
Pikiran vino jauh terbang melayang saat mendengar percakapan dua sejoli yang membuat otak berpikir hal lain, tak hanya itu vino pun melihat pintu kamar sepupunnya terbuka sedikit ingin sekali vino mendekati pintu itu dan mengintipnya namun ia urungkan.
"jangan menggali kuburan mu sendiri vino" ucap vino menyadarkan dirinya sendiri.
"bagaimana mereka melakukan hal itu di siang begini bahkan mereka lupa mengunci pintu kamar nya, sekarang telinga dan otakku sudah tercemar gara-gara mereka berdua." vino pun pergi meninggalkan tempat itu dengan perasaan dongkol di hatinya.
vino pun masuk ke dalam kamar yang selalu ia tempati saat pulang ke mansion Alexander dan mengunci kamar itu, lalu menghempaskan tubuhnya di atas ranjang yang empuk.
vino masih mengingat-ingat percakapan dua sejoli yang membuat otaknya traveling kemana-mana.
"kenapa percakapan mereka selalu terdengar di telinga ku" kesal vino.
"sepertinya aku harus segera mencari pacar ehh tidak-tidak bukan pacar tapi istri saja, tapi dimana aku harus mencarinya" tanya vino pada dirinya sendiri.
vino memang tampan pandai mengatur strategi dan mengurus hal-hal yang berbau bisnis namun ia tidak pandai memikat hati seorang perempuan sejauh ini hanya arandita dan sahabatnya saja wanita yang dekat dengan vino, karena selain mereka berdua tidak ada yang berani mendekati vino apalagi sampai berdebat dengannya.
__ADS_1
karena pembawaan vino yang terlihat arogan dan cuek membuat wanita yang memujanya tak berani mendekati nya apalagi sampai menatapnya.
sejauh ini hanya Marissa saja wanita yang berani berdebat dengan seorang alvino Austin.
vino mengusap bibirnya ia mengingat kejadian beberapa waktu yang lalu saat bibirnya bersentuhan dengan bibir gadis yang selalu membuatnya marah dan kesal di waktu yang bersamaan.
"kenapa aku harus mengingat gadis bar-bar itu" kesal vino.
sedangkan di tempat lain tepatnya di apartemen milik Marissa ia menatap seluruh ruangan itu dengan perasaan sedih, banyak kenangan yang tersimpan di apartemen itu bersama dengan sahabatnya.
Marissa pun mengusap air matanya dan kembali memasukkan barang-barang nya ke dalam koper besar.
sebelum pergi ia akan berpamitan terlebih dahulu pada zayn si polisi tampan yang kini sudah mulai dekat dengannya, zayn dan Marissa semakin akrab setelah acara pesta itu malam itu.
zayn selalu meluangkan waktu untuk Marissa di tengah kesibukannya sebagai polisi.
__ADS_1
"maaf aku telat ya" ucap Marissa saat melihat zayn sudah terlebih dulu ada di cafe tersebut.
"nggak kok baru aja nyampe" jawab Zayn dengan senyuman manis nya.
"Ahhh polisi satu ini manis nya bikin aku diabetes"
Marissa pun duduk di hadapan zayn dengan senyuman mengembang nya, "maaf ya bang tadi sedikit macet"
"tidak masalah, ada apa tumben banget kamu ngajak abang ketemuan siang-siang begini" tanya zayn.
"kenapa Abang suka ketemuan nya malam-malam ya nggak suka siang-siang begini" tanya Marissa sedikit menggoda polisi tampan itu.
Mendengar pertanyaan Marissa kini membuat zayn kikuk dan salah tingkah di buatnya, ''buka itu maksud saya rissa"
"maaf ya bang kayaknya Rissa ganggu Abang lagi kerja deh" ucap Marissa dengan perasaan bersalahnya karena ia melihat Zayn masih menggunakan seragam dinasnya.
__ADS_1
bersambung...