
Melihat punggung Arandita semakin menjauh dari pandangannya. kini Revan pun memutuskan untuk pergi kembali ke kantor nya. Ia memutuskan untuk tidak lagi mengutit istri kontraknya sesuai perjanjian, revan akan membiarkan apapun yang Arandita lakukan. Karena sudah terbukti bahwa Arandita tak seburuk yang ia pikirkan.
Setelah selesai mengajar anak-anak panti, kink Arandita pun bersiap untuk pulang. Namun arandita sedikit bimbang harus pulang kemana.
"Kenapa setelah menikah aku seperti anak terbuang yang tak punya rumah, mau pulang ke rumah ibu pasti seharian harus mendengarkan ceramah dadakannya. Kalau pulang ke rumah tuan arogan itu sama saja aku masuk kedalam kandang sing. Aku sangat bosan setiap hari harus mendengarkan ucapan pedasnya padaku." Keluh Arandita lirih.
Arandita merasa sangat dilema di buatnya, hingga akhirnya arandita pun memutuskan untuk pergi ke mansion Alexander. karena ia tak punya pilihan lain lagi dan harus mengerjakan proyek nya malam ini juga.
Dengan mengendarai sepeda motornya Arandita membelah jalanan yang cukup padat di sore ini. Setelah beberapa saat kemudian ia pun sampai di mansion arandita pun langsung bergegas membersihkan diri sebelum mengerjakan tugasnya.
"Kayaknya ada yang aneh, tapi apa ya?" Arandita pun hanya mengangkat bahunya, tak terlalu memikirkan nya, dan mulai mengerjakan pekerjaannya yang tertunda. Detik demi detik berlalu tak terasa waktu sudah menunjukkan tengah malam.
"Akhirnya selesai juga!" Arandita meregangkan otot tubuhnya yang terasa begitu kaku.
__ADS_1
Kini ia pun menatap jam dinding yang menunjukkan pukul sebelas malam, karena mengerjakan tugas nya dengan serius Arandita sampai melupakan makan sore dan makan malamnya.
"Laper banget!"
Dengan sangat terpaksa arandita pun keluar dari kamarnya menuju dapur. Arandita memindai seluruh ruangan yang terlihat sangat sunyi.
"Ini rumah apa kuburan? sepi banget!'' Arandita pun terus melangkah kakinya menuruni tangga dengan sedikit rasa takit di hatinya. Setelah sampai di dapur ia mencari makanan namun nihil tak ada makanan apapun yang tersisa di meja makan.
"Kenapa rumah semewah dan sebersar ini tidak ada apapun yang dapat di makan. Lama-lama aku bisa kurus kering dan mati kelaparan di sini, ibu aku kangen masakan ibu!" gumam Arandita dengan penuh drama.
Namun saat ia akan menyimpan nya di meja makan Arandita di kejutkan dengan suara seseorang yang tak asing lagi di telinganya.
Pyaarr...
__ADS_1
Karena terlalu terkejut Arandita pun menumpahkan mie instan dan mengguyur kakinya.
"Ahhh panas!" teriaknya Arandita yang merasakan sensasi terbakar di kakinya.
"Apa yang kau lakukan!" Revan langsung berlari untuk membantu Arandita dan mendudukanya di kursi.
"Ini semua karena tuan arogan yang menyebalkan! andai jika dia tidak datang mengagetkan ku seperti hantu saja." Arandita terus mengumpat suaminya sambil menahan rasa sakit di kakinya, dan menatap punggung Revan yang menghilang di balik pintu.
Tak lama kemudian Revan kembali dengan salep di tangannya, dengan cekatan dan tanpa banyak bicara Revan mengangkat kaki Arandia lalu mengoleskan salep pada kakinya yang terkena tumpahan mie panas.
"Terimakasih." Ucap Arandita tulus, setelah Revan mengoleskan salep pada lukanya.
Sedangkan Revan tidak menjawabnya dan meninggalkan Arandita di sana, namun langkahnya terhenti saat mendengar suara perut Arandita yang berbunyi dengan nyaring di telinganya.
__ADS_1
Bersambung..