
"Arandita, bangunlah lihat ini" teriak Marissa dengan hebohnya. "Aran cepat bangun!" Marissa menepuk-nepuk pipi sahabatnya agar terbangun.
"Apaan si sa, aku ngantuk banget ini" Arandita berbicara dengan nada serak khas bangun tidur, arandita mengucek matanya dan terpaksa bangun dari tidurnya.
"Bangun dulu, Lihat ini!" Marissa menunjukkan ponselnya.
"Kamu bercanda sa! ponselnya mati" kesal arandita pada sahabatnya.
"Masa sih tadi masih bisa kok" Marissa mengambil handphone yang berada di tangan sahabatnya. " hehe sorry bestie baterai nya habis"
Marissa cengengesan, lalu dengan cepat ia berjalan membuka tas ransel nya untuk mengambil charger.
sedangkan arandita menatap kesal pada sahabatnya, karena sudah mengganggu tidur nyenyak nya, karena rasa ngantuk nya yang sudah hilang arandita pun memilih untuk pergi keluar dari ruangan istirahat mereka.
"Kamu mau kemana ran?" tanya Marissa yang melihat sahabatnya berjalan keluar.
__ADS_1
"Cari angin!" arandita menjawab sekenanya.
"cari anginlah konon, Udah masuk angun tahu rasa" Marissa berucap sambil langsung mengaktifkan kembali handphone nya.
Di luar Arandita melihat pemandangan yang tak biasa, sepasang kekasih yang akan menikah kini saling berpelukan di bawah sinar rembulan.
Dialah dosen angga dan juga vinia, vinia merasa sangat bahagia mendapati dirinya telah mengandung anak dari dosen angga, karena kesalahan satu malam yang indah bagi vinia.
saat itu dosen angga tengah mabuk berat, karena mendapati wanita yang dicintainya ternyata sudah bersuami, ia merasa cintanya kepada arandita selama ini hanya bertepuk sebelah tangan.
saat sudah mabuk berat dengan langkah terhuyung-huyung vinia membawanya pergi ke apartemen miliknya, hingga terjadilah malam panas yang ia lewati bersama vinia.
awalnya dosen angga menganggap vinia adalah arandita sehingga ia mau melakukan hal itu, namun saat pagi menjelang ia mendapati vinia lah yang berada di sampingnya.
sehingga vinia pun dengan mudahnya meminta pertanggung jawaban dari dosen angga, dan memintanya untuk segera menikah dengan nya.
__ADS_1
Dan pada saat, dosen angga memberikan surat undangan pernikahan mereka pada arandita pun, vinia lah yang memintanya.
*
Vinia tersenyum sinis melihat arandita yang sedang melihat ke arahnya, ia pun langsung bersikap lebih manja kepada dosen angga, agar arandita tahu bahwa angga hanyalah miliknya seorang.
Lain di hati vinia lain pula di hati arandita pada saat vinia memeluk dosen angga, arandita tidak merasakan apapun dia hanya bersikap biasa saja.
Lain cerita nya jika sudah menyangkut dengan revan suami kontrak nya, sebenarnya arandita berpikir, untuk berpisah dengan revan karena kini kekasih yang di nanti suami kontrak nya sudah kembali.
Sesuai perjanjian yang tertulis dalam kontrak, arandita akan bercerai dengan revan setelah satu tahun pernikahan, namun jika kekasih yang di nanti revan datang sebelum satu tahun kontrak pernikahan nya maka revan akan segera menceraikan arandita saat itu juga.
namun saat ini belum ada kejelasan tentang hubungan mereka berdua, arandita berpikir mengapa ia harus terjebak dalam cinta pernikahan kontrak ini, yang sudah jelas tertulis tidak ada yang boleh saling jaruh cinta di antara mereka.
"Arandita kamu disini ternyata, aku sudah mencari mu dari tadi" Marissa mendekati sahabatnya dengan nafas yang sedikit tersenggal.
__ADS_1
bersambung..