
Setelah semua para pengawal itu pergi meninggalkan mereka berdua di taman itu, kini arandita menatap suaminya dengan tatapan aneh.
"Kenapa kau menatapku seperti itu" revan merasa sangat gugup melihat arandita yang terus menatap nya.
"Apa kau tahu! yang di pegang dari seorang laki-laki adalah janjinya ketika kau ikrar maka, kau akan melukai dua hal yaitu wanita mu dan harga diri mu, tapi aku tidak butuh janji apapun dari mu yang aku butuhkan hanya pembuktian mu saja."
"Apa maksudmu?" revan menatap bingung dengan apa yang arandita katakan.
arandita tersenyum kecut, "Aku hanya menagih janji seorang pria yang menangis tadi, dan ya bukankah aku boleh meminta apapun yang aku inginkan." arandita menatap santai pada suami nya.
"apa kau sengaja mempermainkan aku" teriak revan sambil mengeratkan giginya.
mendengar revan berteriak arandita memundurkan satu langkah kakinya.
__ADS_1
"kau akan menepati janji mu kan? tanya arandita lagi.
namun revan tak menjawab pertanyaan arandita ia diam dengan seribu bahasa, karena ia sudah tahu kemana arah pembicaraan arandita saat ini.
arandita menghela nafas panjang, "untuk kali ini saja, aku mohon buka mata dan hati mu berikan keadilan untuk zia"
"Cukup, harus berapa kali aku mengatakannya kepada mu, jangan pernah ikut campur" teriak revan dengan menekan setiap kata-katanya, dengan mata yang menyiratkan kemarahan, dengan sangat kasar revan mencengkeram pundak arandita.
"Aku sudah memberi peringatan pada mu jangan pernah mengungkit masalalu karena kau..."
"Maafkan aku jika aku lancang, tapi untuk kali ini saja aku mohon pikirkan kembali apa yang aku katakan padamu, karena aku sudah berjanji pada vino untuk memberikan keadilan untuk kakaknya, aku harap agar kau segera mencari tahu kebenaran nya sebelum kau menyesal nanti."
"Lebih baik kau tidak usah mencampuri urusan keluarga ku, karena kau tidak tahu apapun tentang keluarga kami." ucap revan dingin sambil melepaskan cengkraman tangannya di pundak arandita.
__ADS_1
deghhh..
ucapan revan bagai anak panah yang menancap langsung di jantungnya, membuat arandita kini menyadarkan dimana posisinya berada.
Arandita tersenyum miris dengan dengan dirinya sendiri dan akhirnya butiran bening pun mengalir deras di pipinya, "Aku tahu aku bukanlah istri yang kau inginkan maafkan aku sudah mengambil kebahagiaan mu, maaf" Gumam arandita lirih namun masih dapat di dengar dengan jelas oleh revan.
Arandita merasa sangat sakit hati, ia pikir apa yang sudah dilakukan nya selama ini bisa membuat revan mencintai nya, namun nyatanya semua hanyalah sia-sia saja karena ternyata revan masih menganggapnya sebagai orang lain.
dengan wajah yang penuh dengan air mata arandita pun berlari meninggalkan revan yang masih berdiri di sana.
setelah ibunya kembali pulang kini arandita hanya duduk termenung memeluk lututnya sendirian di balkon, di rumah yang besar itu ia merasa sangat kesepian.
ia merindukan masa-masa indah saat tinggal bersama dengan ibunya walaupun ia hidup dengan sederhana, namun hatinya selalu merasa sangat bahagia.
__ADS_1
"Enam bulan sudah kita menikah namun tidak ada kejelasan tentang hubungan pernikahan ini, dia masih terjebak dalam lingkaran yang sama haruskah aku menyerah aku lelah jika terus berjuang sendirian." arandita bergumam dalam hatinya sambil terus menatap langit yang gelap.
bersambung..