
Setelah selesai dengan persiapan untuk pertemuan dengan klien. Kini Arandita akan bergegas menuju kantin karena perutnya sudah sangat lapar.
Namun belum sempat Arandita pergi ke kantin. Asisten Vino datang menemuinya dan mengajaknya untuk bersiap menemani Revan bertemu dengan klien.
Arandita medengus kesal dan mengurungkan niatnya untuk makan siang. Ia pun bersiap dan mengikuti vino di susul oleh Revan dibelakang nya.
Arandita membiarkan dua pria itu melangkah di depannya. Namun seketika revan berhenti mendadak membuat arandita tak sengaja menabrak punggung revan.
''Maaf tuan saya tidak sengaja." Ucap Arandita sedikit membungkukkan badannya.
Namun Revan hanya diam saja, tak menyahuti perkataan Arandita dan berjalan kembali meninggalkan Arandita yang masih berdiri di tempatnya.
Arandita hanya membuang nafas lega saat melihat Revan tak mengatakan kata kata pedas seperti biasanya. "Untung saja tuan arogan itu, hanya diam dan tidak mengomel. Tapi aku harus tetap hati hati dengan mulut tajamnya yang bisa menusuk gendang telingaku."
*
*
Karena asisten Vino menghadiri pertemuan lain, kini hanya Revan dan Arandita lah yang menemui klien dari Paris.
__ADS_1
Setelah memberikan berkas yang di butuhkan Revan, Arandita berdiri di samping big bosnya. Dan mencatat poin poin penting yang di butuhkan Revan.
Revan membacakan isi berkas dan data kontrak kerja pada klien nya, sedangkan klien dari Paris itu tak mendengarkan nya sama sekali. Pria itu hanya menatap arandita dari atas sampai bawah dengan penuh minat, sedangkan Arandita yang merasa dirinya di awasi ia merasa sangat risih walaupun dia tidak melihat langsung. Karena Arandita punya insting tersendiri untuk hal semacam ini.
Revan menjelaskan panjang lebar, namun tidak mendapatkan pertanyaan apapun dia langsung menatap pada kliennya yang sedang menatap Arandita dengan lapar. Itu membuat Revan kesal dan berdehem menyadarkan kliennya namun itu hanya sia-sia saja.
"Tuan, sebaiknya anda pikirkan kembali jika ingin bekerja sama dengan perusahaan kami." Ucap Revan dengan menekan kata katanya.
Membuay klien pria itu kembali tersadar dari pikiran kotornya, ia pun langsung berniat meminta maaf pada Revan.
"Tuan saya..'' Belum selesai klien itu meneruskan ucapannya. Revan sudah bangkit dan meninggalkan nya begitu saja dan langsung diikuti oleh Arandita.
"Maaf tuan"
"Apa kau baik-baik saja? dengar aku tidak mau jika karyawan ku sampai jatuh pingsan di Sembarangan tempat. Itu akan mencoreng nama baik perusahaan dan juga namanku." Ucap Revan dengan nada ketusnya.
"Saya mengerti tuan!"
Namun tiba tiba terdengar suara perut arandita yang begitu nyaring di telinga Revan. "Duh ini perut bikin malu aja, nggak bisa di ajak kompromi banget." Pikir Arandita dalam hatinya.
__ADS_1
Revan yang paham akan situasi saat ini, ia langsung mengemudikan mobilnya dan membelah jalanan yang begitu ramai. Setelah beberapa menit kemudian, kini mobil yang di tumpangi Arandita dan Revan pun sudah sampai di halaman restoran seafood.
Arandita tak banyak bertanya, ia hanya berjalan mengikuti revan. Dan setelah memilih tempat duduk yang nyaman, revan memanggil pelayan restoran itu.
"Kau pesanlah apa yang kau inginkan" ucapnya pada Arandita yang masih berdiri di sampingnya.
"Duduklah''
"Terimakasih tuan.'' Arandita hanya melihat berbagai jenis menu seafood dan makanan western, dan tidak ada yang arandita sukai di menu itu.
"Tuan saya tidak lapar, saya makan nanti saja." Ucap Arandita setelah membaca semua menu itu.
Revan hanya menghela nafasnya mendengar ucapan Arandita, jelas Revan tahu betul kalau Arandita sangat kelaparan saat ini.
"Terserah kau saja.'' Kini Revan pun mulai memesan beberapa macam makanan yang menurutnya enak. Setelah beberapa lama menunggu makanan yang di pesanannya pun datang.
Arandita merasa tergiur dengan seafood yang berada di depannya, namun ia tak berani memakannya karena arandita alergi terhadap makanan seafood.
"Makanlah jika tidak aku akan memotong gajimu hari ini'' Ancam Revan yang langsung memakan makanan nya.
__ADS_1