Romansa Cinta Arandita

Romansa Cinta Arandita
Bab 140


__ADS_3

vino mengangkat tubuh Marissa, "gadis bar-bar ini sangat berat sekali" keluh vino namun ia tetap menggendong Marissa ala bridal style sampai ke mobilnya.


vino menidurkan Marissa di samping nya memasangkan seat belt pada Marissa lalu mengemudikan mobilnya menuju apartemen miliknya.


*


*


Di mansion Alexander, setelah kepergian sang ibu untuk selamanya beberapa hari yang lalu membuat arandita masih sering merenung sendirian di taman belakang mansion.


Arandita menatap kosong ke arah hamparan bunga mawar yang tumbuh di taman itu dengan raut wajah sedihnya.


"sayang" revan datang memeluk istrinya dari belakang lalu mengecup bibir istrinya yang sudah menjadi candu baginya.


"mas jangan menggangguku" arandita langsung mengerucutkan bibirnya.


revan kembali mencium bibir istrinya lagi dengan memberikan sedikit lum*tan membuat arandita sulit bernafas, arandita memukul dada bidang suaminya karena kehabisan nafas.


"Bernafaslah sayang"


"haahhh.." arandita mengambil oksigen sebanyak banyaknya. "dasar kau memang pria menyebalkan" kesal arandita.

__ADS_1


sedangkan revan terkekeh geli melihat ekspresi lucu istrinya itu, "itu hukuman kecil untuk kesalahan mu sayang"


Arandita mengerutkan keningnya tanda tak mengerti apa yang sudah suaminya katakan. 'memangnya aku salah apa" tanya arandita dengan wajah polosnya.


namun bukan menjawab pertanyaan yang di lontarkan istrinya ravan malah melanjutkan kegiatan nya yang tertunda beberapa saat lalu.


arandita mendorong tubuh suaminya agar melepaskan ciuman mereka, setelah tautan bibir mereka terlepas revan terkekeh geli melihat bibir istrinya yang sedikit bengkak dan basah karena ulahnya.


"kenapa kau suka sekali mengangguku" kesal arandita sambil mengerucutkan bibirnya.


"apa kau tidak malu melakukan hal itu di sini bagaimana jika ada yang melihatnya"


"aku tidak perduli karena kita sudah sah sebagai suami istri bukan"


"apa itu" Arandita sambil menatap wajah tampan suaminya.


"aku ingin" ucap revan sedikit malu-malu.


"ingin apa" tanya arandita tak mengerti.


"ingin ini" revan pun menumpukan jari telunjuk kiri dan kanannya.

__ADS_1


"itu hal yang sangat mudah" ucap arandita singkat. membuat revan terseyum senang.


"benarkah" ucap revan dengan mata berbinar.


"iya hanya menumpukan jari seperti ini kan?" arandita pun langsung mempraktekkan apa yang revan tunjukkan pada nya.


revan menepuk keningnya ia tak percaya bahwa istri nya sepolos itu, "sayang aku ingin Yang lain karena kau sudah membangunkan adikku yang berada di bawah sana." revan menunjuk dengan dagunya.


"adik? sejak kapan kau memiliki adik" lalu arandita pun melihat ke arah yang di tunjukkan oleh suaminya.


arandita membelalakkan matanya saat melihat sesuatu yang menonjol di balik celana suaminya, kini ia pun mengerti dengan apa yang di maksud oleh suaminya.


kini ia mengingat kembali satu malam panas yang menumbuhkan janin di dalam rahim nya saat ini.


glek


arandita menelan ludah nya sendiri, kini otaknya mulai tercemarnya dengan kata-kata yang terlontar dari mulut suaminya.


arandita mengelus perutnya yang membesar seiring berjalannya waktu,.


aku bersyukur dan bahagia karena kau sudah hadir di dalam keluarga kecil kami dan melengkapi kekurangan di antara kami.

__ADS_1


"aku tidak akan pernah memaksa mu untuk melayani aku sayang" revan mengelus perut buncit istrinya dengan penuh kasih sayang dan meninggalkan beberapa kecupan manis di sana.


__ADS_2