
vino mengerutkan keningnya melihat interaksi ketiga wanita yang berdiri tak jauh dari tempat nya, lalu seorang seorang gadis di antara mereka mulai menghampiri vino dengan cepat vini pun mulai pergi meninggalkan tempat nya.
"seperti nya ada yang tidak beres, lihat saja kau gadis menyebalkan aku akan beri perhitungan dengan mu nanti" geram vino yang melihat Marissa sedang asyik tertawa.
disisi lain zayn dan arandita sedang asyik mengobrol berdua di salah satu kursi tamu undangan, "bagaimana apa kaki mu masih sakit" tanya zayn sedikit khawatir.
karena saat di lantai dansa arandita hampir terjatuh saat seseorang menjegal kakinya untung saja zayn dengan cepat menangkap tubuh arandita.
"Aku baik-baik saja hanya sedikit memar akan hilang dalam beberapa hari" jawab arandita sedikit kikuk karena zayn terus saja menatap dirinya dengan penuh kecemasan.
"Apa kau yakin" tanya zayn lagi.
"tentu aku sudah terbiasa dengan luka kecil seperti ini" arandita terseyum samar.
"ada luka yang lebih besar yang menganga dan lebih sakit dari luka fisik ku saat ini, namun hanya aku yang bisa merasakan nya sendirian saja biarlah luka ini terkubur dalam kenangan, mungkin sudah saatnya aku mundur aku yakin mama elisa pasti mengerti apa yang sedang aku rasakan saat ini"
__ADS_1
"Arandita ayo kita pulang sekarang juga" ajak marissa menyadarkan arandita dari lamunannya.
"Pak polisi tampan terimakasih sudah menjaga arandita dengan baik ya" ucap Marissa dengan nada centilnya sambil mengedipkan sebelah matanya pada zayn.
zayn hanya tersenyum dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal melihat ekspresi wajah Marissa yang begitu menggemaskan di mata nya.
sedangkan arandita memutar bola matanya malas, " kumat lagi deh"
"Ayo aran" Marissa langsung menarik tangan sahabatnya dan melambaikan tangan lainnya pada Zayn.
Marissa membawa sahabatnya dengan langkah cepat menuju tempat parkir sambil terus melihat kearah belakang, "apaan sih sa jalan nya biasa aja bisa nggak si, apa kamu nggak inget aku ini sedang hamil bagaimana kalau terjatuh" ucapan arandita langsung me buat Marissa berhenti mendadak.
"owh iya aku lupa, sekarang bayi kamu sudah sebesar apa ran waktu kita periksa kan masih seperti titik" tanya Marissa penasaran.
arandita mengangkat bahunya, "Entahlah mungkin sudah sebesar biji kacang" ucap arandita bingung.
__ADS_1
"What! baru sebesar itu lalu kapan aku bisa menggendong bayi yang sedang kau kandung itu arandita" teriak marissa sedikit tak percaya dengan apa yang di katakan oleh sahabatnya.
"Ya di tunggu saja sampai dia lahir" arandita tersenyum lalu meninggalkan marissa dengan wajahnya yang terlihat jengkel.
setelah arandita sampai di mobil Marissa, ia masih melihat sahabatnya yang berdiri mematung di tempatnya, "Risa mau pulang atau tetap disana?" teriak Arandita.
"tunggu" Marissa langsung menghampiri mobil nya.
tanpa mereka sadari sedari tadi ada seseorang yang menguping pembicaraan mereka berdua, "Apa jadi dia sedang mengandung!" ucap orang itu tak percaya dengan apa yang sudah ia dengar.
di dalam mobil arandita hanya diam saja begitu juga Marissa, "kau mau pulang kemana?" tanya Marissa.
"ke apartemen mu saja bolehkan"
"tentu saja aku akan merasa sangat senang jika ada yang menemani ku" jawab Marissa kegirangan.
__ADS_1
"terimakasih Bestie" arandita merasa sangat beruntung memiliki sahabat sebaik Marissa, karena ia selalu ada dalam keadaan apapun tanpa banyak bertanya tentang segala hal yang membuat arandita risih.