Romansa Cinta Arandita

Romansa Cinta Arandita
Bab 145


__ADS_3

vino tersadar dari apa yang sudah dilakukan nya ia pun ikut berjongkok di hadapan Marissa, "maaf" ucap vino dengan rasa bersalah nya.


namun Marissa tetap diam memeluk kedua lututnya dan menyembunyikan wajahnya di sana, vino pun bingung harus berbuat apalagi karena kepala atas bawah nya kini mulai nyut-nyutan karena ulah gadis barbar yang ada di hadapannya saat ini.


vino pun meninggalkan Marissa sendirian di ruangan itu karena ia harus menidurkan kembali apa yang sudah di bangunkan oleh Marissa.


Marissa melihat sekelilingnya sepi tidak ada siapapun di sana dengan cepat ia mengelap air matanya dengan menggunakan tisu yang selalu ia bawa di dalam tasnya.


tenggorokan nya terasa kering kering setelah menangis namun ia tidak berani untuk mengambil minum di dapur apartemen milik vino, ia hanya melihat air minum vino di meja itu dengan cepat marissa pun meminumnya.


"kami sudah dua kali beradu bibir jadi tidak masalah kan jika aku meminum bekas bibirnya mungkin ini jadi yang ketiga kalinya kami beradu bibir" gumam Marissa sambil melihat gelas kosong yang berada di tangannya.


dengan cepat ia pun mulai menyelesaikan memilih dekorasi yang mewah namun nampak elegan, "ini bagus harganya juga cukup mahal cocoklah untuk sultan seperti tuan revan" dengan cepat marissa pun mengirimkan undangan pada kolega bisnis revan Lewat email agar lebih cepat karena resepsi ini sangat mendadak tidak ada banyak waktu lagi untuk menyiapkan surat undangan.


dan ia juga tidak mungkin membatalkan penerbangan nya esok hari untuk pulang kenegara ayahnya.

__ADS_1


"selesai, dimana pria itu kenapa dia tidak datang juga sudah hampir satu jam dia pergi" ucap Marissa sambil melihat jam menunjukkan tengah malam.


"apa dia marah padaku atau dia sudah tertidur lalu bagaimana dengan nasibku ini, aku sangat kelaparan sekarang" sejak sore Marissa Belum memakan apapun dan dia juga sudah melewatkan makan malamnya.


Marissa meletakkan kepalanya di atas meja berusaha untuk tidur untuk mengalihkan rasa laparnya, karena ia juga tidak mungkin keluar dari apartemen milik vino di jam malam begini.


ceklek


vino keluar dari kamarnya menggunakan pakaian santai dengan wajah segarnya dia harus menghabiskan waktu hampir satu jam untuk menidurkan adik kecilnya.


Marissa menatap vino yang berjalan ke arahnya, "bagaimana apa sudah selesai" tanya vino.


"lalu bagaimana dengan undangannya apa kau sudah mengirimkan email nya pada para kolega bisnis"


Marissa masih menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.

__ADS_1


"baiklah sisanya biar aku yang bereskan"


Marissa masih menganggukan kepalanya sebagai jawaban, membuat vino bingung dan mengerutkan keningnya.


"apa kau marah padaku" tanya vino sambil menatap wajah cantik alami Marissa.


Marissa menggelengkan kepalanya sebagai jawaban, vino yang melihat itu sedikit merasa kesal dengan tingkah laku gadis yang berada di hadapannya itu.


"bicarakanlah jika aku sedang berbicara dengan mu jangan seperti orang bisu yang hanya mengangguk dan menggelengkan kepala saat ada yang bertanya padanya."


suara perut Marissa menjawab pertanyaan yang di ucapkan oleh vino membuat Marissa sedikit malu karena nya.


"kenapa kau tidak katakan padaku jika kau lapar" vino pun langsung bergegas meninggalkan Marissa menuju dapurnya.


Vino memakai apron dan Mulai mengambil bahan-bahan yang akan ia masak.

__ADS_1


"apa benar dia bisa memasak" tanya Marissa dalam hatinya dan terus menatap vino yang terlihat cekatan memotong sayuran yang ada di hadapannya.


bersambung..


__ADS_2