
Vino kembali masuk ke dalam mansion karena kunci mobilnya tertinggal di meja makan, namun saat ia masuk ia melihat Revan sedang makan dengan lahapnya.
Seketika ide jahilnya pun datang untuk menggoda nya, "bagaimana apa enak?"
"Sangat enak!" jawab Revan dengan mulut penuh dengan makanan.
Mendengar jawaban sepupunya membuat Vino tersenyum penuh kemenangan.
"Ada apa?'' tanya Revan yang kembali melanjutkan acara makanan nya, sudah kepalang basah kenapa tidak sekalian berendam saja pikirnya.
" Revan sebaiknya kau tidak perlu jual mahal pada istrimu. kau tau, tidak banyak gadis seperti Arandita di dunia ini selain cantik dia juga baik dan mandiri dan jangan lupakan jika sedang marah dia akan menjadi macan berina. Aauuummmm....." Vino mulai memperagakan dirinya seperti macan yang mengaum.
"Kau tahu apa soal asmara sedangkan kau saja masih jomblo saat ini," sahut Revan yang langsung membuat Vino mendengus kesal.
"Bicara mu itu lho kaya habis makan cabe saiton satu kilo!" Vino mengerucutkan bibirnya setelah mendengar ucapan revan yang menusuk relung hati nya, meskipun sebagian besar apa yang di katakan Revan adalah kebenaran.
__ADS_1
"Kenapa apa kau tersinggung? aku hanya berkata dengan sejujurnya!" jawab Revan dengan santainya sambil membersihkan meja bekas makanan yang ia makan karena entah kemana para pelayan mansion tiba-tiba menghilangkan begitu saja.
"Kau itu memang menyebalkan Revan, andai aku jadi wanita dan di dunia ini hanya ada kau saja sebagai pria, aku tidak akan pernah sudi menikah dengan pria seperti mu!" ucap Vino dengan nada ketusnya.
Revan menggelengkan kepalanya saat mendengar kata-kata yang di lontarkan oleh sepupunya itu, dan langsung melempar Vino dengan lap meja yang sedang ia pegang saat ini dan tepat mengenai wajah tampan sepupunnya.
"Dasar sepupu laknat!"
Vino pun mengejar Revan layaknya anak kecil, begitu lah sifat asli Revan yang sebenarnya ceria, humoris dan suka bercanda. Namun hanya Vino saja yang tahu sifat Revan yang seperti itu, karena setelah kekasih yang sangat di cintai Revan lebih memilih untuk mengejar cita-cita Nya, Revan seperti menutup dirinya rapat-rapat.
Revan dan vino terus saling kejar-kejaran hingga Revan menabrak seseorang yang berada di hadapannya. Mereka terjatuh dan tubuh Revan menindihnya tanpa sengaja bibir mereka berdua pun bersatu.
Setelah tersadar Arandita pun langsung mendorong tubuh revan agar menjauh dari nya. Mereka berdua menetralkan detak jantungnya masing-masing.
Sedangkan Vino langsung berlari menghampiri Revan dan Arandita, dan langsung membantu Arandita untuk berdiri.
__ADS_1
"Aran kau baik-baik saja?"
"Aku baik-baik saja kak." Jawab Arandita.
Arandita merasa sangat gugup dan pipinya pun terlihat memerah karena malu, karena baru pertama kalinya arandita berciuman ada rasa aneh di dalam hatinya.
"Ran kok lama sih!" teriak seseorang dari luar dengan cempreng nya, siapa lagi kalau bukan sahabatnya Marissa.
"Tunggu sebentar, dasar markonah nggak sabaran banget!" Arandita mengumpat sahabatnya dan berlari menuju kamarnya, meninggalkan dua pria yang terdiam di tempatnya.
"Ternyata dia lucu sekali kalau sudah malu-malu seperti itu." Ucap Vino yang tersenyum melihat Arandita yang menaiki tangga.
berebeda dengan Vino yang merasa terpukau melihat tingkah lucu Arandita, Revan hanya terdiam dan terus memegangi bibirnya hingga tak mendengarkan apapun yang Vino katakan saat ini.
Sedangkan mengerutkan keningnya saat Vino yang tidak mendengar jawaban atau komentar apapun dari Revan, membuat Vino langsunh melirik ke arah saudara sepupunya yang masih berdiri mematung sambil terus memegangi bibirnya.
__ADS_1
Vino pun berdehem dengan keras untuk menyadarkan revan dari lamunan nya. "Ciuman pertama memang indah. Apa kau mau lagi, merasakan bibir manis istri kontrak mu itu tuan Revan Alexander?" goda vino sambil menaik turunkan sebelah alisnya.
Bersambung....