Romansa Cinta Arandita

Romansa Cinta Arandita
Bab 62


__ADS_3

Dengan hati yang riang gembira, akhirnya bus yang di tumpangi para mahasiswa dan dua sahabat itu pun pergi meninggalkan kota itu dan menuju ke kotanya.


perjalanan yang memakan waktu sekitar sepuluh jam tak membuat mereka merasa bosan, sedangkan Marissa dan arandita lebih memilih tidur mengistirahatkan tubuhnya yang lelah.


saat bus berhenti barulah mereka terbangun dari tidurnya, Arandita meregangkan otot-otot nya yang kaku karena terlalu lama duduk dengan posisi yang sama.


"Alhamdulillah akhirnya nyampe juga kita" ucap arandita, sambil mengemasi barang-barang nya.


"Iya!, ini jam berapa ya ran aku kok lapar banget" Marissa mengucek matanya dan mengusap perutnya yang minta di isi.


"Ini tengah malam risol, mana ada tempat makan yang buka"


"sembarangan aja ganti nama orang!", Marissa menonyor kening sahabatnya.


"Risa jangan marah-marah, takut nanti lekas tua haha.." Arandita menggoda sahabatnya, yang sedang kesal karena ulahnya, arandita berlari meninggalkan marissa di bus.


"Arandita tungguin" teriak Marissa buru-buru mengejar sahabatnya, sambil membawa barang-barang di tangannya.

__ADS_1


para mahasiswa itu pun satu persatu meninggalkan halaman kampus, dengan kendaraan mereka masing-masing, begitu juga dengan Marissa dan arandita yang kini sudah berada di mobil Marissa.


Marissa melihat jam di tangganya baru menunjukkan pukul 01:15 malam, "Baru jam segini yakin mau pulang ke rumah ibu?" Marissa bertanya kepada sahabatnya.


"sebenarnya nggak yakin sih, aku takut mengganggu waktu istirahat ibu" arandita merasa bingung dengan keputusan nya.


"mulai linglung deh, mending kita pulang ke apartemen aja dulu, besok pagi baru kerumah ibu" ucap marissa sambil menghidupkan mobilnya.


sedangkan arandita hanya mengangguk pasrah, karena ia juga tidak ingin mengganggu waktu ibunya beristirahat.


Marissa membelah jalanan yang sepi tiba-tiba saja mobilnya menabrak sesuatu hingga membuat dua sahabat itu pun terkejut.


"biar aku lihat dulu" arandita membuka seatbelt nya.


"jangan ran, aku takut" Marissa memegang tangan sahabatnya dengan erat.


tiba-tiba kaca mobilnya di ketuk oleh seseorang dari luar, itu semakin membuat Marissa ketakutan setengah mati.

__ADS_1


"semoga bukan begal, tapi kalau mau begal hati nggak apa-apa" gumam Marissa, dalam suasana genting pun, Marisa masih saja sempat mengeluarkan banyolan nya.


"Kumat lagi deh, kelamaan jomblo jadi gini nih" arandita memutar bola matanya.


"Tunggu di sini biar aku sendiri yang keluar" dengan berani arandita pun keluar dari mobil sahabatnya itu, tak lupa arandita pun berpesan kepada Marissa agar mengunci mobilnya setelah ia turun.


seorang pria yang menutupi wajahnya, langsung menodongkan senjata pada arandita, "Menyesal aku keluar dari mobil" Gumam arandita dalam hatinya.


Arandita menghela nafas panjang, lalu mulai menggoda pria itu, "Kau itu seorang pria, mengapa ingin melukai wanita yang lemah ini" arandita mengedipkan sebelah matanya.


arandita mengubah dirinya menjadi seorang wanita yang polos dan liar, itulah salah satu bagian rencana arandita agar ia tidak begitu banyak menghabiskan tenaganya untuk bertarung.


"kau tahu, aku lebih suka memakan senjata andalan para pria, karena rasanya sangat gurih dan lezat"


glekk .. dengan susah payah pria dengan penutup wajah itu menelan ludahnya, dan memegang aset berharga miliknya "tidak, aku hanya butuh tumpangan saja" pria itu berbicara sedikit ketakutan.


"Baiklah kalau kau mau tumpangan, sampai dimana? surga, atau neraka sekali pun aku akan mengantarkan mu sampai ke tempat tujuan" arandita mengubah ekspresi wajah nya seperti seorang psikopat.

__ADS_1


Pria dengan penutup wajah itu pun semakin ketakutan, ia merasa sudah salah mencari korban, lalu pria itupun langsung lari terbirit-birit.


__ADS_2