
Setelah mengurus semua yang membuktikan bahwa, arandita dan Marissa bukanlah komplotan para penjahat kelas kakap, yang kabur dan menjadi buronan para polisi selama ini.
Akhirnya polisi Tampan yang bernama zayn Pradipta itu pun, membebaskan dua gadis cantik dengan segalanya tingkah konyol mereka, yang membuat dirinya terus ingin tersenyum.
setelah memimta maaf atas kesalahannya, polisi zayn pun menyuruh rekannya untuk, mengantar mereka sampai di parkiran mobil.
"Ran, jadi kita nggak jadi di penjara kan" bisik Marissa pada sahabatnya.
"ya nggak lah sa, lagian kita bukan penjahat yang harus masuk penjara" arandita menjelaskan.
"Padahal aku udah siap banget, di penjara di dalam hatinya Abang zayn" ucap Marissa dengan gaya centilnya.
setelah mendengar perkataan yang di lontarkan sahabatnya, arandita memutar bola matanya malas, lalu menonyor kening Marissa.
"kelamaan jomlo jadi gini nih, dengar Marissa yang cantik sepanjang masa, dan sepanjang sejarah, apa kata orang nanti kalau seorang Marissa yang cantik ini berada di sini, yang ada kita akan di cap sebagai kriminal" arandita menjelaskan panjang lebar kepada sahabatnya.
"iya juga sih" ucap Marissa singkat, sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
mereka berdua asyik berbisik-bisik, sambil terus berjalan menuju tempat parkir, dan melupakan polisi yang mengantar mereka.
__ADS_1
setelah sampai di parkiran mobil, Marissa merasa terkejut mendengar seseorang yang berbicara disampingnya, selain sahabatnya.
"Adek manis, itu mobilnya dan ini kuncinya" polisi berkulit sawo matang itu memberikan kunci mobil kepada Marissa.
"Astaghfirullah, sejak kapan bapak ngikutin kita?" Marissa mengusap dadanya karena terkejut.
"Sejak keluar dari ruangan komandan" ucap polisi itu santai.
karena Marissa tak kunjung mengambil kunci mobilnya, polisi itupun langsung meletakan nya di tangan Marissa, dan pergi meninggalkan dua sahabat itu.
"polisi disini ganteng-ganteng, tapi aneh" cibir Marissa.
"Udahlah ayo pulang aku dah ngantuk dan capek banget, ini juga udah pagi kita langsung ke rumah ibu sekarang." ajak arandita.
setelah menempuh perjalanan yang sedikit ramai, karena aktivitas pagi hari kini dua sahabat itu pun sudah sampai di kediaman ibu winda.
Arandita keluar dari mobil dengan sedikit menguap, mereka berdua pun langsung bergegas masuk ke dalam rumah ibu karena tidak di kunci.
"tumben banget nggak di kunci" gumam arandita.
__ADS_1
"Assalamualaikum bu!" teriak mereka bersamaan.
"wa'alaikum salam ibu di dapur" teriak ibu.
"wah kebetulan nih" dengan penuh semangat Marissa menghampiri ibu winda, di susul dengan arandita di belakangnya.
"Aran, Risa kalian baru sampai?" tanya ibu.
"iya bu, harusnya kita sudah sam.." ucapan Marissa terpotong karena arandita yang menutupi mulutnya.
Arandita memberikan kode agar tidak berbicara tentang kejadian semalam, karena aran takut akan membuat ibunya syok.
Untung saja ibu tidak melihat aksi dua sahabat di depannya, karena ibu sedang pokus pada masakan yang sedang ia masak.
"Harunya apa risa?" ibu berbicara sambil mengaduk masakan, yang ia masak.
arandita menggelengkan kepalanya, "harusnya pulang dari semalam tapi, jalannya macet bu" Jawab arandita cepat.
ibu hanya mengangguk saja, sedangkan Marissa sedang sibuk memakan bakwan jagung buatan ibu.
__ADS_1
"Jorok banget sih, belum mandi udah nyomot makanan" arandita berbicara kepada Marissa, yang sedang asyik dengan makanannya.
"Biarin aja, abis wangi masakan ibu bikin aku laper" jawab Marissa cuek.