
Kasih sayang dan cinta orang tua kepada anak-anaknya akan terus mengalir sepanjang masa, orang tua akan memahami apa dan bagaimana cara untuk mendidik anak anak mereka.
beegitu juga ibu Arandita, sebenarnya ia sangat mempercayai putrinya, namun di sisi lain ia juga tidak punya pilihan lain untuk menjodohkan putrinya. Karena setelah suami nya meninggal dunia, ibu Winda lah yang berperan sebagai ibu sekaligus ayah bagi Arandita.
Ibu Winda berperan menggantikan sosok suaminya untuk menjamin masa depan putri semata wayangnya, dan menikahkan Arandita dengan Revan putra sahabat masa kecilnya dulu. Menurut Bu Winda ini bukan hal yang buruk, namun ini demi kebaikan masa depan putrinya kelak.
Walaupun pernikahan tidak di dasari dengan cinta, jika mereka terus bersama maka cinta itu akan datang dengan sendiri nya pikir Bu Winda.
Arandita kini berdiri, menatap kosong saat melihat beberapa pekerja wedding organizer yang di kirim mama Elisa tengah mendekor rumah sederhana mereka.
"areandita sekarang cepatlah pergi untuk bersiap siap nak sebentar lagi calon suamimu akan tiba!" seru sang ibu yang langsung menghampiri putrinya yang tengah melamun.
Arandita pun hanya menurut saja dan meninggalkan ibunya yang masih berdiri di sana. Arandita berjalan dengan langkah gontai menuju kamar nya, ia menatap dirinya di cermin.
"Ayah apakah semua ini sudah benar? ayah sebenarnya Aran tidak siap dengan pernikahan ini, tapi." Arandita tak meneruskan kata katanya lagi hatinya hatinya merasa sangat bingung dan bimbang dengan langkah yang ia pilih saat ini.
*
*
__ADS_1
Sedangkan di tempat lain. Tepatnya di mansion Alexander, semua orang kini sudah bersiap untuk pergi ke rumah Arandita. Mama Elisa terlihat sangat antusias untuk pernikahan sang putra.
Namun berbeda dengan revan yang terlihat sangat dingin dan arogan, raut wajahnya tak memperlihatkan kebahagiaan sedikit pun. Sedangkan asisten Vino bingung dengan apa yang terjadi, namun ia tidak berani menanyakan apapun pada Revan. Karena melihat ekspresi wajah revan yang tidak bersahabat saat ini.
''Aku harap semuanya baik baik saja.'' Gumam Vino lirih.
Setelah dua puluh menit berkendara, kini beberapa mobil mewah sudah terparkir di halaman rumah Arandita. Ibu Winda keluar menyambut kedatangan mereka dengan baik.
Setelah berbasa basi menyambut para tamu kini ibu pun mengajak Arandita keluar dari kamarnya. Dan acara lamaran pun di mulai. Lalu dilanjutkan dengan acara bertukar cincin terlebih dahulu barulah mama Elisa menentukan tanggal pernikahan mereka.
"Selamat untuk mu Aran, mama sangat senang sekali hari ini." Ucap mama Elisa yang langsung memeluk calon menantunya.
Serangkaian acara sudah di mulai namun tidak ada senyuman yang menghiasi wajah Arandita maupun Revan.
"Baiklah sekarang adalah acara terakhirnya, saya sudah memutuskan untuk menikah kan putra ku Revan dan Arandita Minggu depan"
"Apa?" Revan dan arandita pun terkejut mendengar perkataan dari mama eleisa, Revan mengepalkan tangannya dan menatap tajam kearah Arandita yang duduk di sampingnya.
"Ini semua karena ulah konyo mu!" bisiknya di samping telinga Arandita. Revan menyalahkan semua kesalahan pada Arandita, membuat Arandita mendengus kesal menatap ke arah calon suaminya.
__ADS_1
Dan semua itu tak luput dari pandangan mata mama Elisa ia mengira hal yang lain yang di bisikan putranya, karena yang dia tahu Revan dan Arandita saling mencintai mengingat hubungan antara mereka sudah satu tahun lamanya.
"Kenapa kau menyalahkan aku atas semua ini tuan arogan." Kini Arandita tidak takut apapun lagi pada Revan, ia berbicara dengan penuh penekanan.
"Kau gadis menyebalkan, aku akan membuat perhitungan padamu nanti.''
"Aku tidak takut pada mu!" seru Arandita menantang Revan.
"Dengar jangan kau berpikir dirimu itu pintar"
"Aku memang pintar." Jawab arandita santai, membuat Revan sangat kesal karenanya.
"Aku tahu kau perlu uang untuk menjebak ku, lebih baik kau batalkan semua ini dan aku akan memberikan uang yang kau minta!" ucap revan menekan setiap kata katanya.
"Aku memang suka uang! tapi aku tidak mau membatalkan semua ini, kau saja yang katakan pada tante Elisa karena semua itu ulah licikmu." Ucap Arandita dengan lantang, membuat Revan semakin kesal padanya
"Dengar kau jangan berbangga hati bisa menjadi istriku. Karena setelah kekasihku kembali aku akan menikah dengannya dan secepatnya menceraikan dirimu!''
"Silahkan saja, aku sangat menunggu hari itu.'' Sahut Arandita yang langsung berdiri meninggalkan Revan begitu saja. Sedangkan Revan sangat kesal dan murka saat ini, karena ia sangat merasa bersalah sudah menghianati sang kekasih yang sedang berada di luar negri untuk mengejar mimpinya.
__ADS_1
Bersambung.