Romansa Cinta Arandita

Romansa Cinta Arandita
Bab 28


__ADS_3

Sebuah pernikahan yang mengikat dua sejoli dengan sebuah hubungan yang suci. Terucapnya janji untuk saling setia dan melindungi satu sama lainnya adalah hal yang sangat membahagiakan bagi setiap orang. Namun itu bila mereka menikah dengan orang yang di cintainya.


Berbeda dengan Arandita dan Revan yang menikah atas dasar kesalah pahaman dari orang tua mereka masing-masing, namun mereka tidak bisa menolaknya dengan alasan yang berbeda.


Setekah acara pernikahan tanpa cinta mereka, kini Revan membawa Arandita ke mansionnya atas perintah dari mama Elisa, dan mau tidak mau Revan pun menuruti perintah mamanya.


Kini Arandita berada di kamar yang sama dengan Revan, tak ada pembicaraan apapun di antara mereka berdua, karena Revan sedang sibuk dengan berkas-berkasnya. Namun tak berapa lama kemudian Revan datang menghampiri Arandita memberikan secarik kertas.


"Aku harap kau menandatangani kontrak perjanjian ini, karena hanya satu wanita yang aku cintai yaitu kekasihku. Dan saat dia kembali aku akan langsung mebceraikanmu!" ucap Revan tanpa memikirkan perasaan Arandita saat ini.


Arandita tersenyum getir saat mendengar ucapan pria yang sudah menikahinya beberapa jam yang lalu, tanpa ragu Arandita pun menganbil kertas tersrbut dan membacanya dengan seksama.


"Ingat hanya satu tahun! tunggu sampai kekasih ku pulang kembali." Ucap Revan kembali mengingatkan Arandita.


"Baiklah, jika kekasih mu datang sebelum kontrak perjanjian ini selesai, apa yang akan kau lakukan?" tanya Arandita tanpa ekspresi apapun.

__ADS_1


"Tentu saja aku akan langsung menceraikan mu, dan akan menikahi kekasiku. Kau pun tidak akan rugi karena aku tidak akan menyentuhmu, tapi aku akan tetap memberikan nafkah untuk mu dan ibumu." Jawab Revan dengan penuh percaya diri.


"Owh iya satu lagi, saat kita di luar anggap saja kita tidak mengenal satu sama lain. Aku pun tidak akan perduli dengan apa yang kau ingin lakukan di luar sana, dan jangan pernah menyebut diriku sebagai suamimu." Ucapnya sarkas membuat hati Arandita merasa seperti tertusuk ribuan jarum.


Namun Arandita pun hanya diam tanpa mau menjawab perkataan suaminya, karena apa yang ingin Arandita ketahui sudah terjawab sudah. Mengapa pernikahan mereka hanya sederhana dan tidak ada orang lain selain kerabat dekat dan para tetangga.


Arandita sedikit meremas kertas kontrak perjanjian pernikahan yang berada di tangannya. Lalu kemudian Arandita pun menandatangani nya, di sebelah tangan tangan revan.


Setelah menandatangani kontrak perjanjian pernikahan mereka Revan pun memberikan black card pada Arandita seperti janjinya. Namun saat revan menyodorkan black card itu, Arandita tidak langsung mengambilnya membuat Revan mengerucutkan keningnya.


Arandita mendengus kesal dan menatap sekilas pada suami kontraknya. ''Terimakasih'' Ucap Arandita setelah mengambil black card dari tangan Revan.


Sedangkan Revan yang hanya tersenyum sinis, "ternyata benar kau wanita seperti dirimu hanya menginginkan yang." Sindir Revan yang langsung pergi meninggalkan Arandita sendiri di kamar itu.


Setelah revan pergi, kini Arandita menatap black card yang berada di tangannya lalu meremas black card itu dengan penuh kemarahan.

__ADS_1


"Dengar tuan arogan, aku adalah Arandita kau tidak bisa terus menghinaku sesuka hatimu! aku menikah dengan mu hanya karena terpaksa tapi mengapa kau selalu memandang rendah diriku." Air mata Arandita menetes membasahi pipinya, hatinya merasa sangat sesak mendengar perkataan suaminya yang begitu merendahkan harga dirinya sebagai seorang wanita.


"Kau kuat Aran, kau bukan wanita lemah! kau pasti bisa melewati semua ujian ini. Bertahanlah sampai dia bertemu dengan kekasihnya.'' Ucap Arandita yang berusaha menguatkan hatinya.


*


*


Hari demi hari pun berlalu dengan cepat. Kini Arandita sudah mulai masuk ke kampus seperti biasanya ia memakai pakaian kasual dengan sepatu kets nya dan rambut panjang nya yang di kuncir kuda. Penampilan sederhana seorang Arandita tetap membuat nya terlihat cantik walau tanpa riasan apapun.


''Hai pengantin baru?" sapa Marissa dengan menaik turunkan sebelah alisnya untuk menggoda sahabatnya.


"Istri? istri yang tidak dianggap maksudmu!" Arandita memutar bola matanya malas.


"Smile. Pengantin baru nggak boleh galau, harusnya kalian kamu tuh happy merayakan bulan madu jalan ke tempat romantis.'' Ucap Marissa yang langsung mendapat tonyoran dari sahabatnya.

__ADS_1


Dan tanpa mereka sadari, sadari tadi ada seseorang yang mendengar percakapan di antara mereka berdua.


__ADS_2