
Revan melihat jelas bagaimana Arandita tidak terlalu nyaman dengan pakaian yang ia kenakan saat ini, dengan senyum jahatnya Revan menatap Arandita dari atas sampai bawah.
Lalu menyuruh vino keluar dari ruangan nya, setelah vino pergi tinggallah Arandita sendiri di sana dengan masih berdiri dengan high heels nya yang tinggi. Sebenarnya Arandita merasa sedikit keram di kakinya namun ia hanya diam saja tak mengatakan hal apapun pada Revan.
Dua jam telah berlalu arandita sudah tak tahan lagi menahan sakit di kakinya, ia mulai melirik ke arah Revan yang berada di kursi nya duduk dengan tenang dan mengerjakan pekerjaannya.
"Dia pikir aku ini patung pajangan apa? tega sekali sudah membuat ku berdiri di sini selama dua jam disini." Ucap Arandita dalam hatinya, ia meja sangat geram pada pria yang berada di hatinya kini.
"Ingin sekaligus aku menendang wajah tampannya itu'' geram Arandita yang terus mengumpat Revan. Sebenarnya bukan hanya merasakan sakit di kakinya namun kepalanya pun sedikit pusing karena terlalu lama berdiri.
Arandita pun mulai memberanikan diri untuk menatap lebih lama pria yang sedang pokus bekerja di depan laptop nya.
"bukankah dia pria yang berada di toko buku itu, jika iya aku tarik kembali kata-kata ku waktu itu."
"Jangan terus menatap ku seperti itu!" ucap revan tanpa menoleh pada Arandita.
Arandita terkejut dengan ucapan revan. "hah dia itu punya mata berapa sebenarnya. Apakah dia seorang cenayang?"
"Tuan jika saya tidak di butuhkan saar ini lebih baik saya pulang saja'' Ucap Arandita setelah lama berdebat dengan pikirannya sendiri.
__ADS_1
"No" Ucap Revan dengan cepat.
"Dengar tuan kaki ku sudah lelah jika harus terus berdiri seharian disini"
"Aku tidak menyuruhmu untuk berdiri di sana" Jawab Revan dengan entengnya.
Arandita meremas tangannya karena merasa sangat kesal dan dia pun langsung beranjak pergi duduk di sofa.
"Aku tidak menyuruhmu untuk duduk di sana" Ucap Revan lagi, membuat Arandita merasa sangat kesal di buatnya.
"Allahuakbar manusia itu ingin sekali aku mencakar wajah tampan mu itu" Umpat Arandita lirih namun masih bisadi dengar oleh Revan.
"Tidak tuan"
Kini mereka berdua pun kembali diam lalu mereka kembali diam, Arandita merasa perutnya kini sudah sangat lapar karena hari sudah sore dia melewatkan makan siangnya begitu saja.
"Hey kau, belikan aku aku coklat panas sekarang juga."
"Nama saya Arandita tuan"
__ADS_1
"Siapapun namamu cepat belikan aku coklat panas, ingat kau tidak boleh menaiki lift jika itu terjadi maka kontak di batalkan dan kau akan membayar lima ratus juta pada kami"
Arandita pun hanya mengiyakan keinginan pria itu, Arandita melewati tangga darurat untuk mencapai loby perusahaan.
"Haaahhhh dia sangat keterlaluan, pria macam apa dia itu." Arandita berteriak mengumpat Revan sambil menuruni tangga darurat.
Dengan berjalan memakai high heels nya Arandita sampai di lantai dasar setelah melewati delapan lantai melewati tangga darurat, ia berjalan sedikit terpincang-pincang karena rasa sakit di kakinya.
setelah selesai membeli coklat panas pesanan Revan kini Arandita pun kembali menaiki tangga darurat menuju lantai delapan. Setelah sampai di ruang kerja revan arandita langsung memberikan coklat panas yang Revan pesan.
"Ini coklat panas mu" Arandita menyimpan coklat panas yang di minta Revan di atas mejanya.
Namun Revan tidak mengatakan apapun, dan meminum coklat panas itu, "Ini sudah tidak panas ganti, yang baru"
"tapi tuan"
"Lima belas menit dari sekarang!"
Dengan perasaan kesal Arandita pun mau tak mau keluar dari ruangan Revan dan kembali melewari tangga darurat.
__ADS_1
"Dasar pria gila" Arandita berteriak sambil membuka high heels nya dan melempar nya kesembarang arah. Dan semua itu tak luput dari pandangan seseorang yang sejak tadi membuntutinya.