
Revan menatap tajam kearah asistennya, karena ia sangat kesal sekali, tidak seperti biasanya Vino mengajaknya berdebat hanya karena masalah nama saja.
Vino yang di tatap bosnya hanya diam dan tak berani menatap ke arah Revan, dia menyesal karena sudah berdebat dengan big bosnya itu.
"Pergilah nanti akan aku ganti uang mu yang sudah kau gunakan untuk gadis itu, tuliskan saja nominal nya"
"Baik tuan" Dalam hati vino bersorak gembira, walau sebelumnya ia ketakutan melihat tatapan tajam dari bos nya tadi.
Tiba-tiba ponsel Revan berdering, melihat siapa yang meneleponnya Revan pun langsung mengangkat nya tanpa berpikir panjang.
Setelah lama berbicara dan berdebat di telepon kini sambungan telepon nya terputus satu pihak saja, Revan mengacak rambutnya frustasi.
__ADS_1
Lalu mengambil foto yang ada di meja kerjanya. "ini semua karena mu, kenapa kau pergi meninggalkan aku begitu saja. Tak bisakah kau menunggu waktu sebentar saja untuk hubungan kita? aku tau cita-cita mu itu sangatlah penting bagi mu, tapi kenapa kau tidak penah memikirkan perasaan ku. Apa aku ini tidaklah penting bagimu? apa kau senang melihat keadaan ku sekarang?" Revan terus berbicara kepada foto seorang gadis cantik yang berada di tangan nya.
Di sisi lain Arandita merasa sangat kesal kepada Vino. Karena Vino arandita tidak bisa masuk ke perpustakaan tanpa kartu mahasiswa nya.
Kini ia berada di toko buku terlengkap di kotanya, toko buku itu tidah terlalu jauh dari rumah Arandita hanya menempuh perjalanan dua puluh menit saja.
Arandita berjalan menelusuri toko buku itu mencari buku yang ia perlukan, namun ia terlalu fokus melihat ke arah rak buku, hingga ia tak melihat ada orang di depannya dan terjadilah tabrakan arandita hampir terjatuh namun pria itu menangkap tubuh mungil Arandita.
Dengan refleks Arandita pun berpegang pada pria yang ada di hadapannya, sejenak mereka diam dengan posisi yang sama dan beradu pandang.
"Ahh Maaf aku tidak sengaja"
__ADS_1
Namun pria itu bukannya menjawab apa yang di katakan Arandita, dia langsung pergi meninggalkan nya begitu saja. Arandita masih terkagum-kagum dengan ketampanan yang di miliki oleh pria tadi hingga iya lupa akan kedatangan nya ke toko buku itu.
Namun beberapa saat kemudian Arandita pun tersadar dari lamunannya dan melanjutkan kembali mecari buku yang di butuhkan nya.
Setelah membayar Arandita pun pulang kerumahnya menggunakan ojek online karena hari sudah semakin sore. Arandita takut jika ibunya mengkhawatirkan nya di rumah.
Setelah sampai di rumah Arandita membuka pintunya namun tidak ada tanda-tanda keberadaan ibunya di sana.
"ibu kemana kok tumbennan sepi banget biasanya juga kalo aku pulang telat langsung kena jurus omelan sisanya ceramah dadakan.'' gumam arandita didalam hatinya.
Lalu arandita berjalan ke kamar ibunya "Bu.. Ibu.. Aran pulang" Arandita mendorong pintu kamar ibunya dan melihat ibu sudah tergeletak di lantai dengan wajah pucat dan keluar dahar dari hidungnya.
__ADS_1
"Ibu" Arandita terkejut dan histeris melihat keadaan ibunya, Arandita merasa sangat panik dan langsung meminta bantuan tetangga untuk membawa ibunya kerumah sakit terdekat agar ibunya segera mendapatkan perawatan medis.
Begitu lama Arandita menunggu dokter selesai memeriksa keadaan sang ibu. Namun sudah hampir satu jam dokter itu pun belum keluar dari ruangan ibunya, membuat Arandita semakin merasa cemas dan gelisah di buatnya.