
Suara cempreng marissa menyadarkan arandita dari lamunan panjangnya, arandita tidak merasa heran karena memang begitulah sahabatnya.
"Ada apa si sa, heboh banget?" arandita menatap wajah sahabatnya.
"Ayo ikut aku" Marissa langsung menarik tangan arandita meninggalkan tempat itu.
sedangkan dosen Angga yang masih berada di sana, hanya menatap punggung dua sahabat yang tak pernah terpisahkan itu menjauh dari pandangan nya, ia tidak tahu sejak kapan mereka ada di sana.
"Aku rindu kamu arandita, namun aku hanya bisa menatapmu dari kejauhan saja saat ini, bahkan kini aku malu saat bertemu dengan mu ." gumam dosen angga dalam hatinya.
vinia mengepal erat tangannya, melihat tatapan angga pada arandita yang penuh dengan kerinduan, vinia merasa geram ia menatap arandita yang jauh dari pandangan nya dengan penuh kebencian.
"Haruskah aku menghilangkan mu dari dunia ini Arandita!, agar kau tidak menjadi penghalang hubungan cinta ku dengan kak angga" geram vinia dalam hatinya.
*
Dengan sedikit berlari Marissa mengajak sahabatnya masuk keruang istirahat mereka.
__ADS_1
tidak hanya mereka berdua yang berada di sana, masih ada mahasiswi lain yang tidur bersama dengan dua sahabat itu, Namun mereka berdua lebih memilih sedikit menjauh dari yang lainnya.
para mahasiswi lain menatap dua sahabat itu dengan tatapan aneh mereka, "sa gue masih normal, kenapa mereka semua menatap kita begitu?" bisik arandita pada sahabatnya.
"Biarkan saja mereka" ucap marissa masa bodo dengan orang-orang di hadapannya.
begitulah Marissa yang selalu hidup tanpa, mendengarkan perkataan yang tidak penting menurut nya.
"Duduk sini, dan lihatlah ini!" Marissa menyodorkan ponselnya pada arandita.
arandita pun duduk dengan tenang, dan mulai memutar video konferensi pers yang dilakukan oleh revan dan juga Shella, dengan seksama dan di detik-detik terakhir vidio itu menapakan mama mertua nya yang memperkenalkan nya sebagai nama inisialnya saja.
"terimakasih Bestie" arandita tersenyum dan memeluk sahabatnya.
"sekarang kau sudah jelaskan, bahwa berita itu hoax dan lihatlah reaksi wajah si pelakor gil* itu" Marissa merasa sangat geram melihat wajah Shella.
"Aku rasa shella sedang ingin memperluas karier nya dengan cara membawa nama pengusaha muda sukses dan tampan itu" ucap seseorang mahasiswi yang juga sedang melihat acara konferensi pers yang diadakan siang tadi.
__ADS_1
"iya benar, lihatlah wajah model Shella yang berubah saat melihat kedatangan Nyonya Elisa Alexander" teman mahasiswi itu pun membenarkan perkataan teman yang berada di sampingnya.
"Bagaimana reaksi istri sahnya ya?" tanya mahasiswi itu lagi.
bisik-bisik para mahasiswi itu pun terdengar langsung di telinga arandita dan juga Marissa, namun mereka berdua hanya diam dan saling menatap satu sama lain.
"kau dengarkan aran, mereka juga berada di pihak mu, berjuanglah untuk dirimu sendiri, perjuangkan hak mu sebagai istri sahnya."
Marissa langsung memberikan wejangan untuk sahabatnya, Marissa hanya ingin yang terbaik untuk kebahagiaan sahabatnya.
"Baiklah aku akan berusaha, untuk mendapatkan hati tuan menyebalkan itu" arandita tersenyum, kini ia yakin untuk memperjuangkan cintanya.
"Semangat Bestie" Marissa menggenggam tangannya ke atas, dan memperlihatkan otot tangan nya yang tidak seberapa.
"mari kita binasakan para pelakor yang sedang mencari mangsa" ucap Marissa kembali dengan heboh nya.
arandita yang melihat tingkah konyol sahabatnya pun tertawa terbahak-bahak, memegangi perutnya yang terasa sakit karena terus tertawa.
__ADS_1
para mahasiswi lain, kini menatap dua sahabat itu, dan mereka pun ikut tersenyum melihat kekonyolan seorang Marissa.
bersambung..