
Kini Arandita merasa tidak nyaman dengan dres yang ia pakai. Sangat ketat dan pendek, dan high heels nya yang tinggi membuat Arandita ingin sekali berteriak dan memaki Revan saat ini.
"Aku akan membawamu ke mansion utama jadi bersikaplah seperti wanita kaya.''
Arandita tak menjawab ucapan konyol yang di lontarkan revan pada nya, kini mereka sudah sampai di mansion utama dan langsung di sambut oleh para pelayan namun Arandita berjalan sangat lambat.
"Hey kau cepatlah sedikit, dan cepat rangkul tanganku bersikaplah seperti layaknya kekasihku.''
Arandita mendengus kesal menatap ke arah pria yang begitu menyebalkan baginya. ''Kau itu meminta tolong atau sedang menodongku?''
"Sudah diam jangan terlalu banyak bicara.'' Bisik Revan di samping telinga Arandita dengan sedikit menekan kata katanya.
Setelah menunggu beberapa saat, kini muncullah seorang wanita paruh baya yang masih terlihat cantik di usianya yang sudah senja.
"Mama, kenalkan dia Zivanya kekasihku"
Wanita yang di panggil mama itu pun langsung memindai Arandita dari atas sampai bawah. Arandita sangat gugup dan sedikit menundukan kepalanya karena malu, ia pikir apa yang akan di pikirkan wanita itu tentangnya saat ini. Karena Arandita memakai pakaian yang sedikit terbuka dan kurang sopan menurutnya.
"Arandita!" Sapa wanita paruh baya itu yang tak lain adalah tante Elisa teman ibunya.
"Tante Elisa"
''Apa kalian saling kenal ma?" tanya Revan dengan wajah yang sedikit bingung melihat interaksi dua wanita beda usia itu.
"Tentu saja, Ayo Aran ikut mama '' tante Elisa pun menggandeng tangan Arandita dan meninggalkan Revan begitu saja.
__ADS_1
"Apa yang sebetulnya terjadi ini, kenapa jadi begini ceritanya?'' revan merasa kesal saat Mama nya membawa Arandita dan meninggalkan nya begitu saja.
Dengan rasa penasaran dan penuh tanda tanya kini Revan pun mengikuti dua perempuan beda usia itu. "Sebenarnya apa yang tidak aku ketahui?''
Mama Elisa pun mengajak Arandita duduk di taman belakang mansion dan mulai mengobrol santai layaknya teman sebaya. Sedangkan Revan hanya duduk diam seperti parung manekin di antara dua wanita yang sedang asyik mengobrol di hadapannya.
Ada rasa hangat dalam Revan, karena ini baru pertama kalinya ia melihat sang mama begitu dekat dengan orang lain.
"Ayo kita makan dulu, mama sudah menyiapkan makanan enak khusus untuk kalian tadi." Ajak Mama Elisa yang langsung menggandeng tangan Arandita meninggalkan Revan yang masih duduk disana.
''Owh iya mama lupa menanyakan sesuatu padamu, jadi sejak kapan kalian berpacaran?''
"Satu tahun.''
Jawab Arandita dan Revan secara bersamaan, mendengar jawaban mereka mama Elisa mengerutkan keningnya.
"Jadi yang benar yang mana? satu hari, atau satu tahun?''
"Satu tahun kami berasa satu hari iyakan sayang?" ucap Revan sambil bersandar manja di pundak Arandita, dan mengkode Arandita dengan menggenggam pinggang nya dengan erat.
"I.. Iya tante" Arandita sedikit gugup.
"Dasar pria tak tahu sopan santun, seenaknya saja dia mencuri kesempatan dalam kesempitan. Awas saja jika dia berani macam macam akan aku patahkan tangannya nanti.'' kesal Arandita, dan terus mengumpat Revan dalam hatinya.
"Sudah pacaran satu tahun kenapa masih panggil tante? panggil mama dong. Baiklah sudah di putuskan besok mama akan melamarmu untuk anak mama."
__ADS_1
Mendengan keputusan terakhir Mama Elisa membuat Arandita dan Revan pun tersendak dan batuk batuk karena nya.
"Tapi tante .. Eh mama, Aran kan masih kuliah tak mungkin Aran menikah cepat."
"Iya ma tidak usah terburu-buru juga." Sahut Revan dengan sedikit gugup dan berkeringat.
"Tidak masalah. Kalian bisa saling mendekatkan diri setelah menikah dan kau Aran bisa tetap melanjutkan kuliah mu juga, mudahkan!'' Ucap Mama Elisa dengan entengnya.
"Tapi."
"Tidak ada tapi tapian, jika untuk suatu hal yang baik!''
Setelah lama berbincang, kini Arandita pun pamit untuk pulang karena ia merasa sangat khawatir pada ibunya yang tinggal di rumah sendirian. Dalam perjalanan pulang, Arandita hanya menatap kosong ke arah jalanan.
"Apa kau akan menerima tawaran mama?" tanya Revan tanpa menoleh pada Arandita.
Arandita hanya tersenyum sinis, "Bagiku pernikahan adalah hal yang sakral, aku tak bisa mempermainkan perasaan orang tuaku begitu saja.''
Mendengar ucapan Arandita, Revan langsung menepikan mobilnya. "Bagaimana kalau kita menikah kontrak saja, aku akan membayar mu lima kali lipat dari konvensasi awal.'' Ucap revan dengan konyolnya.
Arandita merasa sangat sedih mendengar ucapan revan. " Tidak semuanya dapat di beli dengan uang tuan!'' Setelah mengatakan hal itu semua, Arandita pun keluar dari mobi Revan dan pergi begitu saja meninggalkannya begitu saja. Arandita melupakan jika dengan pakaian nya yang mini akan membuat para pria yang melihatnya akan berpikiran negatif.
"Tunggu kau akan pergi kemana?"
Bersambung..
__ADS_1