
"Apa kau baik-baik saja" tanya revan yang memindai seluruh tubuh istrinya.
"Aku baik-baik saja mas"
"syukurlah" revan langsung memeluk arandita dengan erat melupakan rasa sakit di punggungnya.
dengan sedikit ragu-ragu arandita pun membalas pelukan hangat Suaminya yang selalu ia rindukan arandita pun terseyum, namun senyuman itu hilang saat tangannya meraba sesuatu yang basah dan lengket dari punggung suaminya.
karena penasaran arandita pun melihat tangannya ia membelalakkan matanya saat melihat darah di tangannya, kemudian arandita melihat wajah suaminya yang begitu pucat itu tersenyum tak melepaskan pelukannya.
lalu senyuman itu pun hilang saat revan jatuh pingsan di pelukan istrinya, "mas, mas sadarlah mas" Arandita merasa sangat panik dan berteriak meminta tolong kepada para pengawal yang ada di sana dan membawa suaminya ke rumah sakit untuk segera mendapatkan perawatan intensif.
Dengan cepat mereka pun membawa revan ke rumah sakit menggunakan mobil ambulance dan langsung bawanya ke ruang UGD.
"Ini semua salahku kalau dia tidak berusaha untuk menyelamatkan ku dia pasti tidak akan seperti ini sekarang." arandita Merasa Sangat sedih dan terus menyalahkan dirinya sendiri.
__ADS_1
"Kau tidak perlu menyalakan dirimu terus menerus revan akan baik-baik saja" ucap vino menguatkan arandita.
Setelah menunggu satu jam akhirnya pintu ruangan itu pun terbuka, "bagaimana keadaan suami saya dok apa dia baik-baik saja bagai mana dengan lukanya" arandita langsung memberondong banyak pertanyaan kepada dokter indra selaku dokter andalan keluarga Alexander yang merawat revan saat ini.
"Kau tidak perlu khawatir nyonya suamimu baik-baik saja dia sudah melewati masa kritis nya, namun kami masih membutuhkan satu kantong darah untuk pasien karena dia terlalu banyak mengeluarkan darah yang membuat pasien sedikit lemah.
"Ambil saja darahku" ucap arandita tanpa berpikir panjang.
"tapi nona kami tidak"
"Ayo" vino langsung menggandeng tangan dokter Indra membawanya menjauh dari arandita.
"Apa-apaan kau ini" garam dokter indra yang merasa risih dengan apa yang vino lakukan padanya.
"Dengar aku masih normal dan tidak mungkin suka pada dokter seperti mu" vino langsung melepaskan tangan dokter Indra Dengan kasar.
__ADS_1
"kau itu kejam sekali pantas saja kau selalu menjomblo dari dulu hingga saat ini" dokter indra tertawa mengejek vino.
namun detik kemudian tawanya terhenti saat tubuhnya terhuyung ke depan karena tendangan dadakan dari vino. "teruskan sepuasnya kau menertawakan aku setelah itu jangan harap kau masih menyandang gelar dokter yang selalu kau banggakan itu" ancam vino.
di depan pintu ruangan revan arandita masih menunggu dengan perasaan cemasnya karena sudah satu jam vino tidak kunjung datang, "kenapa lama sekali bagaimana kondisi mas revan saat ini"
kecemasan arandita pun bertambah saat ponselnya berdering memperlihatkan nama mama mertua nya di layar ponselnya, "mama, apa yang harus aku katakan jika mama menanyakan tentang mas revan mama pasti akan shock mendengar nya."
arandita kini berada di dalam dilema harus menjawab panggilan mama Elisa atau membiarkan nya begitu saja.
*
*
"Bod*h kenapa untuk mencelakai satu orang saja kalian semua tidak becus" teriak seorang wanita dengan penuh emosi.
__ADS_1
bersambung..