
"Arandita tunggu!" teriak revan mengejar istrinya, "Aran" revan terus memanggil istrinya namun arandita tak memperdulikan teriakan suaminya, karena ia masih sangat kesal saat revan mengambil makanannya.
"Dia itu pria yang sangat menyebalkan selalu seenaknya saja, dia pikir dia itu siapa" kesal arandita yang langsung mengunci pintu kamar nya dan bersandar di balik pintu.
"sayang aku mohon bukakan pintu nya'' revan mengetuk pintu kamarnya berharap istri nya akan membukakan pintu untuk nya.
"apa sayang apa aku tidak salah dengar" gumam lirih arandita di balik pintu, lalu ia menempelkan telinganya untuk mendengarkan perkataan revan agar terdengar lebih jelas lagi.
Lama arandita menempelkan telinganya di daun pintu namun sudah tidak terdengar lagi suara suaminya disana, "seperti nya aku memang sedang berhalusinasi."
arandita berharap mendengar ungkapan perasaan revan di sana namun semua itu hanya angan-angan saja,
Arandita pun melangkahkan kakinya menuju ke tempat tidur, "Jangan terlalu banyak mimpi arandita semua itu tidaklah mungkin untuk mu, kau hanyalah gadis desa biasa bukan spek idaman nya" arandita terseyum miris Lalu menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.
__ADS_1
sedangkan di depan pintu Revan duduk di lantai menunggu arandita membuka pintu untuk nya, "Arandita andaikan kau tahu mungkin hati ini sudah menjadi milik mu seutuhnya bahkan aku tidak bisa jauh dari mu, aku berharap aku masih bisa memperbaiki semuanya dan semoga aku belum terlambat untuk memulai semuanya dari awal lagi, aku juga akan melakukan seperti permintaan mu yaitu memberikan keadilan untuk zia" gumam revan dalam hatinya sambil menggenggam erat tangannya.
*
malam berlalu kini pagi pun menyapa revan terbangun dari tidurnya karena rasa mual yang melanda, begitu lah aktivitasnya setiap pagi selama tiga bulan ini.
arandita keluar dari kamarnya melewati kamar tamu ia mendengar suara suaminya yang sedang muntah-muntah, arandita pun bergegas menghampiri suaminya.
"Mas kamu baik-baik saja" arandita merasa kasihan melihat suaminya yang terlihat begitu pucat, lalu ia pun membantu memijit tengkuk suaminya.
Revan hanya mengangguk pasrah karena tubuh nya masih terasa sangat lemah, "sebenarnya ada apa dengan diriku kenapa setiap hari selalu seperti ini, aku harus segera memeriksakan kesehatan ku dengan dokter Indra secepatnya." gumam revan
di dapur arandita sedang membuat teh jahe dengan begitu cekatan, "Aran kamu lagi bikin apa?" tanya mama elisa lalu menghampiri menantu kesayangan Nya.
__ADS_1
"Aran buatin teh jahe buat mas revan ma, kasihan tadi habis muntah-muntah.
"memang kenapa dengan anak itu?"
"seperti nya mas revan masuk angin jadi aran buatin teh jahe mama mau teh jahe juga kebetulan aran bikin banyak nih"
"Wah boleh juga'' mama elisa mengangguk kemudian mama Elisa pun duduk menunggu teh jahe buatan menantunya.
"Ini buat mama, ini buat mas revan" arandita meletakkan cangkir berisi teh jahe hangat di hadapan mama Elisa.
"Terimakasih sayang" mama elisa pun tersenyum dan mencium wangi aroma dari teh jahe itu.
"Iya, aran kasih teh jahe untuk mas revan dulu ya ma" pamit arandita.
__ADS_1
"Iya jangan lupa jewer telinganya jika dia tidak mau meminum teh jahe buatanmu itu." gurau mama elisa, arandita hanya tersenyum menganggukkan kepalanya.
bersambung..