
Setelah mencari restoran terdekat akhirnya, arandita pun turun di sebuah restoran yang tak jauh dari kampus mereka, arandita berjalan lebih dulu masuk ke dalam restoran tersebut.
Di susul oleh Marissa di belakangnya, Marissa melihat cara berjalan sahabatnya terlihat begitu aneh tidak seperti biasanya,
"Apa karena kelaparan ya, cara berjalan nya pun jadi aneh begitu" Marissa bergumam dalam hatinya dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, melihat arandita yang berjalan di depan nya.
Marissa berdiri sejenak berdiam di tempatnya, memperhatikan sahabat namun detik kemudian Marissa mendengar suara nyaring sahabat nya.
dengan langkah yang sedikit berlari Marissa pun menghampiri arandita, "ran kamu kalo lagi lapar rempong juga ya" Marissa berkata dengan sedikit terengah-engah."
"salah siapa coba berangkat buru-buru" arandita membuka buku menu dan memesan makanan nya, "kamu mau pesan apa sa?" arandita bertanya kepada sahabatnya.
"Aku pesan capuccino saja, aku sudah sarapan tadi," Marissa berkata sambil membuka ponselnya melihat berita-berita terkini, lalu ia menutup mulutnya saat melihat berita terbaru yang sedang hot saat ini.
"liat apaan sih sa?" arandita merasa sangat penasaran dengan apa yang di lihat sahabatnya.
__ADS_1
tanpa banyak bicara Marissa memberikan ponselnya kepada sahabatnya, Berbeda dengan Marissa Arandita Hanya bersikap biasa saja, dan memberikan ponsel sahabatnya kembali.
"ran kamu baik-baik aja kan?" Marissa heran mengapa arandita melihat berita terbaru tentang suaminya, namun ia hanya diam saja.
Arandita Hanya tersenyum, bersiap biasa saja meskipun hati nya mulai terbakar api cemburu, arandita tak langsung menjawabnya, karena pelayan restoran datang dan menyiapkan makanan yang arandita pesan di meja
"selamat menikmati makanan kami kak" ucap pelayan itu dengan ramah.
"terimakasih" Marissa dan arandita serempak, arandita langsung memakan makanan nya dengan lahap.
Di tempat lain, tepatnya di mansion Alexander seorang pria baru terbangun dari tidurnya, ia memindai seluruh ruangan, yang terlihat sunyi sepi.
revan melihat jam dinding menunjukkan pukul sembilan tiga puluh, "Ya ampun revan apa yang kau lakukan"
revan langsung bergegas untuk membersihkan diri nya, namun saat ia mengangkat selimutnya, revan melihat noda bercak darah di seprei putihnya.
__ADS_1
Lalu revan pun ingat dengan kejadian malam tadi, revan mengusap wajahnya dengan kasar dan mengacak-acak rambut nya frustasi, dengan cepat revan mengangkat seprei dan mencucinya sendiri, ia tidak ingin siapapun tahu tentang apa yang sudah terjadi malam tadi.
setelah selesai dengan semua nya revan keluar dari kamarnya dengan pakaian formal dan wajah dingin tampa ekspresi, hari ini revan akan mengintrogasi sepupunnya dan mamanya.
namun saat sampai di ruang tamu revan melihat wajah mama Elisa yang tidak bersahabat, " akhirnya kau bangun juga Revan, sudah jam berapa ini dan kau masih santai, dan apa berita itu benar adanya, lalu kau menganggap apa menantuku di rumah ini."
ucap mama elisa membuat revan mengerutkan keningnya, "Bukankah seharusnya aku yang marah, karena mama sudah memberikan aku dan arandita obat pera***g hingga terjadilah apa yang seharusnya tidak terjadi, tapi kenapa malah mama yang marah"
namun revan hanya bergumam dalam hatinya saja, karena ia tidak ingin melihat mama Elisa tambah marah padanya.
"Tenanglah dulu ma, cerita kan apa yang semua terjadi agar revan mengerti apa yang mama katakan." revan melembutkan suaranya agar mama tidak tersulut emosi nya yang sedang meledak saat ini.
bersambung..
terimakasih sudah mampir di karya autor jangan lupa like dan tinggalkan jejak kalian di komentar,๐
__ADS_1
jangan lupa kasih tips hadiahnya ๐คญ