
Syarat yang di ajukan Arandita terbilang cukup mudah untuk vino, namun siapa yang mengerti syarat itu akan jadi apa nantinya.
Dengan langkah gontai Vino masuk keruangan bosnya, Tuan Revan yang melihat asisten pribadi nya terlihat lemas langsung mengerutkan keningnya.
"Ada apa denganmu Vino"
Vino menghela nafasnya, lalu vino menceritakan tentang dirinya saat di cafe xx "
Flashback
"Oke aku mengerti, baiklah aku akan menandatangani kontrak perjanjian ini tapi dengan satu syarat''
"Syarat apa itu?" Tanya Vino dengan santai.
"Mudah saja, kau hanya perlu membayar makananku ini"
"Itu hal kecil, kau tidak perlu khawatir soal itu" Ucap Vino dengan bangganya.
"Baiklah, Deal" Arandita berdiri dan mengulurkan tangannya kepada Vino.
Dengan santai vino pun berdiri dan menjabat tangan Arandita dengan senyum mengembang, lalu Arandita pun memanggil pelayan dan membisikkan sesuatu pada pelayanan itu.
__ADS_1
Tidak sedikit pun Vino curiga pada Arandita, setelah menunggu beberapa saat akhirnya pelayan itu kembali datang dan membawa bill ditangannya.
"Terimakasih kak" Arandita pun tersenyum pada pelayan itu, lalu menyodorkan bil yang ada di tangannya kepada Vino. Kini raut wajah Vino pun berubah drastis saat melihat total tagihan yang cukup pantastis yang harus ia bayar saat ini.
"Hey kau mau menipu ku ya, tidak mungkin kan kau makan dengan begitu banyaknya,"
Arandita hanya tersenyum melihat keterkejutan Vino saat ini, "Dengar kak Vino, kau itu terlambat satu jam jadi ini adalah hukuman yang ringan untuk mu. Kau harus membayarkan semua orang yang makan di cafe ini, bukankah kau seorang asisten pribadi jadi gajihmu pasti cukup untuk itu semua kan? anggap saja ini sodakoh biar kak vino di ampuni segala dosanya dan dilancarkan rezekinya" Ucap Arandita yang terkekeh geli melihat raut wajah Vino yang begitu menyedihkan.
''Aamiin" Jawab Vino lemas.
"Jadi bagaimana, mau terima syarat dariku atau tidak?"
"Baiklah aku terima syarat darimu."
Setelah membayar bill, Vino kembali ke tempat dimana ada Arandita di sana.
"Sudah ku bayar, jadi cepat tanda tangani surat perjanjian ini."
Dengan santai Arandita mengambil surat yang ada di depannya, dan menandatangani surat perjanjian tersebut.
''Haah kalau tidak demi kartu mahasiswa ku, aku tidak akan mau menandatangani surat perjanjian konyol ini, tapi lumayan juga konvensasi yang akan aku terima, bisa untuk buka usaha nanti.'' Gumam arandita dalam hatinya.
__ADS_1
"Sudah selesai, jadi mana kartu mahasiswa ku"
Vino tersenyum miring " Tidak semudah itu nona kau harus buktikan dulu jika dirimu serius, maka aku akan mengembalikan kartu nya padamu. Dan ingat jika kau mengingkari janji mu maka kau akan kena denda sebesar lima ratus juta"
"Apa maksudmu" Arandita merasa kesal pada Vino, yang seperti mempermainkan nya.
Flashback end
Mendengar cerita asisten pribadi nya Revan tertawa terbahak-bahak, Vino yang melihat big bosnya tertawa merasa merinding karena Vino memang baru pertama kali melihat bosnya tertawa seperti itu.
Revan Alexander terkenal dengan pria dingin dan tak tersentuh bicara pun hanya seperlunya saja, terkecuali dengan satu wanita saja Revan menjadi lebih halus yaitu dengan mamanya sendiri, jadi wajar saja jika Vino merasa merinding melihat bosnya tertawa seperti itu.
Saat Revan tersadar ia langsung memasang ekspresi wajah datarnya kembali dan menetralkan suaranya.
"Hmm.. atur waktu untuk aku bertemu dengan, siapa namanya"
"Arandita tuan"
"Ya itu"
"Dia Arandita''
__ADS_1
"Aku sudah mendengar nya kenapa kau mengulang nya lagi"