Romansa Cinta Arandita

Romansa Cinta Arandita
Bab 46


__ADS_3

Dari kejauhan vino melihat para wanita yang ia kenal sedang berjongkok di belakang mobilnya, "sedang apa para gadis-gadis itu" gumamnya.


dengan penuh penasaran vino pun mendekati mereka dan ikut mengintip, setelah melihat apa yang mere lihat vino menepuk keningnya.


"Mereka romantis sekali ran" Marissa sangat antusias melihat syuting film di depannya.


"iya tapi sayang, mereka terlihat romantis hanya saat di film, yang mereka mainkan saja" arandita sedikit melow jika sudah membahas soal percintaan.


"Dunia ini panggung sandiwara Bestie, jangan lemah dengan satu cinta." Marissa dengan penuh drama mencoba untuk menghibur sahabatnya.


Mendengar apa yang di ucapkan ma Marissa Arandita menonyor kening sahabatnya, " dasar ratu drama, kayak ngerti soal cinta saja, satu pacar pun kau tak punya!."


Marissa hanya, terkikik geli mendengar perkataan sahabatnya, "dengar bestie, tidak perlu banyak pacar cukup satu saja, untuk menemani kita sampai ke jannah."


Marissa langsung mengeluarkan ceramah dadakan kepada sahabatnya.


"Cakep.. luar biasa calon istri salehah" arandita bertepuk tangan lalu mengangkat kedua jempolnya.


"Aamiin, Do'akan saja bestie, biar sahabat ku yang cantik ini menemukan jodohnya."

__ADS_1


"Semoga doa mu cepat terkabul cu," arandita mengubah suaranya menjadi seorang nenek-nenek.


mereka berdua pun tertawa bahagia bersama.


vino yang mendengar percakapan mereka berdua pun, sedikit demi sedikit mulai menjauh meninggalkan tempat itu, sebelum mereka melihat pikirnya.


Namun terlambat, Marissa melihat vino dan menghentikan nya, "hey kau!, sedang apa disini?, pasti kamu nguping pembicaraan kita kan."


melihat ekspresi wajah sahabatnya yang tiba-tiba berubah, arandita pun ikut membalikkan badannya.


"heh.. percaya diri sekali kamu" vino menyangkalnya.


"dengar ini jalanan umum, jadi aku berhak Dimana pun"


"Ya kau boleh dimana pun, tapi tidak di depan ku" melihat vino membuat Marissa terlihat emosi, apalagi mengingat kejadian di mall tadi.


mereka berdua pun, mulai mengibarkan bendera peperangan antara mereka, arandita menahan nafasnya panjang, dan mengeluarkan nya secara kasar, "sa kita pulang yu" arandita mulai membujuk sahabatnya.


Namun Marissa tidak menanggapi nya, ia terus menatap tajam ke arah vino, arandita menyerah dan pasrah menjadi penonton di antara mereka.

__ADS_1


"Vino, ternyata kau disini?" tiba-tiba saja terdengar suara bariton di belakang arandita, semua mata melihat kearah sumber suara.


Arandita melihat suami kontrak yang sedang ia hindari, yang sedang di gandeng mesra oleh perempuan lain.


pandangan mereka terkunci satu sama lain, ada rasa rindu dalam diri mereka masing-masing, namun karena ego yang tinggi membuat mereka semakin menjauh.


Arandita tersenyum menyembunyikan luka dalam hatinya, ia menatap kr arah tangan wanita yang menempel pada suaminya.


Arandita menyeret memisahkan perempuan yang bersama dengan revan, dan menamparnya beberapa kali, dan ia mengatakan bahwa revan miliknya, hanya milik nya.


namun ternyata itu hanya hayalannya saja, arandita menggelengkan kepalanya, yang terasa sedikit pusing.


"Ayo aran" Marissa membawa sahabatnya pergi dari sana, meninggalkan mereka.


saat berjalan melewati revan, pandangan mata mereka saling bertemu, ada banyak kata yang ingin aran ucapkan, namun ia memendam nya hanya dalam hati.


"Ran, kamu baik-baik aja kan?" Marissa bertanya kepada sahabatnya, ia khawatir jika kejadian dua hari lalu terulang kembali.


Arandita tersenyum, "I am okey"

__ADS_1


bersambung...


__ADS_2