Romansa Cinta Arandita

Romansa Cinta Arandita
Bab 39


__ADS_3

Di panti asuhan kasih bunda. Arandita keluar dari ruangan dan mengangkat panggilan telepon dari nomor yang tidak di kenal.


"Hallo siapa ini? Hallo!" Arandita bertanya, namun tak ada Jawaban apapun dari sang penelepon dan langsung mematikan sambungan teleponnya secara sepihak.


"Aneh sekali," Arandita hanya mengangkat kedua bahunya dan kembali masuk ke dalam panti untuk berpamitan karena hari sudah mulai malam.


"Ma, aran pulang ke rumah ibu dulu ya ada yang harus aran ambil di sana!" Arandita meminta ijin mama mertuanya dengan nada lembut.


"Baiklah, biar suamimu yang mengantarkan kalian pulang ke rumah ibu mu!" mama Elisa merasa khawatir melihat menantu nya dengan wajah lelahnya.


"Tidak perlu ma biar Aran dan Marissa saja, iya kan Sam" Arandita menolak secara halus dan memberikan kode pada sahabatnya.


"Ah iya tante," melihat kode seperti biasa Marissa hanya menjawab sekenanya saja karena ia tidak mendengarkan apa yang sedang mereka bicarakan tadi dan terlalu pokus melihat sekelilingnya.


"Kamu tenang saja Elis, dia putriku aku pasti bisa menjaga nya dengan baik." Sahut ibu Winda menimpali pembicaraan diantara mereka berdua.


"Baiklah hati-hati di jalan, dan Aran jika sudah selesai langsung pulang lah kerumah suami mu," pinta mama Elisa yang langsung di angguki oleh Arandita.


" Siap ma!" seru Arandita yang langsung memeluk mama mertua nya dengan penuh kasih sayang. Sekilas Arandita melihat ke arah Revan yang hanya diam saja dengan wajah datarnya.


Arandita mendengus kesal dan tersenyum palsu meraih paksa tangan suaminya dan menciumnya tanda bakti, walaupun itu hanya di depan orang tua mereka saja.


''Mas saya pergi ke rumah ibu dulu.'' Pamit Arandita. Namun Revan hanya diam saja dan tak mengucapkan sepatah kata pun yang keluar dari bibirnya.


Arandita langsung pergi dan menarik tangan Marissa, di ikuti oleh ibu di belakangnya dan menaiki mobil Marissa.

__ADS_1


Kini mobil Marissa sudah pergi meninggalkan halaman panti dan membelah jalanan yang terlihat ramai. Sepanjang perjalanan Arandita hanya diam tak mengatakan sepatah katapun di dalam mobil itu.


"risea aku mau mandi dulu ya!" Arandita sudah merasa tidak nyaman karena badannya terasa sangat lengket karena aktifitas hari ini yang begitu padat.


"Iya jangan lama-lama, gantian mandinya!" Marissa langsung merebahkan tubuhnya di kasur sederhana milik sahabatnya.


"Siap dehh.. Tunggu lima belas menit, okey!"


"Oke, GPL alias gak pake lama!" Marissa mengacungkan jempol nya namun perlahan matanya pun terpejam karena sangat mengantuk.


*


*


Setelah lima belas menit berlalu Arandita keluar dari kamar mandi dengan wajah segarnya, sekilas ia melihat Marissa yang tertidur nyaman di kasurnya.


"Mana banjir! dimana, dimana, dimana?" Marissa berteriak, namun detik berikutnya ia malah menyanyikan sebuah lagu dangdut yang pernah viral di jamannya.


''Kesana kemari membawa alamat. He, ey! tapi yang ku temui bukan dirimu. Ho.. e.."


Arandita langsung menggelengkan kepalanya, saat melihat tingkah barbar sahabatnya yang kini sedang asyik bernyanyi dan menari bahagia di atas ranjangnya. "Wahh... Bisa kacau nih, kalau dia udah mode on gini susah nyari obatnya!"


"Arandita Mau ngerasain jurus pamungkas gue ya!" Marissa berdecak kesal pada sahabatnya.


"Ampun Baby, ayo cepet mandi temenin aku ketemuan di cafe mawar."

__ADS_1


"Mau ketemuan sama siapa?" Marissa mulai kepo dan memasang telinganya lebar-lebar.


"Udah mandi dulu sana atau aku berangkat sendirian nih!" Ancam Arandita yang langsung di turuti oleh Marissa.


"Jangan gitu dong, iya tunggu lima menit aku mandi dulu!" Marissa langsung terlihat heboh dan berlari memasuki kamar mandi dengan gerak cepat.


"Mandi apaan lima menit doang?" tanya Arandita yang sedikit berteriak karena melihat sahabatnya pergi begitu saja.


Lima menit kemudian.


Setelah lima menit Marissa pun keluar dari kamar mandi dan berjalan menghampiri arandita.


"Ayo kita pergi sekarang!" Ajak nya pada Aran.


Namun aran tak langsung mengiyakan ajakan sahabatnya dan langsung mengendus-endus kan hidungnya di samping Marissa.


"Lu mandi apa kagak si nggak ada wangi-wangi nya?"


"Ck... Gue mandi lah! tapi nggak pakek sabun!" Marissa langsung cengengesan dan langsung menyemprotkan parfumnya keseluruh tubuhnya.


Sedangkan Arandita hanha memegang kepalanya dan sedikit menjambak rambut nya, melihat tingkah laku ajaib seorang Marissa Adriana.


"Untung cuman satu doang kalau sampe ada dua bisa runtuh dunia persilatan!" seru Arandita.


"Tenang kalau runtuh kita bangun lagi yang baru!" sahut Marissa tak kalah serunya.

__ADS_1


"Cakep, the power of money." Arandita pun langsung mengacungkan jempolnya.


Bersambung..


__ADS_2