
setelah panggilan selesai pengawal itu pun mulai mengawasi arandita kembali dan menjamin keselamatan yang sudah di perintahkan oleh tuan mudanya.
"ran kamu ngerasa nggak sih dari tadi kayak ada orang memantau kita''
''Masa sih sa" arandita langsung melihat ke sekeliling nya memastikan apa yang dikatakan oleh sahabatnya.
"nggak ada yang aneh kok sa mereka sedang belanja jadi hal yang wajarlah namanya juga pasar swalayan"
"iya juga sih, yasudah ayo kita pulang" Marissa pun menggandeng tangan sahabatnya meninggalkan tempat itu dan berjalan menuju tempat parkir.
setelah sampai di mobil arandita membuka plastik belanjaannya mengeluarkan kotak susu untuk ibu hamil dan membuka boknya seperti biasa agar orang mansion tidak mengetahui tentang kehamilannya.
"Mau sampai kapan kamu menyembunyikan kehamilan mu itu ran" tanya Marissa.
arandita langsung diam tak meneruskan aktivitas nya, "Entahlah sa aku juga bingung dengan apa yang aku lakukan ini sudah benar atau salah" arandita sedikit melow.
__ADS_1
"tapi setelah semuanya selesai aku pasti akan memberi tahu kepada mereka hanya saja aku takut kalau suamiku itu tidak mengakui anak yang sedang aku kandung ini" arandita merasa sangat takut jika revan tidak mengakui kehadiran buah hati mereka karena kesalahan satu malam itu.
"cobalah terlebih dahulu aku yakin semuanya akan baik-baik saja " Marissa mulai memberikan ultimatum untuk sahabatnya.
"Baiklah aku akan mencoba nya nanti, terimakasih sa kamu selalu ada buat aku" arandita memeluk erat sahabatnya.
"jangan ada kata terimakasih aku ini sahabatmu kan jadi jangan pernah sungkan ataupun malu, ya biasanya juga malu-maluin kan haha.." Marissa pun menyisipkan candaannya agar arandita tidak terlalu bersedih.
"Kamu tuh yang suka malu-maluin" arandita sedikit kesal ia mencubit gemas pipi sahabatnya.
"penganiayaan lah konon, sudahlah ayo kita pulang sekarang kakiku dan pinggangku sudah sangat lelah"
"siap laksanakan nyonya"
mobil yang di kemudikan Marissa pun keluar dari tempat itu menuju ke mansion Alexander di apit oleh para pengawal yang di tugas kan oleh revan untuk selalu menjaga istrinya.
__ADS_1
di dalam perjalanan pulang arandita masih memikirkan apa yang dikatakan oleh sahabatnya untuk mencoba jujur kepada keluarga Alexander, namun ia masih bingung harus mulai dari mana.
"Haruskah aku jujur tentang kehamilan ini tapi bagai mana jika nanti dia tidak mau menerima nya lalu bagaimana dengan nasib anakku nanti, tapi kau belum mencobanya arandita jangan berasumsi terlebih dahulu" gumam arandita dalam hatinya.
Arandita menghela nafas panjang dan mulai memijit keningnya yang terasa sedikit pusing memikirkan begitu rumit nya kisah perjalanan pernikahan yang ia jalani,
"Baiklah aku harus mencoba nya terlebih dahulu jika dia tidak mau menerimanya ya sudah itu adalah hak dia sendiri semuanya tidak bisa selalu dipaksa bukan" arandita pun mulai menimbang-nimbang keputusan nya.
Marissa hanya melihat sekilas kepada arandita yang sedang melamun namun ia hanya diam saja tak berkomentar apapun, ia hanya berharap agar arandita mendapatkan jalan keluarnya sendiri karena Marissa tidak bisa terlalu ikut campur tentang permasalahan pribadi yang di jalani sahabatnya.
kini mereka berdua pun terhanyut dalam pikiran nya masing-masing dan tiba-tiba saja mereka berdua di kejutkan dengan suara yang begitu memekakkan telinga, Marissa pun langsung menginjak rem mendadak.
cekiiiiitttt.......
bersambung...
__ADS_1