
Arandita mulai meremas jarinya, sejak tadi ia terus berjalan mondar mandir memikirkan keadaan sang ibu yang kini masih dalam penangana dokter.
"Semoga ibu baik baik saja, tak ada akan terjadi apapun pada ibu'' Gumam Arandita lirih, Arandita terus berpikir positif untuk menenangkan hatinya yang semakin gelisah. Arandita takut terjadi sesuatu pada ibunya, karena hanya ibunya lah yang arandita punya di dunia ini sebagai tempat bernaung dan tempat berkeluh kesah.
Setelah lama menunggu akhirnya ia melihat pintu ruangan terbuka menampakkan seorang dokter keluar dari sana, arandita langsung bergegas menghampiri dokter itu dan memberikan begitu banyak pertanyaan pada sang dokter.
"Dokter, apa yang terjadi pada ibu saya dok, apa ibu baik-baik saja? Bagaimana keadaannya saat ini? Dokter kenapa anda diam saja.'' Arandita bertanya kepada sang dokter tanpa jeda.
"Ibu winda kena serangan jantung, tapi untung saja anda membawa nya tepat waktu, hingga kami bisa menanganinya dengan cepat"
"Lalu bagaimana keadaan ibu sekarang?"
"Ibu anda masih belum sadarkan diri, mungkin untuk beberapa jam kedepan, tapi anda boleh menemani nya di dalam dan ini resep obat bu winda" Dokter menyerahkan kertas resep dan kemudian pergi meninggalkan arandita di sana.
__ADS_1
Setelah mendengar penjelasan dokter, kini Arandita pun menghampiri ibunya yang terbaring di brankar pasien dengan selang infus yang tertancap di tangannya.
Lalu arandita pergi ke luar untuk menebus obat ibunya, setelah selesai menebus obat arandita kembali ke ruangan ibunya dan melihat orang tua satu satunya masih memejamkan mata.
Arandita merasa sangat sedih, lalu ia merogoh sakunya mengambil handphone arandita merasa terkejut melihat beberapa panggilan dari Vino.
"kenapa dia banyak panggilan dari manusia konyol itu apa dia mau menagih uang yang sudah dia keluarkan untuk membayar cafe itu?/Tanya Arandita pada dirinya sendiri.
aranedita tak menghiraukan panggilan telepon dari Vino dia pun langsung memasukkan ponselnya nya kedalam saku, dan berjalan keruangan ibunya.
Lalu arandita merasakan tangan ibunya bergerak, lalu perlahan lahan ibu pun mulai membuka matanya. Arandita merasa senang dan langsung memeluk ibunya sambil menangis haru.
"Hey Aran anak ibu, kenapa kau menangis? seperti bocah TK begitu apa kau tidak malu jika di lihat sahabatmu nanti" Ucap Ibu Winda lirih menggoda putrinya untuk sekedar mencairkan suasana haru di ruangan itu.
__ADS_1
"Ibu janji jangan bikin aran khawatir ya, Aran takut terjadi sesuatu pada ibu Aran tidak mau kehilangan ibu karena Aran hanya punya ibu saja" Ucap Arandita sesenggukan di pelukan ibunya.
Ibu Winda tersenyum samar sambil mengelus rambut putrinya dengan lembut. "Rezeki, jodoh dan maut adalah takdir Aran. Kita tidak tahu sampai kapan kita akan hidup di dunia ini, tapi satu hal yang pasti ibu sayang Aran dan ibu ingin melihat putri ibu bahagia"
Setelah lama menangis aran langsung menatap wajah senja ibunya, yang kini sedang tertidur kembali karena efek samping dari obat yang di berikan dokter.
*
*
Tiga hari kemudian kesehatan ibu sudah berangsur membaik dan ibu sudah di ijinkan untuk pulang ke rumah. Setelah Arandita membayar administrasi nya, kini menggandeng ibunya keluar meninggalkan rumah sakit itu.
Di dalam perjalanan Arandita hanya terdiam melihat kearah jalanan seperti ada yang ia lupakan namun entah apa itu.
__ADS_1
"Arandita sudah beberapa hari ini kamu terus menemani ibu, bagaimana dengan kuliahmu nak" Tanya ibu yang melihat putrinya termenung seperti memikirkan sesuatu.