
Arandita pun kembali ke ruangan suaminya ia melihat wajah pucat suaminya dan mencoba mengelus-elus tangan revan, "baiklah aku akan mencobanya agar bangun secepatnya" gumam arandita.
"Mas apa kau tidak bosan terus diam dan tidur sepanjang hari di tempat ini?" tanya arandita sedikit menggoyangkan tangan revan.
"apa kau tahu kau itu sangat menyebalkan" ucap arandita sedikit terkekeh namun air matanya mengalir begitu saja dari sudut matanya.
"mas apa kau tahu ada satu hal yang ingin aku bicarakan kepada mu semua itu tentang kita, hmm .. maksudku tentang bagian dari.."
ucapan arandita terhenti saat mendengar bunyi ponsel yang berdering dengan cepat arandita mengangkat panggilan dari polisi zayn, "halo pak zayn apa ada yang serius? baiklah terimakasih atas informasinya pak.
arandita pun menutup sambungan telepon dari zayn, "sebenarnya apa motif mereka mengapa mereka ingin menyakiti aku'' gumam arandita.
"ahh iya bagaimana dengan keadaan Marissa setelah kejadian hari itu aku belum melihat nya" arandita baru mengingat kembali sahabatnya bersamaan dengan itu tiba-tiba pintu ruangan pun di ketuk, dan menampakkan orang yang sedang ada dalam pikirannya bersama dengan ibunya.
"Arandita apa kamu baik-baik saja nak tidak ada yang luka kan lalu bagaimana dengan keadaannya" ibu langsung memberondong banyak pertanyaan kepada putrinya sambil mengelus-elus perut arandita.
__ADS_1
"semua baik-baik saja bu ibu jangan terlalu khawatir"
"syukurlah kalau begitu'' ibu pun merasa sedikit tenang mendengar penjelasan putrinya lalu pandangan nya beralih pada menantunya, yang kini sedang terbaring di brankar pasien lalu menghampiri Nya.ⁿ
"mas revan baik-baik saja bu dia hanya perlu istirahat yang cukup" jelas arandita yang melihat ibunya meneliksik wajah pucat menantunya dengan tatapan aneh.
"aku rasa ibu sedang mencium bau-bau keanehan" ucap Marissa yang berdiri di samping sahabatnya.
"Aneh apanya?" tanya arandita tak mengerti.
"maaf semuanya saya harus memeriksa pasien, dan karena jam besuk sudah hampir selesai hanya boleh satu orang saja yang berada di sini" ucap dokter indra yang mengusir mereka secara tidak langsung.
"dokter ngusir kita nih ceritanya" ucap marissa mengalihkan perhatian dokter indra.
"siapa lagi gadis ini bodynya lumayan juga" gumam dokter indra dalam hatinya, saat melihat Marissa jiwa playboy nya muncul kembali.
__ADS_1
"Matanya tolong di kondisikan kalau tidak ingin mendapatkan akibatnya" bisik vino di samping telinga dokter indra.
dokter indra pun menghela nafas panjang, "kenapa dia selalu saja mengancamku" kesal dokter indra yang mengumpat vino dalam hatinya dan melewati Marissa begitu saja.
lalu ibu dan Marissa pun berpamitan untuk pulang pada arandita karena memang jam besuk sudah hampir selesai.
"aran ibu dan risa pamit pulang dulu ya, jaga diri mu baik-baik dan jaga juga calon cucu ibu"
"iya bu ibu hati-hati ya di jalan, ingat risa jaga ibuku baik-baik jangan ngebut"
"siap nyonya bos" ucap Marissa sambil memberikan hormat kepada sahabatnya, membuat ibu terkekeh geli melihat kelakuan dua sahabat yang berada di hadapannya.
setelah ibu dan Marissa pulang arandita menunggu sendirian di ruang tunggu sedangkan vino mengurus hal yang lain.
Namun di ruangan pasien dokter indra tak melakukan apapun hanya berdiam diri melihat pasiennya.
__ADS_1