
Setelah melihat Marissa dan Arandita pergi jauh, orang tersebut tersenyum sinis menatap mereka.
"Jadi dia sudah menikah, dengan siapa? ahh aku tidak perduli dia menikah dengan siapa pun itu artinya kak Angga akan menjadi milikku seutuhnya." Ucap Vinia dengan senyum smirk nya.
Vinia sangat terobsesi dengan dosen Airlangga. Dosen muda dan tampan di unniversitas tempatnya belajar, namun sayangnya dosen Angga selalu bersikap dingin dan cuek terhadapnya. Berbeda jika dengan Arandita, dosen Angga akan selalu terlihat ramah dan hangat membuat Vinia merasa iri dan benci pada Arandita.
Tokk.. Tokk.. Tok..
"Masuklah!" jawab seseorang dari dalam ruangan tersebut.
Vinia membuka pintunya dengan senyuman yang di buat semanis mungkin saat membuka pintu ruangan dosen Angga. Namun senyuman itu menghilag saat melihat Arandita dan Marissa juga ada di ruangan itu.
"Sedang apa kalian disini?" tanya Vinia dengan nada ketusnya, menatap secara bergantian pada mereka yang berada di ruangan itu.
"Pertanyaan koyol macam apa itu?'' sahut Marissa yang sedikit mengejek Vinia yang wajahnya sudah terlihat kesal.
"Apa kau sedang mengejekku!" sentak Vinia yang langsung mendapat tatapan tajam dari dosen Angga.
"Terimakasih atas waktu nya pak tugas kami sudah selesai, kami akan kembali ke kelas sekarang! ayo Risa" Dengan cepat Arandita membawa sahabatnya pergi keluar dari ruangan dosen Angga.
__ADS_1
"Nyebelin banget tuk si nenek sihir, sok sokan gaya di depan pak dosen mentang mentang anak holang kaya." Marissa mendengus kesal, ingin sekali ia mejambak rambut dan mencakar wajah menyebalkan Vinia saat ini.
"Ada apa kau datan kemari?" tanya dosen Angga dengan nada dinginnya, tanpa menatap ke arah Vinia.
"Kak apa kau bercanda, kita sudah di jodohkan dan akan segera menikah jadi aku adalah calon istrimu. Lalu kenapa kau masih sungkan padaku?'' dengan sangat berani kini Vinia pun duduk di pangkuan Airlangga. Namun dengan cepat Angga langsung menyingkirkan Vinia dan langsung berdiri membelakangi Vinia.
"Kenapa kau selalu menolakku kak?''
"Vi, sebaiknya kau pergilah! disini bukan tempat untuk membahas masalah pribadi.'' Usir Angga pada wanita yang kini berdiri dibelakangnya.
Tapi bukan pergi Vinia kini malah memeluk tubuh Angga dengan begitu erat, membuat Angga begitu murka karenanya.
*
*
Ditempat lain. Arandita dan Marissa pun berjalan meninggalkan kampus mereka. Dalam perjalanan Marissa terus berbicara pada Arandita menceritakan tentanv kekesalannya pada Vinia, namun Arandita hanya diam saja tak menyimak sama sekali ucapan yang. di katakan oleh sahabatnya.
Sedangkan sedang memikirkan Angga. Kini ia mulau mengingat kembali saat dosen Angga menyatakan cinta padanya di taman.
__ADS_1
"Ingat Aran, kau kau sudah menjadi seorang istri walau pun bukan istri sesungguhnya, kau tidak pantas memikirkan pria lain!" gumam Arandita didalam hatinya.
"Kamu kenapa sih Ran? kamu baik-baik aja kan?"
"Baik kok, hanya akhir-akhir ini aku sering pusingnya Risa"
"Mau aku anterin ke klinik"
"Nggak perlu, lebih baik aku pulang ke rumah ibu saja, minta ibu yang pijat"
"Apa kamu yakin?" Tanya Marissa dengan wajah penuh selidik.
"apaan sih jangan lihat aku kaya gituh juga kale.."
"Pede sangat sih kamu, udah ah aku pergi dulu sekarang."
''Sipp'' Marissa melambaikan tangannya ke arah sang sahabatnya yang selalu menemaninya saat suka mau pun duka.
Setelah itu mereka pun berpisah di halaman kampus, kini Arandita pun melajukan motornya untuk pergi ke suatu tempat.
__ADS_1