanya tersenyum menanggapi Alexa.


Tengah malam Laras masih menunggu truk sayur yang akan kembali ke kampungnya. Dia kenal beberapa petani yang biasa menyewa truk milik Bu Seno untuk menjual hasil sayur ke pasar.


"Itu truk yang aku tunggu! Kamu mau ke mana lagi?" tanya Laras yang masih memperhatikan wajah Alexa yang tampak bingung.


"Mbak, aku boleh ikut?" tanya Alexa saat Laras akan melangkah pergi. Alexa yakin Laras orang baik. Laras yang masih bingung pun mengangguk mengiyakan.


Mereka menaiki truk di box belakang. Perjalanan yang cukup jauh membuat mereka saling mengenal. Dan pada Akhirnya Laras meminta Alexa untuk tinggal di tempatnya saja.


Flash on


"Ayo kita tidur! Besok setelah memasak di tempat Bu Seno, Mbak harus mengantar makanan untuk orang yang bekerja di sawah." ucap Laras membuat Alexa mengikutinya. Bagi Laras kehadiran Alexa menghilangkan rasa kesepiannya.


###


Keadaan Gayatri membuat Shakti harus mengundur jumpa pers yang kemarin sudah di jadwalkan. Keadaan kembali ricuh meski itu hanya dikalangan wartawan. Mereka menganggap Shakti menghindar dari kejaran wartawan yang semakin haus akan berita.


Di lobi gedung kantornya sudah ada belasan wartawan yang terus saja mendesak untuk bertemu, bahkan alibi Shakti yang menghindar dari mereka membuat Arka dan Bimo kewalahan menjawab pertanyaan wartawan yang cukup kritis.


"Hanya Bapak Shakti yang berhak menjawab pertanyaan kalian." ucap Bimo yang tidak ingin sedikit pun salah bicara dan akan menjadi bumerang bagi bosnya.


"Kenapa Pak Shakti selalu mengundurkan jadwal jumpa pers. Apa semua skandal tentang perbuatan yang tidak pantas dengan Dokter muda itu benar adanya?" Seorang wartawan terus menyerang dengan pertanyaan yang langsung ke inti.


"Iya... " Suara bariton itu membuat semua menoleh. Arka dan Bimo semakin bingung dengan jawaban yang diberikan Shakti.


"Jadi foto itu yang beredar itu benar?"


"Bagaimana bisa seorang dokter muda yang terlihat religius bisa melakukan itu di tempat umum?" Cecaran pertanyaan membuat Shakti tersenyum. Lelaki yang terlihat sangat gagah dengan tampilan formal itu menyandarkan tubuhnya di meja resepsionis.


"Kenapa tidak? Dia istriku! Apa dosa jika seorang suami istri berciuman itu pun kami sudah menyingkir dari keramaian. Coba teliti lagi backaground fotonya. Bukankah itu di toilet kan?" ujar Shakti dengan begitu santai. Lelaki itu terlihat membenarkan kancing jasnya. Sedangkan Arka dan Bimo saling beradu pandang.


"Apa kalian nikah siri seperti yang selalu dikatakan kebanyakan artis untuk menutupi kesalahan." desak salah satu wartawan yang terlihat begitu penasaran.


"Kami sudah menikah secara negara." Shakti langsung mengeluarkan buku nikah berwarna hijau. Dia tidak punya pilihan lagi untuk menyelamatkan nama baik Alexa. Pernyataan tegas Shakti mengakhiri jumpa pers yang tidak terjadwal itu. Lelaki memaksa meninggalkan lobi meski beberapa wartawan berusaha menahannya dengan cecaran pertanyaan.

__ADS_1


"Pak, Mas Rama sudah menunggu di ruangan sejak tadi." ucap Bimo saat mereka berada di lift. Urusan dengan Rama berarti berurusan dengan penyebar foto yang tidak seharusnya itu.


Bersambung..


__ADS_2