
Arandita terus terbatuk, wajahnya sampai memerah.
"Apa kau baik-baik saja, ini minumlah!" ucap Vino menyodorkan air putih pada Arandita,
Dan arandita pun langsung meminumnya hingga tandas.
"terimakasih kak vino."
Arandita memegang tangan Vino, kemudian vino pun tersenyum dan mengenggam tangan Arandita. Semua itu tak luput dari pandangan seseorang siapa lagi kalau bukan Revan Alexander.
Saat melihat vino menggenggam tangan arandita ada rasa kesal dihatinya, namun ia hanya diam saja tak berbicara sepatah kata pun kini Revan membuat kopinya sendiri dan meminum nya di sofa. Dengan matanya terus menatap vino dengan sangat tajam, vino buka tidak tahu tentang itu namun ia hanya diam saja dan terus memanas-manasi Revan.
"Arandita wangi masakan mu sangat lezat, apa aku boleh mencicipi nya?"
"tentu saja boleh kak, aku senang jika ada orang yang memakan masakan ku itu artinya usaha ku tidak sia-sia" ucap arandita setengah menyindir.
Revan yang sedang meminum kopi buatan nya pun langsung tersedak mendengar ucapan sang istri dan langsung menoleh padanya, namun Arandita bersikap biasa saja pura-pura tak tak perduli.
Arandita mulai mengisi piring Vino dengan nasi berserta lauk pauknya. Vino pun langsung memakan makanannya dengan sangat lahap dan terus memuji masakan yang Arandita buat.
__ADS_1
"Aran masakan mu sangat lezat, kalau begitu mulai saat ini dan seterusnya aku akan terus datang untuk memakan masakan yang kau buat setiap hari."
"Cih.. Kau pikir ini restoran ibu mu!" bukan Arandita yang menjawab tapi Revan lah yang menjawabnya dengan sangat sinis.
"Vino aku menyuruhmu datang kemari bukan untuk makan! tapi untuk bekerja dan apa kau lupa siapa aku disini?"
"Aku suaminya tapi kenapa dia yang di layani disini.'' Kesal Revan dalam hatinya.
"Dengar ini hari Minggu, dan ya saat kita di luar kantor aku bukan asisten mu tapi aku adalah sepupumu!" sahut vino tanpa rasa takut sedikit pun.
"Kau,"
Suasana semakin memanas. Arandita melihat dua saudara sepupu itu terus beradu argumen dan saling menatap dengan tatapan tajamnya membuat ia merasa sangat jengah berada di antara mereka.
"Stop!'' Arandita menggebrak meja hingga membuat dua pria tampan itu terkejut dan menatap Arandita.
"Sudahlah aku mau pergi kerumah ibu saja kalian berdua teruskan saja apa yang kalian ingin lakukan." Ucap Arandita yang langsung pergi meninggalkan dua pria yang menatapnya dengan tatapan aneh.
Arandita menutup pintu dengan sangat keras membuat Vino dan Revan terkejut dan memegangi dadanya masing-masing.
__ADS_1
"Dasar gadis barbar!'' umpat Revan.
"Tapi dia adalah gadis idaman para pria termasuk aku!" sahut Vino yang mulai memanas manasi Revan kembali.
Revan melempar bantal sofa ke arah sepupunya dengan wajah kesal, namun Vino masih bisa menangkisnya dan menghindari serangan Revan dengan cepat.
Lalu dengan cepat Vino pun berlari keluar meninggalkan revan sendirian di dalam mansion nya.
"Dasar sepupu nggak ada akhlak!" Revan mendengus kesal menatap punggung Vino yang semakin menjauh darinya.
Kini pandangan revan tertuju pada meja makan yang masih penuh dengan masakan yang Arandita buat pagi ini, dengan santai Revan pun berjalan mendekati meja makan tersebut dan duduk untuk mengisi piringnya dengan nasi beserta lauk pauk yang Arandita buat.
Revan pun memakannya dengan lahap hingga tak terasa ia sudah menghabiskan dua piring makan.
"Bagaimana apa enak?"
"Sangat enak!" jawab Revan dengan berterus terang.
Revan pun terdiam dengan mulut nya yang penuh dengan makanan saat ia melihat siapa yang bertanya padanya.
__ADS_1
Kini ia pun mulai melihat orang yang tengah berdiri dihadapannya sedang tersenyum ke arahnya, membuat Revan langsung terbatuk-batuk karena terkejut.
Bersambung...