
sedih dan terluka itulah yang sedang saat ini arandita rasakan, namun ini sudah menjadi konsekuensinya sendiri karena dia memang menikah dengan keadaan saling terpaksa, dan juga revan sudah membuat perjanjian khusus dengan nya dalam surat kontrak pernikahan yang sudah ia tanda tangani.
Arandita berdiri menghilangkan rasa sesak di hatinya, namun detik berikutnya ia sudah terlihat tegar kembali dan tersenyum kepada sahabat nya.
"Aku baik-baik aja" Lalu arandita pun berbalik pada Airlangga dengan senyuman yang sama pada sahabatnya.
"Saya baik pak, saya permisi dulu, ayo Risa" arandita menggandeng tangan Marissa keluar dari cafe mawar menuju parkiran.
di parkiran ternyata masih ada revan bersama dengan wanita yang tadi ia siram, dan sudah berganti pakaiannya dengan yang baru, mereka berdua akan memasuki mobil revan.
namun arandita bersikap biasa saja melewati revan seolah tidak mengenalnya, ada perasaan aneh di dalam hati revan, terlebih melihat Marissa yang menatapnya dengan tatapan tajam.
detik berikutnya mobil yang di tumpangi arandita dan Marissa sudah menjauh dari cafe tersebut dan dari pandangan mata revan tentunya.
Di dalam mobil Tangis Arandita pun pecah, ia memukul-mukul dadanya yang terasa begitu sesak.
Marissa hanya melihat sekilas ke arah sahabatnya, karena ia sedang menyetir ia tidak bisa langsung memeluk sahabatnya, Marissa juga ikut merasakan rasa sakitnya melihat arandita yang menangis pilu di samping nya.
__ADS_1
"Arandita kita pulang ke apartemen ku aja ya" Marissa bingung harus mengantarkan sahabatnya kemana saat sedang menanggis seperti itu.
Arandita mengangguk saja karena, arandita berpikir tidak mungkin ia pulang dengan keadaan yang tidak baik seperti saat ini, penampilan yang acak-acakan dan mata sembab Karena terlalu lama menangis.
setelah sampai di apartemen nya Marissa, arandita duduk termenung di sofa, sudah tidak ada tangisan di matanya, namun arandita menjadi pendiam.
Hatinya hancur saat melepaskan cinta pertamanya demi mengejar cinta suaminya, namun kenyataan pahit di waktu yang sama arandita tidak bisa memiliki cinta dari keduanya.
Arandita tersenyum miris dengan perjalanan cinta yang begitu rumit di hidupnya.
"mungkin hidupku akan lebih baik tanpa dicintai atau mencintai pria manapun, karena kenyataannya cinta membuatku lemah, arandita tidak boleh lemah kan?, tapi bagaimana jika ibu tahu semuanya?!, beliau pasti akan merasa sangat bersalah.
dari kedua orang tua mereka masing-masing, itu pasti akan membuat ibunya merasa bersalah seumur hidupnya.
Marissa datang dengan segelas susu hangat untuk menenangkan pikiran sahabatnya, kini ia sudah berganti pakaian yang basah karena ulah sahabatnya sendiri, namun Marissa tidak marah akan tindakan yang dilakukan arandita tadi.
"Minumlah" Marissa menyodorkan gelas susu pada arandita.
__ADS_1
" terimakasih"
" Aran aku punya info terbaru,"
"Apa" arandita menatap sahabatnya dengan malas.
"kita bakal kkn ke kota Bogor, gimana menurut mu keren ngak" Ucap Marissa dengan hebohnya, agar sahabatnya kembali ceria dan melupakan kesedihannya.
benar saja arandita langsung semangat mendengar dimana mereka akan KKN nanti.
"Wah beneran" arandita bersorak gembira, "okey, kapan kita berangkat" arandita penuh semangat.
"Minggu depan"
"Wow, tapi kenapa baru bilang sekarang sih"
"Mana aku tahu, baru dapet kabar juga'' Marissa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
__ADS_1
sebenarnya tidak tahu saja apa yang sudah dia lakukan untuk sahabatnya itu.